Pertama kalinya Usi terlihat semarah itu, tapi apa daya Kirana sudah ada berbuat salah. Setelah cukup lama akhirnya Nasua sampai dirumah sakit. Setelah keluar parkiran ada dua orang preman menghadangnya.
Nasua disergap, kedua tangannya di kunci kebelakang. Lalu Tena muncul
"Kamu kurang ajar beraninya berbuat mesum dengan anakku, perbuatanmu tidak bisa dimaafkan!"
"Maafkan saya, tapi saya sangat mencintai Kirana, saya bersedia tanggung jawab paman."
"Aku tidak butuh tanggung jawabmu. Kamu telah merusak masa depan Kirana. Orang seperti kamu pantasnya dimukum!"
"Tapi... tapi..." terpotong
"Bawa dia ke kantor Polisi!"
Nasua diseret ke Kapolres yang tidak jauh dari rumah sakit umum. Disana ia diperiksa dan menjawab jujur semua pertanyaan petugas diruangan itu.
Usi dan Kirana tampak gelisah. "Lama banget tuh orang," keluh Usi
"Coba telepon, siapa tahu sudah sampai," ucap Kirana.
Nasua masih diminta keterangan. Hpnya sudah berdering beberapa kali. Ia ragu mengangkatnya.
"Saudara Nasua, anda boleh terima telepon sekarang," ucap petugas
"Makasi pak"
"Halo Usi ada apa?"
"Nanya apa! Sekarang dimana!"
"Di kantor Polisi, di parkiran tadi ayah Kirana dan anak buahnya nyeret aku kesini. maaf dan kayaknya akan ditahan," ucap Nasua lemah "Apa...!" Usi kaget
"Maaf ya... aku mau diintrogasi lagi,"ucapnya lalu ditutup.
"Bagaimana Usi?" tanya Kirana
"Ayahmu bawa Kak Nasua ke Polres."
Mendengar itu Kirana segera turun ranjang dan berlari secepat mungkin. Ia tidak pandang arah. Marisa dan Usi mencoba mengejar namun kalah cepat.
Disisi lain.
"Kenapa anda berani berbuat seperti itu?" tanya petugas
"Saya sayang mencintai Kirana. Saat itu kami sama-sama kalap jadi..." terpotong
Tena hendak menghajar Nasua. Namun ditahan petugas.
"Silahkan lanjut," ucap petugas.
"Yang pertama saya tidak begitu ingat. Tapi yang kedua saya ingat dan sadar melakukan hal itu."
Amarah Tena memuncak namun tidak dapat berbuat.
"Kamu....!" teriaknya
Lalu mendekat polisi itu. "Tolong katakan pasal apa yang pantas untuk orang ini, perbuatannya tidak bisa dimaafkan!" ucap Tena.
Polisi itu pun menghiburkannya.
Nsua begitu pasrah, "Aku memang salah, memang pantas dihukum. tapi bagaimana kalau..." kalimat hatinya terhenti ketika ada derap langkah masuk.
Semua terkejut melihat Kirana yang ngos-ngosan.
"Ngapain kamu kesini!" ucap Tena
Harusnya aku yang tanya kenapa ayah bawa Kak Nasua kesini! Tanpa sepengetahuanku!" ucap Kirana
"Diam kamu, anak dibawah umur tidak pantas bicara!"
Petugas menggelengkan kepala, ia sangat paham kenapa anak perempuan itu berbuat tidak pantas dan merusak diri.
Menunjuk Nasua, menatap tajam Kirana.
"Orang seperti dia tidak pantas dibiarkan bebas dan kamu tidak ada hak menuntut. Kamu itu dibawah umur!" ucap Tena
Kirana semakin kesal.
"Pak bisakah saya bicara?" ucap Kirana
"Silahkan," ucap petugas
"Aku memang dibawah umur. Kak Nasua maksa, saya yang minta," menatap petugas biasa
Nafas Kirana memburu.
"Aku muak dengan pengkangan ayah. Kalau dia tidak ada, apa hal baik yang aku tunjukkan kemarin itu bisa dilihat dengan mata ayah. Seluruh keberhasilan itu karena karena dia!" tegasnya.
"Kamu tidak ada hak bicara disini!" tegas Tena
"Pak... mohon maaf, biar kan korban bicara," ucap petugas
"Perlu bapak tahu, orang tua yang saya sebut ayah itu pelanggar HAM. Saya dilarang tidak boleh bergaul, komunikasi dengan tetangga ataupun kebebasan di media sosial tidak di izinkan," ucapnya geram
"Bahkan salah sedikit saya dimaki dan ditampar dan disuruh di kamar. Saya hampir gila ditambah teman-teman enggan dekat, karena kekolotan orang tua itu!" ucapnya lalu menunjuk
Tena mau mendekat, namun ditahan dua anggota Polisi. Ia mencoba melepaskan diri, melihat tanda bahaya.
"Bung tolong bawa bapak ini keluar," perintah petugas. Setelah diseret keluar ruangan.
"Baik adik sebagai korban bisa beri kami keterangan?"ucap petugas
"Iya pak"
Lalu duduk, "Pak saya dan Kak Nasua saling mencintai, mungkin kami terlihat seperti anak-anak, tapi kami serius dan komitmen Pak."
Mata Kirana berkaca-kaca, "Apa yang kami lakukan atas rasa cinta. Tidak ada pemaksaan, bahkan saya yang minta, padahal Kak Nasua enggan pak. Salahkah salah perasaan cinta kami ini? Dan orang tua itu bawa Kak Nasua tanpa saya ketahui' jelas Kirana.
Setelah selesai mencatat. "Kalau masalah cinta itu anugrah Tuhan. Tapi kalau melakukan hubungan dibawah umur dengan orang diatas umur seperti saudara Nasua. Pasti kena hukum pidana, apa lagi orang tua adik tidak setuju, dan masih tanggungan orang tua," jelas petugas
Tatapan serius, "Kalau saja umur sama seperti saudara Nasua kasus semacam ini tidak langsung bisa di urus Polisi, tidak bisa masalah ini di pidanakan,"jelas petugas
Lalu dijelaskan aturan dan pasalnya.
"Seperti yang saya katakan tadi. saudara Nasua kena pasal, penculikan, persetubuhan dan pemaksaan anak dibawah umur."
Kirana terkesiap, Nasua tertunduk, apapun yang dilakukan tidak berguna.
"Walau ada dasar suka-sama suka tapi adik masih dalam tanggung orang tua. Kalau orang tua adik menuntut maka itu yang akan memberatkan saudara Nasua."
Tampak rasa sedih dan bersalah membelengu Kirana. Ia memandang Nasua yang tertunduk dengan rasa bersalah, ingin menangis tapi tidak keluar air mata.
"Saya sangat memahami, tapi aturan dan keadaan yang tidak memungkinkan. Kami sebagai Polisi hanya mengayomi masyarakat tidak bisa berbuat lebih karena itu diluar ketentuan kami," ucap petugas penuh penyesalan
"Tidak apa-apa pak, saya tahu saya salah, saya akan taati aturan, jika dengan itu tidak ada keributan, saya sudah pasrah sekarang," ucap Nasua
"Lalu bagaimana kalau aku sampai hamil dan kelak tidak ada, siapa yang jadi ayahnya nanti, apa kah kakak akan biarkan kalau itu terjadi?" ucap Kirana
"Sudah aku katakan aku mau tanggung jawab, tapi aku harap tidak. Kamu harus menggapai impian kamu," ucap Nasua
"Aku tidak mau apa-apa Kak. Cuma kakak," ucap Kirana
"Kirana... kalau kamu sayang padaku, aku mohon terima keputusan yang ada, aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Mimiknya sedih, "Aku sangat sayang sama kamu Kirana. Keadaan yang tidak akan memungkinkan. Kalau aku tidak dapat restu ayahmu aku rela di hukum, demi kamu," ucap Nasua menitikkan air mata
Kirana pun ikut menangis.
Polisi itu merasa iba, namun itu diluar ketentuan nya.
"Mohon maaf saya tidak bisa apa-apa, tapi... kalau seandainya terjadi dan dituntut lima belas tahun dan dikabulkan hakim, ada caranya agar bisa bebas lebih cepat," ucap petugas
Mereka menatap Polisi itu. "Berbuatlah baik dan tidak melanggar saat ditahanan. saya punya seorang teman sama seperti ini tapi hukumnya lima tahun dia baik saat ditahanan, dia dapat keringanan dan bebas dalam waktu tiga tahun."
Polisi itu sedikit bercerita tentangborang yang di maksud. "Setelah bebasnya, ini ibu si perempuan yang tidak setuju meninggal, akhirnya mereka nikah dan hidup bahagia sekarang."
Polisi lain ikut menguatkan.
"Saya paham kalau kalian serius saya hanya bisa bantu doa agar kalian bisa bersama nanti."
Sedikit sedih, "Tapi masalah hukum saya tidak punya kewenangan. sekali lagi kami minta maaf," ucap petugas
Waktu sudah habis. Tena kembali dengan dua Polisi itu.
Intimidasi di lontarkan, "Kirana... sekarang keluar atau orang ini akan ayah tuntut seumur hidup!"
Kirana keluar dengan cucuran air mata.
"Jadi pak berapa lama fonis untuk orang ini?" ucapnya
"Sesuai hukum lima belas tahun" ucapnya.
"Lima belas tahun..." Tena terlihat tidak puas
Menunjuk Nasua, "Kau tahu hukuman itu tidak sebanding dengan perbuatanmu. tidak ada restu sampai kapanpun!"
Nasua mencoba untuk bicara, tetapi dicegat, "Kalau Kirana kenapa-napa ada yang bersedia menikah dengannya yang pasti bukan kamu, sudah yatim piatu, miskin lagi!" hinaanya
Itu menyakitkan dada Nasua, tapi apa daya dia tidak bisa apa-apa, ia pasrah walau sedikit ada rasa cemas.
Besoknya mereka telah siap untuk menuntaskan kasus dipanggilkan, tidak menyertakan Kirana.
Setelah serangkaian pertanyaan fonis dijatuhkan lima belas tahun itu. Hakim iba dengannya karena begitu polos dan taat.
Setelah selesai di halaman pengadilan Tena tepat ada disamping Hakim. Hakim merasa bersalah karena menjatuhkan fonis yang begitu berat.
"Maafkan saya nak, saya hanya menjalankan tugas. saya hanya mau aman dari preman-preman orang ini."
Sedikit senyum, "Jikas sudah dinyatakan bebas menurut hukum,saya janji setelah akan meberi kamu pekerjaan, ucap hakim."
"Makasi pak"
Lalu naik mobil tahanan menuju penjara. Tena sangat heran denga Hakim dihadapannya
"Kenapa kasihan kepada orang seperti itu?"
"Pak Tena, dia bukanlah mafia, penipu atau bandar obat terlarang. hanya dia kena nasib sial, ini benar-benar menggelikan," ucap hakim dengan senyum tipis
Mendengar itu Tena makin heran.
"Apa maksud anda?"
"Anda orang yang berpendidikan harus tahu ini, kalau memisahkan orang yang saling mencintai itu dosa besar, walau mereka hanya anak-anak bagi Anda, pikirkan lagi sebelum terlambat pak Tena," ucapnya lalu pergi
Namun hal itu tidak merubah pendiriannya. Dua hari berlalu, Kirana kembali sekolah, namun wajah cerah tidak ada lagi. Hanya Usi yang tahu penyebabnya, Kirana kembali seperti dulu.
"Kirana..."ucap Usi sambil memegang pundaknya
"Tidak apa-apa Usi. Aku harus mikirin ujian, aku harus lulus, aku tahu kamu kasihan padaku. Tolong jangan ajak aku bicara selain pelajaran," pinta Kirana
"Baiklah"
* * *
Kirana selalu diantar dan dijemput oleh pengawal. Tiga bulan berlalu. Ujian akhir dilakukan dan ada jeda dua hari setelah ujian. Kirana mulai aneh wajahnya lebu, tapi ia sembunyikan.
"Kirana kamu kenapa?"
"Tidak cuma rasanya tidak enak tapi aku baik-baik saja."
Usi curiga, pada esoknya ia memintanya untuk tes urin dengan test pack yang dibelinya.
"Kirana... ini ada alat tes urine, mau pastikan dugaanku salah atau tidak, nanti selesai berikan padaku."
Kirana lakukan di toilet sekolah, di alat itu naik dua strip, tapi ia tidak paham maksudnya karena bukan ahli dalam hal itu. Diam-diam ia perlihatkan pada Usi.
"Oh Tuhan... ucap Usi memengan tes pack.
"Kenapa Usi?"
"Pantes saja..."
Lalu berbisik. " Kamu lagi hamil Kirana, strip dua itu positif, jujur kamu berbuat itu dengan siapa?"