Telepon berdering beberapa kali, Nasua enggan mengangkatnya, raut wajah kalut. Seluruh kecemasan memenuhi diri, hingga tidak perduli sekitar, orang sudah banyak lalu lalang di lorong rumah sakit.
Pada telpon terakhir barulah diangkat. "Halo..." ucapnya lemas
"Halo... Kakak dimana dan kenapa lemas gitu ngomongnya?" tanya Kirana.
"Kakak lagi dirumah sakit, ibu... lagi di dirawat, paru-parunya sudah... sudah parah dan ibu... ibu sudah tidak sadar Kirana."
Kirana terkesiap, "Apa... Bibi dirumah sakit? kenapa kakak tidak bilang?" ucap Usi
"Maaf Usi, aku tidak mau ngerepotin atau membuat khawatir. Aku sudah pasrah sekarang, kalau Tuhan mau manggil Ibu," ucap Nasua
Kirana lemas mendengar segera Usi menahannya agar tidak jatuh. Lalu duduk diteras.
"Kakak kenapa tidak kasi tahu kita! Kita itu setidaknya harus tahu, apa lagi Kirana," ucap Usi
"Aku tahu tapi upaya apa pun sudah tidak berguna, ini sudah kehendak Tuhan."
Air matanya menetes, "Aku sangat sayang sama Ibu. jika Tuhan memanggilnya sekarang."
Air mata bercucuran, "Aku relakan dari pada melihat Ibu hidup menderita dengan penyakit seperti itu."
Menghapus air mata,"Kirana mana?" ucap Nasua
"Di sini dia tidak bisa berkata apa-apa selain nangis," ucap Usi
"Kirana... Kirana... dengar ini Kirana..." ucap Nasua
Usi memperbesar suara di phone call, "Ibu tidak minta kamu datang, kepermakaman atau nangisin dia."
Mengatur nafas agar tidak tersedu, "Ibu cuma minta kamu tepati janji kamu, hanya itu."
Kirana semakin sedih.
"Seberat apa pun nanti Kirana. kita harus kuat semua ujian dari Tuhan untuk menguatkan perasaan kita."
Mendengar itu, hati Usi terasa disayat oleh puluhan pisau, air matanya menetes tidak sadar
"Sesulit apa pun aku akan sanggup, selama cintamu tidak pergi. cuma itu satu-satunya sumber kekuatan hatiku," ucapnya dengan mimik sedih
"Kak... kenapa... kenapa harus kakak? Kenapa bukan aku saja... aku tidak sanggup lihat Kakak menderita... akan jauh lebih baik aku saja..." Kirana sedih
"Tidak Kirana, ini biar aku saja, tolong jangan sedih. kalau kamu sedih aku akan jauh lebih sakit lagi."
Menarik nafas, lalu dihela, "Aku tidak mau orang yang paling aku sayang sedih."
Dalam keadaan itu Usi tidak bisa berkata apapun.
"Maaf Kirana aku tidak bisa ada disaat begini, maafkan aku."
"Tidak Kak, Kakak tidak salah, ini takdir dan bagian jalan hidup," ucap Kirana tersedu
"Usi... tolong... tolong tenangkan Kirana."
Disaat menutup telpon, alat pendeteksi jantung itu menunjukkan garis lemah dengan segera Nasua memencet bel. Perlahan denyutnya terus melemah.
Ketika dokter dan suster tiba, denyut detak itu telah berhenti. Setelah diperiksa dokter, mendekati Nasua.
"Yang sabar dik... Ibu telah dipanggil Tuhan."
Air matanya menetes, "Ya dokter, lebih baik begitu sekalian saja perasaan saya sakit, dari pada melihat Ibu hidup menderita dengan penyakit itu," lalu menghapus air matanya
Bersama suster dan perawat ia membawa jenazah yang tertutup kain putih itu kedalam Ambulance jenasah. Pihak Kelurahan telah menunggu dirumah itu untuk mengurus semuanya.
Kirana masih tampak sedih, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bersandar pada Usi, mengelus-elus pundak Kirana, sekiranya bisa menenangkan. Di saat begitu kalimat apa pun tidak berguna.
"Kak Nasua... kenapa orang sebaik Kakak harus sengsarabegitu, aku tahu rasanya kak seperti apa kehilangan ibu. Tapi aku masih punya ayah, sedangkan Kakak keduanya sudah tidak ada," batin Kirana
Teringat ia akan kalimat tadi.
"Tidak aku tidak boleh sedih, aku tidak mau menambah kesedihan Kak Nasua, aku... aku harus tegar. aku harus bisa buat dia senang dia telah mendukungku sebelumnya. kini giliranku," tegas hatinya
Lalu beranjak dan sadaran, ia menghapus air mata.
"Aku ambilkan air dulu ya," ucap Usi
Kirana hanya mengangguk. Setelah kembali dengan segelas air, Usi memberikannya
"Ini"
Kirana ambil dan minum, perlahan perasaannya membaik.
"Pasti aku disalahkan Bi Warni kalau terus nangisin dia, aku tahu keadaan kak Nasua sekarang rasanya akubada dimasa lalu saat ibuku meninggal."
Kirana menghapus sisa air matanya, "Tapi tidak semua selesai dengan air mata kan?"
Menatap Usi dengan senyum tipis, "Bi Warni telah menitipkan kak Nasua kepadaku. aku harus menepatinya kan?"
Usi hanya mengangguk.