Singaku

Nurul Arifah
Chapter #2

Badan yang Tidak Pernah Prima

Langit yang sudah mendung menjadi semakin gelap lagi. Hitam semuanya tidak ada celah cahaya kebahagiaan untuk masuk. Sejak usia remaja, ia selalu bertarung dengan berat badannya yang terus naik dan tidak pernah turun. Dikarenakan postur badannya yang tinggi dan kekar, ukuran tulangnya yang besar membuat badannya semakin berat. Ia berusaha terus untuk menekannya dibawah seratus kilogram. Semua olahraga dilakukannya sampai-sampai nanti di masa depan ia harus menanggung beban dengan cidera lutut yang tak kunjung sembuh. Tetapi itu nanti saat dia berusia tiga puluh lima tahun. Maka kumohon para pembaca bersabar sampai saat itu tiba. Sekarang mari tinggal disini saja dimana jagoan kita ini masih berumur dua puluh lima tahun.

Ia memiliki banyak sekali masalah ditubuhnya. Yang paling awal adalah kelainan genetik dari ibunya yang menyebabkan adanya benjolan tulang sebesar kelereng pada punggung tangan kiri dan kanannya. Ketika ia bekerja terlalu keras, benjolan itu akan terasa sangat sakit. Satu-satunya cara yang dapat dilakukannya hanyalah memijatnya pelan sampai merasa lebih baik. Sungguh kasian laki-laki ini. Andai saja aku bertemu dengannya lebih awal, pasti aku akan memijatnya setiap hari, mengurangi lelah dan capek di badannya karena sesungguhnya aku sangat pandai memijat. Ia akan tertidur lelap diantara tangan-tanganku.

Tetapi "kecelakaan" terhebat bukanlah kecelakaan pesawat atau kereta api. Tetapi tabrakan antara takdir yang kamu mau dengan takdir Allah. Jalan kita berdua masih panjang. Belum waktunya untuk bertemu. Kuharap ia akan selalu bertahan. Ia masih harus keliling dunia dan bertemu dengan banyak wanita, lalu patah hati, hancur, dan trauma. Jatuh, bangun, dan berdiri lagi. Begitu seterusnya. Ia bergelut antara cinta dan uang selama hidupnya. Cinta yang hilang dari orangtuanya. Kasih sayang yang tidak pernah didapatnya lagi. Ia merindukan sentuhan lembut dikepalanya dan elusan lembut pada punggungnya saat ia tertidur, persis seperti bayi.

Aku menemukannya saat hatinya telah banyak luka dan cintanya yang tidak utuh dan sempurna lagi untukku. Walaupun begitu, masih kulihat dirinya adalah sosok terbaik yang pernah kutemui. Dengan segala trauma dan sakitnya, ia masih sosok terindah bagi siapa saja yang memandang. Bahunya mampu menjadi tempat bersandar. Pelukannya masih sangat menenangkan ketika aku dihajar oleh rasa panik. Bagaimana bisa seseorang yang patah sayapnya masih bisa memberikan cinta dan perlindungan padaku? Karena kekuatan dari Allah, katanya. Satu yang terucap darinya, Allah.

Aku akan memberitahumu sesuatu yang gila. Aku tidak pernah mengatakan hal ini pada siapapun sebelumnya. Sejujurnya, aku tidak yakin aku masih ingat seperti apa suara ayahku setelah sepeninggalnya. Aku sudah lupa. Selama ini sepertinya suara laki-laki mesir itu telah mengisi dan direkam jelas oleh telinga dan saraf di otakku. Dia adalah satu-satunya orang yang berada disana di setiap lika-liku hidupku. Tetapi sskarang saat aku mencoba untuk mengingat suara ayahku kembali, hanya suara laki-laki mesir itu yang muncul. Andai saja ada uang untuk bisa membeli waktu. Andai saja kita bertemu lebih awal sebelum semua drama Roro Jonggrang itu terjadi. Maka tidak perlu kamu membangun seribu candi untuk wanita-wanita itu lalu kalah di dalam peperangan cinta.

Lihat selengkapnya