Kardi memandang Kirana serius, "Nak, katakan jujur agar saya tidak salah mengambil tindakan."
"Baik paman. saya sekarang lagi hamil, tapi bukan dia yang buat saya hamil."
Tena menghardik, "Ini suaminya jadi siapa yang buat dia hamil dia yang nikahin,"
Bagas memasang tampang percaya diri.
"Diam...!" teriak Kirana
"Paman bisa mulut orang sini dibungkam."
Kardi memberi isyarat, para Polisi itu menodongkan pistol.
"Walaupun pelor karet, lumayan juga buat kalian ada di rumah sakit," ucap Kardi
Mereka semua melotot. "Heh apa..... mau protes, kalian pikir saya ini pengacara biasa, semua orang penting di Indonesia hormat sama saya, buat kalian semua di perjara itu gampang." gertaknya.
Menatap Kirana, "Nak, ayo lanjut lagi," ucap Kardi
"Saya dipaksa nikah sama orang itu, saya tidak berdaya sekarang. saya dibawah umur pengadilan memenangkan orang tua itu dan memenjarakan ayah kandung bayi ini yang bernama Nasua Kelana, yang itu bukan Nasua Kelana tapi Bagas,"
"Saat ditahan Kak Nasua bilang saya harus hormat dengan keputusan orang tua, meski sudah disakiti dia masih hormat dengan orang tua itu!" ucapnya sambil menangis dan tegar.
"Walaupun saya sudah hamil sekarang, keras kepala orang tua itu tidak hilang. paman tahu orang seperti dia itu gengsi kuadrat, bodohnya pakai buat perjanjian dengan orang itu," menunjuk Bagas
"Sudah jelas-jelas yang hamilin saya mau tanggung jawab, selama ini saya ditolong, kalau bukan karena ajaran baik Nasua saya pasti sudah bunuh diri sama seperti kakak saya. Tapi kalau itu terjadi warisannya akan pindah tangan." ucap Kirana lantang
Kardi menatap tajam Bagas dan Tena.
"Coba lihat orang itu, memang kelihatannya baik, tapi hatinya belum tentu, paman pasti jauh lebih berpengalaman pastinya lebih tahu, kalau Nasua tidak mau buat rusuh dan memperkarakannya panjang."
Mengepalkan tangan, "Kalau urusan mau bela diri itu gampang Kapolda dan pengacara terbaik di provinsi ini bahkan Bupati dan Gubernur dekat dengan dia karena kebaikan almarhum bapaknya."
Menghela nafas, kepalan tangan melemah, "Dia tidak mau ribut dan mempermalukan orang tua ini. Kurang hormat apa lagi, yang lain pasti sudah memperkarakan," ucap Kirana.
Marisa tidak bisa berkata apapun, Arnike bertahan menahan tindakan dan kata-katanya.
Kirana menangis tertahan, "Saat itu saya belum hamil dia titip pesan sama saya untuk tidak jadi pembangkang dan anggap semua hutang karma yang harus dibayar."
Air mata tidak bisa ditahan lagi, "Gara-gara akibat keputusan bodoh yang akan menyengsarakan anak ini, alasannya yatim piatu, menurut saya Kak Nasua lebih layak bersama saya ketimbang pilihan orang tua itu."
Air mata dihapus dengan tangan, "Saya percaya semesta akan bertindak adil. Orang yang sikapnya rendahan akan miskin dan orang miskin sikapnya setinggi gunung, kekayaan pasti mengikuti," ucap Kirana menahan tangisnya.
Kirana menghela nafas, dengan senyum, "Paman kalau tidak ada hal baik yang saya rasakan, mungkin saya akan bertindak bodoh."
Bagas terlihat menahan marah, sedangkan Tena melotot tajam.
"Jika saya membela diri, pasti akan berdebat. Saya mau lihat siapa sesungguhnya yang akan diseleksi alam. Saya tidak mau anak yang lahir nanti jadi temperament, saya tidak mau sifat-sifat buruk keluarga ini diwarisi apalagi kesedihan dan ego."
Ucapan Kirana sangat menusuk, Teno tampak kaget tapi ujung senjata di pelipis itu menahannya.
"Jadi biarkan saya menjalani hidup yang diatur orang tua ini, saya mau lihat siapa yangvhebat orangtua itu atau ketentuan alam."
"Oh ya boleh saya titip tabungan, rasanya tidak aman kalau saya pegang jadi sebentar saya ambil."
Setelah cukup lama Kirana kembali, menyerahkan itu kepada Kardi.
"Paman... ini boleh ada lima belas juta, tolong amankan saya percaya paman. Karena Kakek percaya saya juga percaya," ucap Kirana
"Baiklah, kapan kamu mau ambil." ucap Kardi
"Nanti jika keadaan aman dan umur saya sudah daru cukup. Kalau ada apa-apa dengan saya dan berurusan dengan hukum boleh minta bantuan?"
"Tentu... dan gratis, mau sampai ketingkat hukum di negara ini saya siap."
"Baik, makasi paman, bukannya marah tapi saya harap paman pulang, saya ingin sendiri saat ini," ucap Kirana
Tanpa kata Kardi pergi, isyarat ia perlihatkan para Polisi, mereka mengikutinya keluar.
Tena terlihat kesal. "Ayah... dengar tadi, kalau sampai kenapa-napa urusannya dengan hukum, aku tidak ikutan dan aku tidak mau buat Kirana sengsara," ucap Marisa lalu pergi.
* * *
Usia kandungannya bertambah, perutnya sudah kelihatan membesar. Saat lewat diruang tamu, tampak Marli pamer mengenakan pakaian putih abu-abu.
"Ih... lihat saja nanti, seberapa hebat kamu jadi murid SMA," batinnya
Terbersit dalam hatinya. "Oh ya... aku lupa aku lagi mengandung pengaruh external yang buat kesal dicuekin saja. dia sudah ngeluarin buang," melangkan ke sisi lain
"Kalau aku pusing dengan masalah uang. Aku sudah mandiri sudah punya lahan menghasilkan. sekolah tinggi-tinggi akhirnya kerja, aku sudah kerja sampai dia lulus kerja aku sudah punya usaha dan dia baru cari lowongan kerja, merintis juga. ini kayak sinetron alay..... ah biar lah waktu yang ngomong," batin Kirana
Lalu pergi. "Kirana... mau kemana?" tegur Marisa
"Mau kesawah Bu, tadinya sekarang panen, aku mau kesana."
Datang Tena, "Ngapain kesana. sudah ada yang urus, lagian," kalimat itu terpotong
"Memang, Ayah saja tidak aku percayai, apa lagi orang lain."
Tiba-tiba Bagas datang. "Biar aku yang antar."
"Siapa kamu?" ucap Kirana tegas
"Kamu lupa, dia suamimu." tegas Tena
"Kapan? Itu keputusan Ayah bukan aku. sampai mati pun dia tidak akan pernah jadi orang penting, ingat itu perjanjian kalian. Di umur sekarang kalian bisa menindasku, tapi ingat, bom waktu tidak lama akan meledak," ucap Kirana
Mereka tampak kesal. "Kalau ibu yang antar bagaimana?" tawar Marisa
"Kalau Ibu boleh, aku jijik sana orang kayak mereka."
Setelah mereka pergi, Bagas mengutarakan niatnya.
"Ayah boleh aku bicara." ucap Bagas
Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Apa?"
"Maaf bukan apa aku cuma merasa tidak enak tinggal disini, terlebih Kirana padahal aku sudah coba baik tapi tetap gitu."
"Lalu?"
"Kalau boleh aku ajak dia tinggal di tempatku, kayaknya dia belum terima, apa karena ini rumahnya sendiri."
"Oh masalah itu, sabar dulu."
Tena menangkap sesuatu, "Apa kamu mulai ada rasa dengan Kirana?" ucap Tena.
Bagas terdiam. "Rasa muak dan kesal, kalau masih disini susah memeras kamu orang sadis." batinnya
"Ya tapi dikit... salah ya...." ucapnya pura-pura
Tena meliriknya, "Em tidak, wajar itu. Aku paham, pasti kamu malu numpang disini, tapi keadaan Kirana masih labil, ya sabarlah sampai dia selesai melahirkan dan anaknya berumur setahun. kalau masalah tempat tinggal sudah aku siapkan."
Setelah keadaan sepi di rumah itu, "Bagas bagaimana?" tanya Arnike
"Belum Bu, nunggu sampai anaknya setahun, baru nanti bisa pergi, lama banget, sampai kapan pura-pura begini," keluh Bagas.
"Sabar dulu, kamu tahu disini anaknya perlu banget orang tua, kesempatan saat itu. Ibu buat anak haramnya itu senjata memeras Tena, sekarang beri kesan baik." jawab ucap Arnike
"Ya." jawabnya letus.
* * *
Waktu berlalu kini Kirana mulai ada tanda-tanda mau melahirkan. ia merasakan gelisah dan mules yang menjadi-jadi. Bagas beraksi.
"Kirana... Kirana... Kamu kenapa...?" tanyanya
Saat ke kamar itu membawakan makanan.
"Jangan sok perduli!" ucapnya ketus sembari menahan sakit
"Ibu... Ibu..." teriak Bagas
Mertua dan ibunya datang.