"Pada bias senja, asa itu sirna. Didekap cakrawala yang menenun jeda."
Qalisya Nuraya, biasa dipanggil Nur. Usianya masih muda, 25 tahun. Wajahnya cantik, beralis lentik, lensa matanya cokelat bening, dan hidung mancung, serta memiliki postur badan yang langsing seperti model. Tapi nasibnya terlalu menyedihkan.
Nur, tidak diizinkan bersinar seperti nama panggilannya. Ia disekap dalam rumah yang tak pernah merasakan kehangatan layaknya keluarga sejak ia kecil.
Tidak ada penghargaan, apalagi perayaan ketika ia meraih prestasi sejak SD hingga SMA. Bila ia membawa pulang piala dan juara umum, Ibunya bukan memujinya tapi malah mencibir Nur yang sengaja ingin terlihat lebih unggul daripada sang adik, Adelia yang satu tahun lebih muda darinya.
Nur malah disalahkan menjadi penyebab Adelia tidak mendapatkan ranking.
"Seharusnya kamu juga ajarin adikmu, jangan cuma mikirin dirimu!"
Semua perbedaan sikap dan kasih sayang yang ia terima terungkap penyebabnya ketika ia meminta izin mendaftar ke perguruan tinggi.
"Kamu gak boleh kuliah, biar adikmu saja yang kuliah. Kamu harus kerja, cari uang demi Adelia bisa kuliah. Sebagai balas budi utangmu selama ini karena aku membiayai kehidupanmu. Kamu bukan anakku, aku mengasuhmu sebagai anak kandungku, tapi sekarang kamu dewasa. Bekerjalah dan biayai keperluanku dan adikmu."
Nur bahkan tidak minta biaya kuliah dari Ibunya, ia diam-diam memang memiliki penghasilan sendiri dari menulis novel online. Apalagi ia akan mencoba mendaftar jalur beasiswa, dengan kemampuannya ia berharap bisa keterima di fakultas impian.
Namun, Ibunya malah mengungkapkan fakta yang menorehkan luka di hatinya yang sejak dulu kala telah retak.
Nur paham, alasan Ibunya memperlakukannya berbeda. Karena ia hanyalah seorang putri pungut yang ditemukan di depan rumah Ibunya, sesuai penuturan sang Ibunda.
Nur tidak marah pada takdirnya, meski kadang hatinya kecewa atas ketidakadilan kasih sayang yang diberikan sang Ibu. Tapi perlahan ia mulai menerima, termasuk merelakan impiannya yang tak sempat bersinar karena dipaksa tetap di rumah. Bekerja sebagai pembuat kue rumahan oleh Ibunya.
Nur tak menolak, karena ada harga yang harus ia tebus meskipun takkan pernah membayarnya penuh. Karena hutang budi pada manusia selalu tak pernah ada nominal yang sanggup menakarnya.
Berbeda dengan Adelia, adiknya itu sudah bekerja di dunia entertainment sebagai seorang artis, ia pemain sinetron dan membintangi iklan. Meskipun belum terlalu terkenal, karena baru memerankan tokoh sampingan, tapi Adelia cukup banyak memiliki followers karena sering membuat konten daily make up.
Nur bukannya tidak mau mengikuti perkembangan zaman, tapi ia dilarang menggunakan media sosial. Ia tidak diperbolehkan membuat akun apa pun, karena Adelia dan Ibunya khawatir pesona Nuraya akan menarik perhatian netizen.
Meski begitu, ia tidak sepenuhnya patuh. Bukan ingin menjadi terkenal, tapi ia hanya ingin tetap bisa menyalurkan karyanya.
Nur mempunyai penghasilan tambahan dari novel online yang banyak dibaca orang, meskipun memakai nama samaran. Tulisannya bahkan ditawarkan untuk difilmkan, tapi ia terpaksa menolak karena Ibunya tentu tidak akan suka jika asanya bersinar melebihi Adelia.