Sinner

Kim Raeneul
Chapter #3

Sinner Tiga - Menjalankan Misi

Vindra menyelinap masuk rumah yang sudah menjadi incarannya selama seminggu ini. Dengan dibantu Hardi dan Jivan—anak buah Nero—dia berhasil memasuki rumah salah satu petinggi di kota itu tanpa halangan.

Para penjaga sudah tidur nyenyak karena obat bius. Kamera pengawas yang ada di seluruh ruangan, sudah mereka rusak saat menyamar sebagai tukang servis pendingin ruangan.

Vindra, Jivan, dan Hardi sudah mengetahui setiap sudut tempat penyimpanan harta berharga pemilik rumah. Ketiganya mengetahui jika pemilik rumah yang bekerja di salah satu instansi pemerintah itu mempunyai catatan korupsi.

Vindra terinspirasi dari tokoh Inggris Robin Hood. Seorang bangsawan Inggris yang menjadi musuh Sheriff of Nottingham atau Prince John. Robin Hood melawan pejabat yang korupsi untuk kepentingan rakyat.

Vindra dan Robin Hood adalah dua orang yang berbeda. Robin Hood memberikan hasil rampokan dari pejabat korupsi itu kepada semua rakyat yang kurang beruntung, sementara dia memberikannya kepada pemilik perusahaan ilegal terbesar di kotanya, untuk melunasi hutang ayahnya.

Uang dan semua harta pejabat itu diberikan bukan untuk orang-orang yang membutuhkan. Dia bukan seorang bangsawan seperti Robin Hood. Dia hanya seorang pemuda yang mengalami nasib buruk.

Dengan kunci duplikat yang kemarin dia buat, Vindra berhasil masuk ke kamar pemilik rumah megah itu. Jivan dan Hardi menyelinap ke ruang penyimpanan lain untuk mempercepat proses perampokan mereka.

Dengan hati-hati, pemuda dengan pakaian serba hitam itu melangkah menuju sebuah lemari besar berwarna cokelat. Lemari itu berada di sisi kiri tak jauh dari pintu kamar. Berbekal sebuah kunci lemari duplikat, dia membuka lemari kecil.

Lemari itu terletak pada bagian atas lemari yang masih menyatu pada lemari besar. Setelah terbuka, dia melihat sebuah brankas berwarna perak dan langsung menekan beberapa angka yang menjadi kode untuk membuka kotak penyimpanan itu.

Vindra mengernyit. Angka-angka yang dia masukan tidak berhasil membuka brankas di depannya. Dia sangat yakin sudah menghapal kodenya, tetapi brankas itu tidak terbuka.

Tanpa ragu, dia kembali menekan beberapa angka, tetap saja kode yang dia masukkan salah. Hanya lima kali dia harus memasukan kode brankas itu dengan benar, jika tidak kotak penyimpanan itu tidak bisa dibuka.

Dia dengan teliti memasukan kembali angka-angka yang sudah dia hapal, barangkali ada angka-angka yang dia lupakan, tetapi kotak penyimpanan itu tetap tidak terbuka.

Dia mengumpat pelan ketika menyadari kode brankas itu telah diganti oleh pemiliknya. Dia tidak ingin semua yang sudah dilakukan gagal begitu saja. Dari balik masker dan kegiatannya memecahkan kode kotak besi penyimpanan itu, dia menyeringai,

“Kamu ngapain masuk ke kamar saya?” Sebuah suara menghentikan aktivitasnya. Tanpa menoleh, dia tau orang yang berada di belakangnya saat ini sangat berbahaya. “Kamu mau buka brankas saya? Sayang sekali. Saya sudah mengganti kodenya.”

“Gue tau isi pikiran pejabat korup dan licik kayak lo, tapi gue nggak akan nyerah. Gue selalu bisa mendapatkan semua yang gue inginkan.”

Pemilik rumah di belakangnya menatap tajam, dia mengangkat tongkat baseball yang dia genggam. Pria paruh baya itu hendak memukul pemuda di depannya, tetapi pemuda itu sudah berbalik. Dia dengan cepat menendang perut pria itu, hingga tersungkur.

Istrinya yang mendengar erangan dari suaminya, langsung terbangun, dan langsung mendekap suaminya.

“Siapa kamu? Mau apa kamu ke sini?”

Vindra tidak mempedulikan pertanyaan wanita paruh baya itu. Dia dengan sigap memasukkan kotak besi penyimpanan itu ke dalam tasnya. Baru setengah dia memasukan brankas itu, tangannya sudah dicekal oleh pemiliknya. Dia menepis kasar cekalan di tangannya.

Dia melangkah ke meja rias yang berada di sisi kanan tempat tidur. Belum sempat dia sampai, kakinya berhasil dipegang oleh pria paruh baya. Dia kembali menendang perut dan memukul wajahnya.

Istrinya yang melihat suaminya dianiaya oleh pemuda yang tidak dia kenali, menggigit tangannya yang dibalas dorongan kasar oleh pemuda itu. Dorongan itu mengakibatkan keningnya terbentur meja rias.

Dengan terburu-buru, dia memasukkan semua perhiasan yang ada di laci meja rias ke dalam ranselnya.

Istri penjabat itu memegang keningnya, dia menendang tulang kering pemuda yang akan melewatinya hingga tersungkur. Wanita itu mengambil ransel milik pemuda yang sudah mengambil barang-barangnya.

Vindra menendang perut wanita paruh baya itu yang mengakibat dia kembali tersungkur. Dia bangkit berdiri dan dengan langkah cepat, dia keluar kamar. Di luar, dia melempar bom asap ke arah sepasang suami dan istri itu. Matanya menatap tajam keduanya.

“Gue nggak pernah bersikap kasar terhadap wanita, tapi tindakan lo udah keterlaluan. Urus saja suami brengsek lo itu.”

Tak jauh dari kamar pemilik rumah, pemuda itu bertemu dengan Jivan. Pemuda dengan tindik di bibirnya berhasil mengambil uang dan perhiasan dari kotak penyimpanan lain. Pemuda yang lebih muda dari Vindra mengernyit saat melihat temannya berjalan pincang.

“Kak, kaki lo kenapa?”

“Tulang kering gue dipukul Nyonya rumah ini.” Pemuda lebih tua darinya terkekeh. “Di mana Kak Hardi?”

Lihat selengkapnya