Setelah mengetahui kebenaran yang terjadi, Nasua tidak berniat berpaling lagi. Karena secara nyata dia sudah memiliki seorang putra.
Usi selalu mencari informasi tentang kondisi Kirana dan Kina, putranya Naswa.
"Aku hanya bisa menyampaikan saja. Kalau di lubuk hati terdalam, Kirana masih ada Kakak."
Mata Usi berkaca-kaca, "Tapi sayang sekali dia itu terjerat oleh seorang yang bernama Bagas. Dia bukan suami yang baik. Dia sering sekali menyakiti Kina selama ini.'"
Mendengar ucapan Usi yang seperti itu membuat hati Nasua seakan teriris-iris. Dia tidak bisa berkata apapun selain diam.
Setelah cukup lama, "Baiklah, sekarang aku akan jalani hidupku."
"Apa Kakak akan mencari penggantinya Kirana?"
Nasua menggeleng pelan. "Tidak, aku akan bekerja dan menjadi orang yang berhasil demi putraku. Karena satu-satunya alasan untuk aku berjuang adalah putraku, Kina. Walaupun secara kenegaraan aku tidak tercatat sebagai ayahnya dia."
Hati Usi seakan remuk mendengar pernyataan tulus dari Nasua. Cinta tulus seorang ayah, tidak pernah berkata, tetapi berlaksana.
Nasua masih mempunyai perasaan mendalam terhadap Kirana. Namun keadaan yang membuat mereka terpisah.
* * *
Hingga suatu hari, ibu tiri Kirana, Marisa datang ke lokasi rumah yang ditinggali oleh Kirana. Keadaan saat itu tidak beruntung karena ban motor maticnya pecah. Sehingga terpaksa ia berjalan menuju rumah Kirana beberapa ratus meter dari lokasi bengkel.
Secara tidak sengaja ia lewat di pagar rumah itu, tepatnya di arah samping. Di sana ada lubang ventilasi yang menuju ke luar. Terdengar Arnike dan Bagas sedang berbicara.
"Bu, sampai kapan kita harus berpura-pura seperti ini di hadapan si Tena itu?"
Arnike tersenyum jahat. "Sebentar lagi, Bagas. Kita akan selesaikan mereka."
"Lalu bagaimana caranya, Bu?"
"Beberapa hari lagi kan ada acara keluarga. Di sana kita akan racuni mereka dan menjadikan pembantu panggilan sebagai kambing hitam."
Bagas mengangguk pelan dan tersenyum senang. "Iya, kita main bersih saja. Dan setelah itu seluruh harta yang dimiliki oleh Tena akan jatuh kepada kita."
Mendengar itu, Marisa sangat terkejut.
Segera Marisa mengeluarkan HP-nya dan merekam dari celah ventilasi itu.
"Lalu bagaimana kalau rencananya gagal?"
"Ada rencana kedua."
Arnike menunjukkan pisau belati. "Ini pisau khusus yang mengandung racun. Sedikit saja kena kulit, itu sudah bisa meracuni seluruh organ dan menyebabkan kematian mendadak."
"Apakah seefektif itu, Bu?"
"Tentu saja. Kita harus membalaskan kematian bapakmu itu. Bagaimana rasanya orang-orang penting di hidup Tena lenyap di depan matanya?"
"Iya, aku setuju, Bu. Kita harus selalu punya rencana cadangan."
Saat Marisa berniat pergi dari sana, ada sebuah lubang galian di sebelahnya yang membuat Marisa terjatuh ke sana. Mendengar sesuatu, Bagas mencoba keluar lewat pintu samping. Tidak ada orang, lalu ia kembali ke dalam.
"Siapa, Bagas?" tanya Arnike.