Vindra sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan untuk bertransaksi dengan seseorang bernama Navan. Dia sudah mengirimkan beberapa pesan kepada pria itu, memberitahu jika dia sudah berada di tempat mereka bertemu.
Sudah lima belas menit Vindra menunggu, Navan belum juga datang. Dia berpikir jika pria itu belum bangun atau mungkin saja Nero membohonginya. Tidak mungkin ada orang yang mau bertransaksi pagi-pagi buta, kecuali dia sangat membutuhkan barang haram itu.
Mungkin saja Navan sejenis kelelawar yang hanya akan keluar pada malam hari dan pulang saat matahari terbit. Dia tidak peduli apa pun alasannya. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan orang bernama Navan, pulang, dan memberikan uang dari barang haram itu.
Vindra menendang kerikil di depannya. Dia berjanji jika lima menit lagi laki-laki yang bernama Navan belum datang, dia akan pulang. Dia tidak peduli jika Nero atau Navan akan marah kepadanya. Asalkan mereka tidak menyentuh Rara dan Melvin.
Tepat lima menit kemudian, seorang pria datang dengan pakaian olahraga. Vindra mengernyit dan memperhatikan pria di depannya. Wajah pria itu sama dengan foto yang sudah Nero kirim melalui pesan. Dia yakin jika pakaian olahraga itu hanya alibi.
Navan tersenyum miring. “Lo anak buah Nero yang misterius itu?” Pemuda di depannya hanya mengangguk dan mengeluarkan satu bungkus sedang berisi obat-obatan dari saku jaket hitamnya. “Ternyata Nero sudah mempersiapkannya. Benar-benar profesional.”
Navan mengambil bungkusan itu dari tangan Vindra. Dia mengeluarkan uang dari saku baju olahraganya, dia mengulurkan tangannya. Ketika pemuda di depannya ingin mengambil uang itu, dia kembali menarik tangannya.
“Eits, sabar anak muda. Semua orang selalu cepat jika berurusan dengan uang.” Pria itu tertawa kecil, yang dibalas tatapan tajam di balik masker dan topinya, tetapi masih bisa dilihat oleh pria itu. “Jangan natap gue kayak gitu. Gue jadi takut.”
Pria itu memasang wajah ketakutan. Pemuda itu merasa dipermainkan oleh orang di depannya. Dia menghela napas pelan.
“Kalau lo nggak mau kasih uang itu ke gue, lo bisa transfer langsung ke rekening Nero. Lo udah tau nomor rekeningnya? Kalau belum, gue bisa bantu tanya sama dia. Gue pamit.”
Navan menyipitkan matanya. “Lo beneran nggak mau uang ini?”
Vindra kembali menoleh kearah pria itu. “Lo bisa transfer uangnya. Nanti gue kirim nomor rekening Nero.”
“Padahal gue udah lebihin uangnya sebagai tip buat lo. Asalkan lo mau buka masker dan topi yang nutupin wajah lo itu. Gue pengen lihat muka lo.”
Vindra menatap pria di depannya curiga. “Lo nggak ada kepentingan buat tau muka gue.”
Navan terkekeh. “Gue penasaran. Wajah lo terlalu jelek jadi lo tutup masker dan topi?”
Vindra mengangguk. “Mungkin. Kalau lo penasaran, lo bisa tanya sama Nero. Gue bisa pergi dari sini?”
Navan mengangguk. “Baiklah. Seperti kata Nero, lo emang cerdas.”
Pria itu mengambil tangan kanan Vindra. Dia memberikan uang itu kepadanya. “Ini uangnya. Lo bisa langsung ambil tipnya. Selamat bergabung di tempat kami.”
Vindra mengernyit yang dibalas seringai dari pria di depannya. Tanpa diduga pria itu hendak memborgol tangannya. Dengan cepat dia menarik tangannya, setelah uang darinya berhasil diterima.
“Jangan bergerak! Anda sudah kami kepung.”
Vindra melihat sekeliling. Di sana banyak polisi. Dia melihat pria itu tersenyum licik. Dia berdecak. Transaksi kali ini adalah jebakan.
Nero brengsek! Dia pasti sengaja jadiin gue umpan.
Navan menatap tajam. “Lo pasti nggak nyangka kalau semua ini jebakan.”
Navan mengeluarkan sesuatu dari saku celana olahraganya. Dia memperlihatkan kartu identitasnya kepada anak buah Nero itu. Mata Vindra membulat. Pada kartu identitas itu terdapat nama lengkap pria yang menjebaknya. Navan Andromeda merupakan salah satu polisi di kota ini.
“Gue salah satu anggota kepolisian yang ditugaskan untuk menyamar. Gue sengaja pesan barang ini dari Nero.”
Navan berjalan mendekati Vindra. “Kami juga bekerjasama dengan kepolisian kota B untuk menangkap perampok, pencuri, sekaligus kurir narkotika yang merupakan salah satu anak kesayangan Nero.”
Mata Vindra menajam. “Gue cuma dimanfaatin untuk nangkap Nero? Kalian nggak punya kuasa untuk nangkap dia langsung?”
“Nero dilindungi dari pihak manapun. Lo salah satu anak kesayangan dia. Kalau kita berhasil nangkap lo, dia akan menyerahkan diri. Sebaiknya lo menyerahkan diri. Hukuman lo juga akan ringan.”
Vindra tersenyum miring. “Picik banget pemikiran kalian. Maaf, bukan waktunya gue nyerahin diri. Gue yang akan nyeret Nero terlebih dulu ke meja hijau.”
Vindra memukul polisi di belakangnya dan mengambil pistol dari tangan polisi itu, lalu memiting tangannya. Pemuda itu menodongkan senjata api itu ke kepala polisi yang disekapnya.
“Biarin gue pergi. Kalau kalian masih halangin gue. Gue tembak dia.”
Navan memerintahkan anak buah dan rekannya untuk menjauh dari pemuda itu. Dia tau seperti apa kepribadian pemuda di depannya ini. Pria yang berkerja di instasi kepolisian itu telah mencari semua informasi tentang pemuda di depannya, walaupun hanya sedikit.
Navan tau cara kerja Vindra di lapangan. Ancamannya buka gertakan biasa. Jika dia mengancam ingin mengakhiri nyawa lawannya, dia tidak akan segan-segan melakukannya. Rekan dan anak buah yang berada di sekelilingnya mengangguk. Mereka segera menjauhi pemuda itu.
Seorang polisi yang berada di belakang Vindra nekat untuk menyerang. Mata Navan membulat. Dengan kode mata, dia menyuruh polisi itu untuk menjauh. Adik Rara yang dalam mode peka dan waspada, menyadari kode dari polisi di depannya.
Vindra melepaskan polisi yang disekapnya. Pemuda itu berbalik mengarahkan senjata yang ada ditangannya dan melepaskan tembakan. Tembakannya mengenai kaki polisi itu hingga polisi itu tersungkur.
Navan dan polisi lain yang mengepung pemuda itu, segera menghalangi pergerakannya. Dua orang dari mereka membantu polisi yang terkena tembakan. Pemuda itu berdecak. Dia memperlihatkan semua kemampuan bela dirinya kepada polisi yang berusaha menghalangi jalannya.