Sinner

Kim Raeneul
Chapter #2

Sinner Dua - Keluarga Vindra dan Senna

Vindra berjalan menuju rumahnya dengan tatapan kosong. Dia menarik napas panjang. Dia ingin hidup normal, menjadi orang biasa yang mempunyai penghasilan dari keringatnya sendiri, tanpa menyakiti orang lain.

Selama ini dia tidak memakai sedikit pun uang hasil rampokan, curian, dan transaksi obat-obatan terlarang. Semuanya dia berikan kepada Nero, sebagai pembayaran hutang Darma. Dia tidak mau memakai uang dari hasil pekerjaan haramnya.

Setiap hari Rara memberikan uang untuk bekalnya. Dia memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Bukan berarti dia tidak pernah melakukan pekerjaan yang tidak melanggar hukum. Dia pernah bekerja menjadi karyawan minimarket di kota lain. Saat percobaan mengakhiri nyawanya sendiri gagal, dia memutuskan untuk pergi.

Dia tidak kembali ke rumah bersama kakak dan adiknya. Kakaknya masih kecewa padanya dan butuh waktu untuk memaafkannya. Dia hanya bisa menanyakan kabar kakaknya melalui adik bungsunya yang mau berkomunikasi dengannya.

Dengan bekal seadanya, dia nekat pergi ke kota lain. Di kota itu, dia bertemu dengan Jayendra Wishnu. Pemuda dengan tinggi lebih pendek darinya itu menawarkan pekerjaan kepadanya.

Awalnya, Vindra ragu menerima tawaran darinya, karena dia memang mempunyai sifat yang mudah curiga dan tidak dapat mempercayai orang lain. Terutama kepada orang yang baru dikenalnya.

Vindra memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama di tempat baru. Dia akhirnya menerima pekerjaan dari pemuda yang baru dikenalnya dan tinggal bersamanya.

Jayendra merupakan pemuda asal kota Seberang. Dia mengadu nasib di kota lain, untuk membantu keluarganya.

Setiap bulan, Vindra memberikan sebagian uang dari hasil kerja halalnya untuk kakak dan adiknya. Sebagian lagi dia pakai membantu membayar kontrakan bersama Jayendra dan keperluan sehari-hari.

Pemuda bermata tajam itu melakukannya sebagai tanda terima kasih kepada temannya, yang sudah membantunya mencari pekerjaan dan mengizinkannya tinggal bersama. Dia masih tau arti balas budi, dan masih bisa membedakan orang yang tulus atau hanya memanfaatkannya saja.

Hidupnya sudah menderita dan banyak temannya yang menjauh, saat mengetahui dia mengalami kesulitan. Dia yakin tidak akan ada orang yang mau memanfaatkannya, kecuali orang yang tidak punya hati dan licik seperti Nero.

Selama di kota itu, dari pagi sampai malam, dia bekerja sebagai karyawan minimarket. Setelah bekerja, dia kembali melakukan pekerjaan ilegalnya. Tentu saja, uangnya untuk membayar hutang Darma kepada pemimpin perusahaan ilegal itu.

Dia sangat menjunjung tinggi prinsip, jika kita berhutang dengan cara dan untuk hal yang tidak baik, kita harus membayarnya dengan cara yang tidak baik pula. Seperti yang dia lakukan. Hutang judi dibayar dengan uang hasil rampokan, curian, dan transaksi obat-obatan terlarang.

Vindra sadar prinsipnya itu salah, tetapi dia terlalu keras kepala dan tetap teguh dengan prinsip salahnya.

***

“Aku pulang.”

Vindra membuka pintu rumahnya. Di dalam, terlihat Melvin yang sedang fokus dengan laptop di depannya. Adik bungsunya menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia menoleh kearah kakak keduanya.

“Kak Vindra udah pulang?”

Vindra mengangguk, dia duduk disamping Melvin, dan melirik sekilas ke arah laptop di depan adiknya.

“Kamu lagi ngerjain tugas?”

Melvin hanya mengangguk. Dia kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Pemuda lebih tua darinya menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, suara Rara menyapa indra pendengaran kedua adiknya.

“Melvin makan malamnya sudah siap.”

“Iya, Kak Rara. Aku sama Kak Vindra ke sana.” Dia menggoyangkan lengan kakak laki-lakinya yang hampir terlelap. “Kak Vindra, ayo makan. Kak, kamu ketiduran?”

“Aku ngantuk, Melvin,” jawabnya. Dia mengubah posisinya menjadi berbaring di sofa.

“Aku tau, tapi Kak Vindra harus makan dulu. Kak Rara udah nyiapin makanan untuk kita.”

Vindra mengangguk dan bangkit dari baringnya. Pemuda lebih tua berjalan menuju kamar mandi.

“Aku ke kamar mandi dulu.”

Rara yang sedang menata piring untuk dirinya dan adiknya, melihat sekilas adik pertamanya berjalan melewatinya.

“Kamu sudah pulang, Vin? Ayo, kita makan bareng.”

“Iya, Kak.”

Lihat selengkapnya