“Ayo kejar dia.”
“Kejar ... kejar.”
Suara derap langkah orang-orang berlari memenuhi jalanan kota. Teriakan dari warga terdengar riuh, saat mengetahui seseorang yang baru keluar dari bank, tas berisi uang dirampok.
Warga mengejar perampok kelas kakap yang selama lima tahun ini selalu lepas dari incaran polisi. Seolah komplotan atau seseorang yang merampok itu, dilindungi oleh perorangan atau pemerintah.
Seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan masker, topi, dan sarung tangan berwarna senada, ditangannya terlihat sebuah tas besar. Dia terus berlari menghindari kejaran warga dan beberapa polisi yang sudah ikut bergabung mengejarnya.
***
Seorang gadis berambut panjang berjalan dengan dua kantung besar berisi sayuran dan bahan makanan lainnya, untuk kebutuhan kafe milik kakaknya. Gadis itu terlihat kesulitan dengan barang yang dia bawa.
Seorang berpakaian serba hitam menabraknya, yang mengakibatkan semua bahan makanan yang dibawa terjatuh dan berantakan.
"Kalau jalan lihat-lihat dong." Gadis itu mendengkus. Tangannya dengan sigap membereskan bahan makanan yang berjatuhan. "Kak Sevyn pasti ngomel lihat semua bahan makanannya hancur kayak gini."
Baru saja pemuda itu ingin membantu, terdengar suara warga yang masih mengejarnya. Dia menoleh ke belakang.
"Sial! Mereka masih ngejar gue," gumamnya yang masih dapat didengar oleh gadis di depannya.
Dia masih memasukkan satu persatu bahan makanan, yang masih bisa di pakai ke dalam kantung belanja.
Dengan cepat dia mengambil tas besar yang tadi ikut terlepas dari tangannya dan kembali berlari.
Gadis yang ditabraknya melongo melihatnya pergi. "Heh, lo mau ke mana?” Dia menghela napas pelan saat pemuda itu sudah berlari menjauh dan kembali menggerutu, “Bukannya minta maaf atau bantuin gue beresin, dia malah kabur. Nyebelin!"
Di sampingnya pria paruh baya berhenti berlari, kedua tangannya memegang lutut, napasnya terengah. Warga lain memilih terus berlari dan berpencar mengejar orang yang mengambil tas itu.
"Ke mana perginya perampok itu?"
Gadis di depan pria paruh baya itu sudah selesai membereskan belanjaan, karena insiden tabrakan tadi. Dia mengernyit, menatap pria paruh baya yang terlihat lelah.
"Maaf, ada apa? Tadi aku dengar ada perampok. Siapa yang dirampok?"
"Orang yang baru keluar dari bank dirampok. Perampoknya berpakaian serba hitam dan membawa sebuah tas besar hitam. Kamu lihat orang itu?”
“Seseorang berpakaian serba hitam dan membawa tas besar berwarna hitam? Apakah mungkin orang yang nabrak gue tadi perampok?”
Pria paruh baya itu mengernyit saat melihat gadis di depannya melamun. Dia menjetikkan jarinya di depan wajahnya.
"Nak, kamu lihat orang yang aku maksud?" tanya pria itu lagi.
Gadis itu mengerjap, keningnya mengernyit. Dia menunjuk ke arah kanannya yang diikuti tolehan dari pria paruh baya itu.
"Aku lihat dia lari ke arah sana, Pak.”
Pria paruh baya itu mengangguk. Dia mengucapkan terima kasih kepada gadis di depannya dan memanggil rekannya yang lain. Dia memberitahu kepada mereka sesuai petunjuk darinya. Pria paruh baya dan temannya pergi meninggalkan gadis yang sudah memberitahunya.
Gadis itu masih berdiri di tempatnya dengan kening yang masih mengerut. Di kepalanya berputar berbagai pertanyaan.
“Beneran dia perampok? Kenapa gue ngerasa pernah dengar suara orang itu?"
Sebelum pemuda yang menabraknya pergi, dia sempat mendengar suara darinya. Gadis itu menghela napas panjang. Dia menggeleng.
"Kenapa gue mikirin perampok? Dia nggak ada hubungannya sama gue. Gue harus cepet ke kafe. Sebelum Kak Sevyn ngomel."
***
Pemuda berpakaian serba hitam itu menghela napas lega, karena berhasil meloloskan diri dari kejaran warga dan polisi. Dia berjalan cepat memasuki sebuah gedung dan langsung menaiki lift menuju lantai lima.
Saat lift berjalan menaiki lantai tujuan, dia bersandar di dinding ruang sempit itu. Tangannya bergerak menurunkan masker hitam yang dipakainya. Dia menghela napas panjang.
Pintu lift terbuka di lantai lima. Tangannya kembali menaikkan masker hitamnya. Dia berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor. Dua orang pria tinggi, memakai jas hitam, dan kacamata hitam menghadangnya di depan pintu.
Dia melepas masker yang dipakai. Mata tajamnya menatap dua orang penjaga di depannya. Kedua penjaga itu mengangguk paham. Mereka membuka pintu, mempersilakan dia masuk. Di dalam, dia menatap seorang pemuda lebih tua dan tinggi tersenyum ke arahnya.
"Panjang umur, Vindra. Kita baru ngomongin lo. Lo udah datang."
Pemuda berpakaian serba hitam itu bernama Vindra Arshaka Susilo. Seorang perampok, pencuri, dan perantara atau kurir obat-obatan terlarang kelas kakap, selama lima tahun ini selalu lolos dari incaran polisi.
Bukan tanpa sebab dia selalu lolos. Selain ada yang melindungi, tetapi ketelitian, kelihaian, dan kecerdasannya yang membuat dia selalu bebas dari jerat hukum.
Vindra menatap datar pemuda yang duduk angkuh di depannya. Pemuda itu merupakan Direktur Utama perusahaan judi dan narkotika terbesar di kota itu.
Pemuda berambut pirang dengan lesung pipi yang mempesona saat dia tertawa. Dia terlihat modis dengan jas hitam yang menyelimuti kemeja birunya, berjalan mendekati Vindra.