Seiring berjalannya waktu, semua telah terlampaui. Begitu pengumuman kelulusan sekali itu juga SMP hendak menyelenggarakan ulangan. Itulah kesempatan mereka bertemu. Nasua pun menunjukkan nilai kelulusan.
"Wah hebat... Kakak lulus dengan nilai yang bagus. kalau aku... masih kalah jauh..." puji
"Ya... tapi itu kan cuma masuk sepuluh besar di sekolah. Kakak masih kalah dengan yang lain," ucapnya merendah
"Tidak apa-apa nilai sepuluh besar di sekolah. tapi nilai sikap dan hati kakak tetap nomor satu. bukankah itu yang terpenting."
Kirana menatap Nasua "Bukankah dunia kerja diperlukan juga nilai karakter orang disamping nilai sekolah."
"Pintar banget... siapa sih ngasi tahu..." puji Nasua
"Lupa ya...kan Kakak."
"Perasaan tidak sampai sejauh itu "
"Ya... itu nambah sedikit dari luar."
Nasua tertawa kecil. Kirana tersenyum bahagia melihatnya. Usi dibalik gorden yang tengah mengintip jadi sedih.
"Heehh... aku jadi iri lihat mereka, kapan aku bisa begitu... tidak berharap segera sih... tapi aku harap suatu saat bisa ketemu dengan orang pengertian dan bersikap baik," batinnya.
Lalu ia menghela nafas. "Manusia itu tidak sama dan tidak sempurna juga... yang penting sikap syanh baik. Walau tidak tampan dan tidak kaya. yang penting sikapnya... " batin Usi
"Oh ya... jadi rencananya kakak mau kerja kemana?" tanya Kirana
"Rencanya ke peternakan, tapi harus ada ijazah aku kan ngelamar disitu. Sementara aku kerja di toko dulu sambil menunggu ijazah," jelas Nasua
"Ya... terserah Kakak, yang penting kakak senang."
Suasana hening sejenak.
"Aku telah cerita tentang kamu pada ibu. katanya dia mau ketemu. Tapi kapan ada kesempatan bawa kamu kerumahku, ibu ingin lihat kamu Kirana," ucapnya dengan tatapan sedih
"Kenapa Kak kok kelihatannya sedih?" ucap Kirana
"Nanti biar ibuku yang cerita. Kira-kira ada kesempatan tidak? Soalnya ibu nanyain terus," ucap Nasua
Kirana berpikir. "Em... keyaknya lebaran."
"Kamu yakin, pasti kamu tidak diajak?"
"Tidak kak, tahun kemarin tidak ikut, soalnya aku itu pernah sakit gara-gara naik pesawat," ucap Kirana
"Pastinya di rumah kamu ada pelayan, kamu pasti tidak di izinkan keluar rumah."
"Ada sih pelayan, tapi semua itu palayan panggilan, cuma ada pas perlu."
"Kalau kamu di tinggal, siapa yang kamu ajak dirumah, kan tidak mungkin sendiri."
"Tahun lalu selama ditinggal, aku di titipkan bareng keluarga Usi."
"Tapi apa ada kesempatan untuk bawa kamu ketemu ibuku?"
"Pastinya lah ada" ucap Usi, mendadak muncul menghampiri mereka.
"Pasti ada selama H min tiga dan H plus dua, itu kan girian pegawai Muslim pulkam semua. Di TU pasti sibuk buat laporan para murid."
Usi berkayakinan, "Pasti ada kesempatan, enam hari itu ada satu hari dimana kalian punya waktu panjang, tapi cuma delapan jam. Jadi manfaatin waktu itu buat kalian pergi," ucap Usi.
Mereka sepakat, waktu berlalu, hari yang ditunggu tiba, mereka mengantar Kirana ke rumah Usi.
"Pak... bu... titip Kirana ya," ucap Marisa
"Iy abu... Kirana pasti aman ada disini," ucap Ririn
Setelah semua pergi, barang Kirana ditaruh dikamar Usi. Mereka pamitan. Kirana dan Usi melihat hingga kendaraan tidak kelihatan lagi.
"Akhirnya... bebas dari Marli..." ucap Kirana
"Shuuuttt... jangan keras-keras nanti kedengeran," nasihat Usi
Mereka masuk kedalam rumah. Wajah Kirana berseri-seri, ia bantu Usi bersih-bersih dirumah. Ririn terpaku melihat mereka.
"Bu... kenapa," tegur Danang, menengan pundak Ririn
Menoleh sejenak, "Tidak pak... ibu cuma lagi mikir Kirana itu aneh..."
"Aneh kenapa?"
" "Ya aneh... sama keluarganya sendiri dia itu tidak pernah kelihatan senang, nah disini malah kelihatan senang aneh kan?"
Setengah berbisik, "Sepertinya Kirana tertekan, pak Tena terlalu ketat dan kaku, itu yang buat tidak nyaman."
"Terlalu sekali, pak Tena itu!"
"Sudahlah Bu, suatu malam yang baik kita bisa buat Kirana merasa bahagia, selama ini dia sudah cukup menderita," ucap Danang
* * *
Hari berganti, hari besar umat Islam dimulai, malam Takbiran tiba dan suara beduk sangat jelas dengan solawatnya. Walau mereka berdua bukan Islam mereka menyambut sama meriahnya dengan yang lain. Mereka main bunga api dihalaman depan.
" Usi... walau bukan Islam lebaran kayak gini tuh lebaran banget buatku," ucap Kirana
"Maksudnya?"
"Islam puasanya lebaran nah aku... perasaanku yang lebaran bebas dari ketakutan, walau... tidak lama. Tapi aku bersyukur banget! Aku harap tiap tahun kayak gini."
"Ya... kalau kamu senang aku ikut senang, walau kamu dan aku tidak ada hubungan keluarga. kamu tuh sudah kayak saudara."
Merangkul Kirana, "Aku senang kalau saudaraku itu bahagia."
Kirana membalas rangkulan, "Makasi Usi... kamu memang baik. Semoga rasa persaudaraan ini akan berakhir apa pun yang terjadi."
Malam telah berganti pagi, dari luar kamar terdengar suara mengetuk pintu, mereka bergegas bangun.
Usi membuka pintu, wajah masih terlihat mengantuk, "Ya... bu..."
"Usi, Kirana... ibu mau berangkat dulu. seharian ini ibu tidak dirumah, ayah juga, maaf tiap tahun pasti seperti ini..." ucapan Ririn terpotong
"Iya... bu aku tahu," ucap Usi
"Oh ya... makanan sudah siap. kalau kurang kalian buat sendiri," ucap Ririn
"Iya..." sahut Usi dalam kantuk
"Hati-hati Bi," ucap Kirana
Usi kembali tidur. "Kalau mau duluan, duluan saja ngatuk..."
Tidak berselang lama Usi tidur pulas
"Dasar kebo... biarlah dia tidur," pikir Kirana
Seperti rumah sendiri apa-apa yang belum beres ia rapikan, lalu makan. Entah kenapa bayangan Nasua hadir.
"Kak Nasua... kapan kesini aku... udah kangen banget mau ketemu kakak, " batinnya
Setelah itu mandi. Usi baru niat bangun, lalu kedapur ia masih kelihatan ngantuk, tangannya tengah memegang phone cell. Lihat status sosmed. Usi menoleh keluar jendela tampak, Kirana sedang nyiram tanaman.