Singaku

Nurul Arifah
Chapter #1

Negeri Piramida

Kisah dia berawal dari negara yang jauh disana. Negara yang berwarna kuning kecoklatan dan berdiri diatasnya ribuan menara masjid yang megah. Negara yang menjadi impian para murid-murid muslim Indonesia untuk belajar dan menimba ilmu sebanyak mungkin karena disanalah tempat asal muasal agama Islam bermula. Tempat yang melahirkan banyak ulama-ulama terbaik dan orang-orang jenius. Dialah salah satunya. Dia sudah hafal Alquran dan bahasa Inggris sejak usia yang sangat muda, sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya menganggapnya aneh dan membawanya ke ustadz untuk mendapatkan ruqyah. Tetapi ternyata jalan masih sangat jauh untuknya. Itu hanya permulaan saja. Saat itu ia masih berumur enam belas tahun. Masih baru tumbuh jenggot dan kumisnya tetapi dunia sudah bersiap-siap untuk bertarung dengannya. Diumur yang masih belia, ia harus siap dan tahan dengan apapun yang sedang menanti didepannya.

Kairo, Mesir, semua orang sangat ingin kesana. Negara yang kaya akan ilmu dan sejarahnya. Tetapi tidak dengan laki-laki itu. Dia tidak menginginkan berada disana ataupun terlahir disana. Kota tua yang dipenuhi debu dan pasir, membuatnya tidak nyaman dan sesak. Kota yang tidak pernah tidur membuatnya terjaga dan sulit untuk terlelap karena bisingnya jalan raya. Dia tidak terayu oleh lambaian cantik sungai Nil. Baru kali itulah sang sungai Nil pertama kalinya merasakan patah hati karena tidak dilirik oleh pemuda tampan itu. Namanya mungkin tidak ditulis oleh sejarah, tetapi ia akan mengukir sejarah pada setiap orang yang dia temui. Dia seperti menumbuhkan bunga-bunga pada tanah yang kering. Mengajarkan apa itu harapan dan apa itu usaha. Mendekatkan orang pada tuhannya dan mengajak orang masuk ke agamanya. Panas api semangatnya sepanas seperti cuaca kala itu.

Panasnya negara itu seolah-olah memiliki sepuluh matahari. Itu membuatnya jenuh. Perasaan itu semakin kuat setelah orangtuanya bercerai. Sudahlah diluar sangat panas, didalam rumah juga berapi-api rasanya. Kasih sayang dan perhatian yang dia dapat selama ini seakan-akan terputus dan hilang begitu saja seperti buih dilautan. Tanpa aba-aba dan peringatan, dihari itu orangtuanya langsung memberitahu bahwa akan bercerai. Beberapa saat kemudian ibunya menikah dengan laki-laki baru dan ayahnya juga menikah dengan wanita baru. Situasi yang sangat membingungkan untuknya. Baru kemaren dia memiliki keluarga, sekarang tidak lagi. Dia mulai belajar berdiri di kaki sendiri dan mulai membiasakan diri untuk tidak adanya tempat berpulang. Ia mulai disibukkan mencari uang dan tidak fokus dengan Alquran lagi.

Ulama muda itu mulai disibukkan oleh hal duniawi. Jika saja orangtuanya tidak bercerai, semuanya akan baik-baik saja. Jika saja orangtuanya masih bersama, dia akan siap dan matang untuk bernafas dengan kejamnya dunia. Tetapi ia dilepas begitu saja diusia yang belum siap. Ia dipaksa untuk dewasa terlalu cepat. Itu adalah keharusan, bukanlah sebuah pilihan. Dia nyaris tidak pernah punya kesempatan untuk memilih. Dia terpaksa untuk bekerja, dia terpaksa untuk mencari uang, semua adalah keadaan yang memaksanya untuk melakukan itu. Jika diizinkan untuk memilih, ia ingin hidup normal seperti remaja lainnya yang bisa santai sampai bangku perkuliahan. Tetapi takdir terlalu jahat dan tidak memberikan haknya.

Dia bekerja siang dan malam. Bekerja apapun itu yang dapat menghasilkan uang. Tidur dimana saja yang terpenting tidak terpanggang oleh panasnya terik matahari. Tidak ada selimut yang tebal untuknya saat musim dingin menghantam, yang ada hanyalah selimut yang tipis. Tidak pula ada penghangat ruangan saat cuaca dibawah minus. Setelah semua itu ia jalani, ia selalu terlihat tampan dan menakjubkan dimataku. Tetapi sayang sekali bahwa tidak ada waktu untuk cinta dan bermain-main. Dibawah ratapan megahnya bangunan piramida, terduduklah pemuda itu dengan wajah lusuh dan lelah. Dibalik senyum dan tawanya ketika bertemu dengan orang-orang, namun ia menangis ketika tidak ada orang yang melihatnya. Besok adalah hari pertama pendaftaran untuk masuk ke universitas. Universitas pertama dia masuki untuk mendaftar, semua dokumen telah dia siapkan tetapi salah satu persyaratnya mereka mengatakan bahwa kedua orangtua harus datang ke kampus. Sejak detik itu, ia sudah merasakan sesuatu tidak akan berjalan dengan lancar. Tetapi apa salahnya mencoba. Dia berjalan menuju rumah ayahnya dengan pikiran yang campur aduk. Semua kemungkinan buruk telah dia pikirkan.

Lihat selengkapnya