Agar tidak ngantuk mereka bercerita, yang membuat hanyut dalam rasa keedihan . Di saat itu cinta dan rindu mereka menggelora, bahkan sudah lama tidak komunikasi.
Badai itu adalah kesempatan bicara, pada awalnya begitu namun entah angin apa yang menghampas, mereka terhanyut dan hal itu pun terjadi.
Ketika tersadar dari tidur Nasua memandang sekitar, suara hujan masih terdengar ditambah kilat dan petir.
Di sisi lain Tena tengah resah memikirkan Kirana, badai belum berhenti ditambah mati listrik. Sambaran petir menghantam gardu, phone cellnya lobet tidak bisa dipakai.
"Kirana... kamu dimana, dirumah Usi, tapi firasatku berkata lain," ocehnya
"Yah jangan negatif, dia kan kerumah Usi pasti disana, lagi pula badai dan jalan masih banjir," ucap Marisa
"Tapi perasaanku tidak enak," ucap Tena
"Berdoa saja yah, Kirana pasti baik-baik saja."
Di tempat itu Nasua mendekap Kirana yang tidur dilantai, mereka satu selimut dari gorden.
Nasua tercengang ketika melihat pakaian bawah yang tercecer. Ia memeriksa keadaan dibawah selimut, dan itu membuatnya kaget setengah mati.
"Ya Tuhan... apa yang telah aku lakukan?"
Kirana pun terbangun.
"Ada apa Jak?"
"Apa yang telah aku lakukan?"
"Apa lagi kalau bukan bukti cinta Kakak padaku, jadi itu rasanya."
"Jadi kamu sadar, kenapa tidak menghentikanku!" "Aku tidak tega kak, apa pun akan aku lakukan agar kakak senang, biar kesedihan kakak hilang," ucapnya polos
"Ya Tuhan... apa yang merasukiku, sampai aku melakukan yang tidak semestinya."
Kirana mendekat dan memeluknya dalam keadaan duduk. "Kak aku telah menyerahkan diriku sepenuhnya, jangan tinggalkan aku ya... aku sayang banget sama Kakak."
"Tapi... ini salah, bagaimana... " terpotong.
"Kakak takut dengan ayahku atau undang-undang, kita melakukannya sama-sama suka Kak."
Memeluk Nasua erat, "Ayah pasti marah, tapi lama-lama dia sadar dan semua pasti akan memahaminya," ucap Kirana
Terdiam. "Bukan takut dengan ayahmu atau dengan hukum, tapi masa depan kamu, aku telah merusak masa depan kamu. Kalau kamu..."
"Jadi Kakak tidak mau tanggung jawab?"
"Aku berbuat, pastinya tanggung jawab, tapi bagaimana dengan kelanjutan pendidikan kamu kalau kamu sampai kenapa-napa."
"Masa depanku adalah cinta, apakah pendidikan perlu kalau perasaan cinta penguasanya-"
"Mungkin pendidikan selama ini adalah latihan mental kita untuk menghadapi kenyataan ini," ucap Kirana
"Kamu benar, tapi..." terpotong
"Kita pasti menghadap ayahku dan kita akan hadapi semua, aku tidak mau pisah dengan Kakak," ucapnya memeluk erat tubuhnya.
"Baik Kirana, tapi selesaikan pendidikan SMP, kalau kamu kenapa-napa aku siap menikahimu dan menanggung semuanya."
"Makasih sayang..."
Mendengar itu perasaan Nasua terasa terbang dan memeluknya. "Kak... semua sudah terlanjur, boleh aku memintanya sekali lagi agar aku bisa mengingatnya dengan jelas."
Matanya memandang memelas. Nasua tidak kuasa dan mengabulkan permintaan itu. "Lagi pula sudah terlanjur basah, sekalian saja mandi, lagi pula aku sangat mencintai kamu, mungkin ini caranya agar kita bisa bersama," batinnya
Mereka melakukannya lagi bahkan lebih lama dan lebih menggelora lagi, badai masih diluar.
Tena semakin tidak tenang, setelah badai selesai barulah mereka akan bergerak. Keadaan alam yang extreme itu, masih, perlahan hujan mereda namun jalanan dan sungai masih deras mengalir airnya, matahari mulai terbit.
* * *
Mereka segera bergegas, menuju rumah Tena. Ketika sampai didepan rumah tampak sebuah mobil hendak keluar, mereka semua turun, Tena terlihat kesal.
Tena, Marisa dan Marli turun dari mobil.
Muka Tena memerah, "Siapa dia Kirana! Beraninya kamu bersama laki-laki tanpa seizin ayah."
"Paman jangan marahi Kirana, biar saya jelaskan," ucap Nasua
"Alah..."
Langsung menampar keras wajah Nasua hingga ia bergeser dari posisinya berdiri.
Kirana sangat terkaget, ia mendekati Nasua, namun ditahan oleh Tena.
"Sini kamu!" sambil menyeretnya
"Paman jangan apa-apakan Kirana, saya yang salah," ucap Nasua
"Diam kamu!" teriaknya
"Aku tidak perlu penjelasan darimu... enyah dari hadapanku!" tegas Tena
Kirana menatapnya penuh harapan. Dalam tangisnya, ia hendak melepaskan cengkeraman Tena, namun tidak bisa.
Marisa merasa kasihan, "Nak sebaiknya kamu pulang dulu, Paman marah besar, saat begini dia tidak akan mau dengar apa pun, sebaiknya besok kamu kesini dan jelaskan semuanya."
"Baik Bibi... tolong sampaikan pesan saya agar Kirana sabar menunggu sampai paman berhenti marahnya, katakan saya akan tepati janji saya," ucapnya
Lalu ia pun pergi. Kirana terus diseret hingga kekamarnya.
"Kamu sudah berani menentang ayah, kamu sama bandelnya dengan Kurnia kakakmu, kamu tega sekali menjadikan Usi kambing hitam!" ocehnya
Kaki cepat melangsingkan, lalu pintu kamar dikunci rapat, sambil menangis ia melihat keluar jendela, Nasua tidak terlihat disana. Tena turun keruang tamu. Ia masih kelihatan marah.
Marisa mendekat. "Dasar tidak tahu diuntung anak macam apa dia."
"Ayah..." ucap Marisa sembari memegang pundaknya dari belakang
"Ayah sudah ya... jangan marah-marah lagi "
"Bagaimana tidak Marah, Kirana melanggar ketentuan, pasti semalam dia tidak dirumah Usi, pasti sama laki-laki itu!"
"Kalau itu tidak ada yang tahu selain mereka, pastikan dulu Yah."