Waktu sudah menunjukan jam satu dini hari, tetapi gadis berambut panjang itu belum terlelap. Dia masih memikirkan pertemuan tak terduga dengan seorang pemuda misterius beberapa jam yang lalu.
Gadis itu penasaran dengan wajahnya yang menurut dia sendiri—lebih tepatnya gadis yang telah melihat wajahnya dan teman-temannya—mengakui jika dirinya sangat tampan. Senna merasakan ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.
Dia melihat dari tatapan pemuda itu yang menatapnya lembut. Tatapan lembut itu membuatnya menduga jika dia orang baik. Dia masih mengingat ucapannya agar tidak dipertemukan dengan orang jahat.
Dalam hidupnya, dia baru pertama kali bertemu dengan seorang perampok yang memiliki tatapan lembut dan diberi peringatan seperti pemuda misterius itu. Gadis itu menggeleng. Mungkin saja tatapan lembut dan nasihatnya itu hanya pencitraan.
Seperti pejabat yang selalu blusukan ke daerah-daerah untuk menunjukkan jika dia baik dan peduli pada rakyatnya. Faktanya, kebanyakan orang yang mempunyai kuasa itu tidak baik. Mereka bisa menusuk rakyatnya kapan saja.
Walaupun tidak semua pemimpin dan punya jabatan tinggi berkelakuan buruk dan banyak juga yang baik. Cara pandang seseorang terhadap orang lain itu berbeda. Pepatah mengatakan, don’t judge someone from the cover. Pepatah itu benar. Kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja.
Pepatah itu tidak berlaku bagi perampok atau penjahat lainnya. Mereka akan selalu dianggap buruk dan tidak baik, walaupun kita sudah mengetahui latar belakang dan alasan mereka melakukan hal itu. Tidak peduli alasan mereka itu baik. Orang lain akan menganggap mereka jahat. Mereka memang sudah diberi stigma seperti itu.
Senna sangat yakin pemuda yang berprofesi sebagai perampok itu sebenarnya orang baik. Dia terpaksa melakukan hal tidak baik untuk hidupnya. Pemikiran itu membuat gadis itu semakin penasaran kepadanya.
Pemuda misterius itu bilang untuk melupakannya, tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Rasa penasarannya jauh lebih besar. Dia sangat tertarik untuk mengungkap identitasnya. Gadis itu menggeleng dan mengacak rambutnya gemas.
Dia tidak mengerti, alasannya sangat tertarik dengan pemuda yang tidak dikenalnya. Dia merasa tulang tengkorak pada kepalanya sedikit bergeser atau ada syaraf diotaknya yang putus. Sehingga dia bisa berpikiran seperti itu.
Senna sadar pikiran itu memang salah. Tidak seharusnya dia memikirkan seorang perampok. Apalagi dia sempat berpikiran untuk mengungkap identitasnya. Jika dia melakukan semua yang ada dipikirannya, gadis itu sangat yakin hidupnya ke depan tidak akan tenang dan dalam bahaya.
Terlalu memikirkan hal itu, kepalanya menjadi pusing. Gadis itu melirik jam dinding di atas meja belajarnya. Jam itu menunjukkan angka dua dini hari. Dia menghela napas panjang. Pantas saja kepalanya terasa sakit dan matanya sudah terasa berat.
Sudah hampir pagi, tetapi dia masih terus terjaga. Dia memutuskan jika besok masih memikirkan tentang pemuda itu, dia akan memeriksakan otaknya pada dokter spesialis otak. Mungkin saja ada kerusakan diotaknya.
Adik Sevyn itu menyamankan tubuhnya di atas kasur empuknya. Beberapa detik kemudian, dia sudah masuk ke alam bawah sadar.
***
Vindra memutuskan untuk langsung pulang. Punggungnya terasa sangat nyeri. Sampai di rumah, dia baru menyadari jika punggungnya sakit, akibat kotak besi yang masih berada di dalam ranselnya. Tadi dia juga ditimpa oleh gadis itu. Sebenarnya tubuh gadis itu tidak terlalu berat.
Tetap saja ditimpa tiba-tiba dengan kotak besi yang berada di punggung, membuat punggung pemuda itu terasa nyeri. Dia yakin kini punggungnya memar, tetapi dia tidak peduli. Pemuda itu meletakkan ransel yang berisi kotak brankas di samping tempat tidur.
Dia duduk di pinggir tempat tidur. Di sampingnya, Melvin sudah terlelap. Dia melihat adiknya sekilas dan menarik selimut adiknya sampai batas dagu. Pemuda itu merebahkan tubuhnya di sisi kanan adiknya. Tubuhnya sangat lelah meminta untuk diistirahatkan.
Vindra menghela napas pelan. Matanya enggan terpejam. Dia kembali memejamkan matanya, tetapi kesadarannya masih terjaga. Alam bawah sadarnya tidak muncul ke permukaan. Pemuda itu kembali membuka matanya, lalu mengganti posisinya menjadi memunggungi Melvin.
Pemuda itu menarik selimut hingga kepala. Dia teringat kepada gadis yang ditabraknya tadi. Tanpa sadar senyumnya muncul diwajah tampannya. Dia sangat menyukai wajah manis dengan mata bulat gadis itu. Apalagi saat wajah putih itu merona.
Gadis itu tampak menggemaskan baginya. Wajah gadis itu juga mengingatkannya pada gadis yang telah menolongnya lima tahun lalu. Wajahnya sama, tetapi gadis yang dia temui tadi lebih dewasa dibanding lima tahun lalu.