Waktu berlalu, mereka sangat bersabar untuk kesempatan itu. Di lahan pertanian itu hanya ada Kirana dan Kina, Kirana bersandar di pohon cempaka.
Teringat ia akan Nasua, mereka menanam itu bersama, terlintas juga janji indah mereka.
"Kak Nasua, kapan mimpi itu terwujud," batinnya.
Tiba-tiba ada yang membelapnya dari belakang, begitu tersadar ia sudah ada didalam mobil dan terikat. Kina terlihat tidak sadar, di depan ada dua orang.
"Sudah sadar?" ucap Arnike
"Kalian!"
"Kamu ingin anakmu itu selamat turuti kami," ucap Bagas
"Ancaman kalian tidak akan mempan," ucap Kirana meronta
"Lihat ini," ucap Arnike menunjuk kelelawar hidup dalam kandang, dalam tabung jarum suntik terdapat cairan.
"Ini racun, sekali suntik, pasti mati seketika."
Kirana terdiam.
Lalu disuntikkan ke kelelawar itu sedikit, dalam beberapa detik binatang itu mati.
"Dan kalau dipraktekkan kemanusi bagaimana?" ucap Bagas
"Itu yang bagus," ucap Arnike
Saat hampir mengenai Kina.
"Apa yang kalian inginkan!"
Senyum jahat mereka tidak disembunyikan.
"Kami mau anak darimu," tegas Bagas
"Apa?" ucapnya
"Oh... kita praktekkan saja," ucap Arnike
"Baik... baik... tapi jangan apa-apakan anakku," ucap
Kini mereka pulang, sebelum turun dari mobil.
"Kalau sampai terlihat terpaksa di CCTV, abis anakmu," ancam Arnike.
Arnike menggendong Kina membawa kerumah sebelah. Sedangkan Bagas dan Kirana masuk kamar. Dalam kamar itu Kirana menutup mata dan meneteskan air mata.
"Tuhan, Kau tahu keterpakasaan ini, bila suatu saat Kak Nasua tahu katakanlah ini adalah keterpakasaan," batinnya.
"Kak Nasua... maafkan aku berkhianat, tapi ini keselamatan anak kita, maafkan aku," teriak batinnya.
Hal itu pun dilakukan.
Perasaan Nasua tidak enak, ketika mengepel area Lapas.
"Kenapa perasaan tidak enak?" batinnya
Ada seseorang menyenggolnya, hingga terpleset dan jatuh, jari manis berisi cincin itu terbentur di sudut tembok. Sakitnya bukan main dirasakan, lalu bangkit sembari memegangnya.
"Tuhan... pertanda apa ini semoga bukan hal buruk... Tuhan lindungilah Kirana dan anakku..." doa batinnya.
* * *
Tiap malam harinya selalu sedih dan selalu meneteskan air mata.
"Aku telah gagal menjaga kesucian cinta ini, aku telah ternodai oleh orang itu," batinnya.
Diluar tampak kilat dan petir menggelegar, tanda akan turun hujan, namun hal itu tidak membuatnya melupakan kesedihan.
"Kalau itu Kakak aku akan menerima."
Perasaan Kirana sangat hancur. "Nasih pantaskah aku mengharapkan Kakak, disaat diriku telah ternodai, aku tidak bisa menghapuskan perasaan ini, disini masih ada Kakak," batinnya
Lalu ia memandang foto itu.
"Cuma ini, cuma lewat ini aku bisa melepas kerinduan dengan Kakak, sampai mati pun aku akan tetap mencintai Kakak, entah bagaimana nanti dengan Kakak. Aku tidak bisa,tidak akan pernah bisa mencintai yang lain, selain Kakak," ucapnya dihadapkan foto itu.
Air matanya mengucur deras, hujan lebat seakan ikut bersedih atas semua yang terjadi, kilat dan petir seakan perwujudan amarah hatinya atas perlakuan tidak adil itu.
Matanya tertuju pada Kina yang tertidur pulas, "Kina... maafkan Ibu nak, Ibu benar-benar tidak berdaya, cuma kamu satu-satunya yang Ibu punya saat ini, cuma kamu lah alasan Ibu tetap hidup, jadilah anak yang baik seperti harapan ayahmu, nak," ucapnya membelai wajahnya, lalu mencium keningnya.
Bagas tidak berhenti hingga Kirana hamil, setelah berlalu tiga bulan, Kirana mulai merasa ada yang aneh, ia mulai merasa lemah. Tapi tetap ia paksakan untuk bekerja, ia ikut bekerja di sawah itu untuk ditanami, bersama sejumblah buruh.
Hari saat itu begitu panas, walau awan menyelimuti. Ia merasa sangat lemah, pandangannya mulai kabur dan ia pun jatuh pingsan. Ketika sadar ia telah berada di UGD Puskesmas.
"Jadi Kirana hamil?" ucap Tena disebelah gorden.
"Ya... itu sudah masuk satu bulan, jadi tolong dijaga baik-baik," ucap Bidan
"Aku tidak sangka kalau omongannya kemarin itu omong kosong," ucap Tena
"Namanya juga lagi kesal ayah, buktinya itu, kalau tidak suka, tidak mungkin hamil," ucap Bagas
"Bagus lah kalau begitu berarti aku tenang, sekarang orang itu tidak akan mengganggu keluargaku lagi."
Mendengar itu Kirana kesal, teringat ia akan ajaran guru sewaktu SMP.
Jabang bayi dalam kandungan itu tidaklah dosa, walau pun hadir tanpa rasa sa cinta. Dosa bila sampai diakhiri, karena jabang bayi ibarat seorang Pertapa.
Marahnya berubah jadi sedih. "Nak kenapa kamu hadir dalam penderitaan begini, kau tahu kamu dijadikan alat oleh ayah dan nenekmu, aku mohon jangan lahir dariku dan hidup lama. Kasihan kamunya nanti," batin Kirana
Lalu gorden pun perlahan dibuka, Kirana memejamkan mata, mereka menunggu termasuk Kina dan Marisa.
"Ibu kok lum ayun..." ucap Kina
"Tunggu dulu, ibu lagi capek, jadi masih bobok," ucap Marisa
Setelah cukup lama Kirana membuka mata, mereka senang atas keadaannya. Pandangannya pada Bagas, saat itu ia ada dibelakang, tanda isyarat ia perlihatkan.
Menunjuk Kina dan mengisyaratkan mati, jika mengatakan kebenaran, anak itu celaka. Kirana hanya diam.
"Begini lebih baik, dari pada ngarapin orang seperti dia itu, kan sudah ada yang jelas didepan mata seperti Bagas, ayah yakin dia bisa suami yang baik buatmu," ucap Tena
Tatapannya biasa tapi hatinya penuh amarah. Marisa menaruh curiga, terlebih selama ini tidak berhubungan baik dengan Bagas.
"Kenapa aku menaruh kecurigaan, aku tahu Kirana dia bukan tipe orang yang mudah merubah pendirian, pasti ada sesuatu. Tapi aku tidak berani menuduh karena tidak ada buktinya, tapi firasatku bilang ada yang janggal, mudah-mudahan tidak. Seandainya benar, waktu yang beri tahu kebenarannya nanti," batin Marisa
Kirana melihat dalam diam Marisa ada pikiran yang berkecamuk.
"Ibu tolong Bu... apa yang dikatakan itu tidak benar, kami dijadikan alat Bu..." teriak batin Kirana
* * *
Seiring waktu kandungannya membesar, Bagas dan Arnike mulai menyindir Kirana agar tampak salah. Sindiran sering diucapkan dan mengundang amarah, sehingga Kirana terlihat menyerang.
Tiap tampak marah kalau tidak Bagas, Arnike yang mendekat. Kirana sering lari kedalam rumah dan menutup pintu.
"Saat ini kalian bisa buat drama di CCTV, tapi alam yang akan mengatakan niat buruk kalian itu, lihat saja nanti!" ucapnya kesal.
Bagas mengatakan Kirana selalu ngambek, kalau alau keinginan tidak di perbolehkan. Kirana yang diminta serba mahal, padahal hanya ngidam buah mangga muda dan dengan makanan luar.
"Nanti uangnya ditransfer ya, mau bagaimana, yang penting kalian tidak ribut malu dengan keluarga," ucap Tena
"Iya makasih yah."
Setelah telepon diakhir
"Bagaimana?" tanya Arnike
"Dia percaya, tinggal tunggu transferan..." ucap Bagas senang
"Jadi ibu bisa shopping dan kamu bisa senang-senang," ucap Arnike
"Ya... mabok sampai puas," lalu tertawa.
Di sisi lain Kina mulai menyadari keadaan di rumah itu, "Bu... bapak mana?" tanyanya
Kirana hanya diam.
"Orang bilang aku tidak punya bapak."
Kirana tidak menggubris