Sinner

Kim Raeneul
Chapter #5

Sinner Lima - Vindra dan Yuda

Vindra sudah di rumah pemuda berkulit pucat yang menyapanya di depan perusahaan Nero. Pemuda putih itu langsung mengajak dia ke rumahnya.

Yuda Dharma Pratama, nama pemilik wajah datar itu. Dia adalah teman sekelas Rara dan kakak kelasnya waktu SMA. Disaat teman-teman kakaknya menjauh, ketika mengetahui kakaknya bukan lagi bagian dari orang kelas atas, pemuda dingin itu selalu di dekat kakaknya.

Yuda yang membantu kakaknya mencari pekerjaan. Sebulan setelah lulus, pemuda yang memiliki gummy smile itu melanjutkan kuliah di Kanada. Saat dia di Kanada, dia masih menghubungi kakak perempuannya. Dia selalu menelepon kakak Vindra itu untuk menanyakan kabarnya.

Vindra sangat respek kepada orang yang masih tulus berbuat baik kepada kakak dan adiknya. Dia percaya jika pemuda berkulit pucat ury benar-benar peduli kepada kakaknya dan bukan orang yang munafik.

Jika dia tidak menyukai sesuatu, dia akan langsung mengutarakan semua yang ada dipikirannya. Yuda tidak peduli orang yang mendengarkan akan sakit hati. Dia memang terkenal dengan kata-katanya yang pedas dan menyakitkan.

Sifatnya itu, membuat Vindra menyukai Yuda. Adik Rara itu sudah menganggapnya kakak sendiri. Dia adalah salah satu teman kakaknya yang dekat dengannya. Dia yang mempunyai sifat mudah akrab dengan orang lain, membuatnya dirinya bisa bergaul dengan siapa saja.

Walaupun Yuda sering mengeluarkan kata-kata kasarnya terhadapnya, dia tau jika kakak kelasnya saat sekolah itu sangat menyayanginya, Rara, dan Melvin.

Vindra sudah kebal dengan sifat-sifat dingin dan datar pemuda berusia dua tahun lebih tua darinya. Dia tau jika pemuda itu sangat menyukai kakaknya, walaupun dia tidak pernah bercerita tentang perasaannya.

Yuda meletakkan nampan berisi minuman dan makanan ringan di meja. “Lo masih kerja sama Bos judi itu?”

Vindra mengambil sepotong kue kering dari toples. “Ya begitulah. Kapan Kak Yuda pulang dari Kanada? Aku penasaran. Kenapa kakak masih mengenaliku, padahal wajahku sudah tertutup topi dan masker?”

“Gue pulang dua hari yang lalu. Lo pasti lupa, kalau kerjaan gue detektif. Tubuh tinggi lo itu mudah dikenali.”

Vindra mengangguk. Dia mengambil gelas yang berisi orange juice, meneguknya hingga tersisa setengah. “Orang tinggi kayak aku, banyak di sini. Bisa saja tadi kakak salah orang.”

“Nggak ada orang yang nggak dikenal, langsung panggil namanya. Cuma lo yang lakuin itu.” Yuda meneguk kopinya. “Gue udah lihat lo di dalam gedung. Tadinya gue mau pukul kepala lo. Kalau gue lakuin, gue dianggap orang gila.”

Vindra terkekeh yang dibalas tatapan malas dari pemuda di sampingnya. “Kenapa ajak aku ke sini? Kakak pasti kangen sama adik kesayanganmu ini.”

Yuda menghela napas pelan. “Setiap gue telepon Rara. Nanya kabar lo dan Melvin. Dia selalu bilang, khawatir sama lo. Terutama sama pekerjaan yang lo jalani. Kenapa lo nggak turutin semua keinginan Rara?”

“Kak, aku pernah jelasin semua alasan dan prinsipku sama kamu. Kakak lupa?”

Sebulan setelah Rara mengetahui adiknya melakukan pekerjaan tidak baik. Saat itu, dia sudah berada di luar kota. Kakaknya itu menceritakan semuanya kepadanya. Pemuda itu memarahi adik Rara hampir setengah jam.

Selama memarahinya di telepon, dia diberikan kata-kata kasar dan tajam oleh pemuda berkulit pucat itu. Walaupun dia sudah menjelaskan semuanya kepada pemuda itu.

Waktu itu perasaannya dalam keadaan baik. Dia sangat sadar, semua yang dilakukannya itu salah dan menyakiti kedua orang yang disayanginya. Dia hanya mendengarkan semua ocehan pemuda yang sudah dianggap kakak olehnya, walaupun telinganya menjadi korban.

Yuda mengangguk. “Gue nggak lupa. Lo juga nggak mau terima tawaran gue.”

“Aku nggak mau ngerepotin kamu.”

Pemuda berkulit pucat itu berdecak. “Dari dulu alasan lo itu aja. Lo selalu marah, kalau ada yang nyakitin Rara dan Melvin. Lo sendiri selalu mengecewakan mereka. Lo sayang nggak, sama Kakak dan Adik lo?”

Lihat selengkapnya