Sinner

Kim Raeneul
Chapter #7

Sinner Tujuh - Pekerjaan Baru

Vindra langsung melempar uang yang diberikan polisi Navan di meja kerja Nero. Mata pemuda berlesung pipi itu membulat. Sikap anak buah favoritnya tidak seperti biasanya. Dia tersenyum tipis.

“Tenang Vindra. Ada apa? Kenapa lo kayaknya kesel banget?”

Vindra menatap tajam. “Itu pembayaran terakhir hutang Darma. Gue nggak mau bayar lagi.”

Nero mengernyit. “Hutang Ayah lo masih lima puluh juta. Belum ditambah bunganya. Uang yang lo kasih ini belum cukup.”

Vindra menggeleng. “Gue nggak peduli. Lo minta aja sisanya sama Darma. Gue nggak mau berurusan lagi sama lo atau pria tua itu.”

Nero mendekat. Pemuda itu hendak menepuk pundak pemuda lebih muda darinya, tetapi dia menghindar. “What’s wrong with you, Vin? Kenapa lo berubah pikiran? Kemarin lo masih baik-baik saja.”

“Jangan pura-pura bego, Nero. Lo pasti tau transaksi sama Navan itu jebakan. Lo kirim gue ke sana untuk dijadiin umpan. Navan salah satu polisi di sana.”

Mata Nero membulat. “Transaksi di sana jebakan? Gue bener-bener nggak tau.”

Vindra mendengkus. “Gue nggak akan terpengaruh sama muka polos lo itu. Dari awal, gue nggak pernah percaya sama orang licik kayak lo. Jangan pernah nelepon atau nyuruh gue lagi. Mulai hari ini gue berhenti kerja sama lo.”

Nero menatap datar. “Lo pasti tau resikonya. Kalau lo nggak lunasin semua hutang Ayah lo.”

Mata Vindra menajam. “Gue nggak peduli lo mau ngelakuin apa pun sama pria tua itu. Kalau lo atau anak buah lo nyentuh Kak Rara dan Melvin seujung kuku mereka, gue nggak akan segan habisin lo dan anak buah lo sekaligus.”

Vindra langsung keluar dari ruang kerja pemuda berlesung pipi itu. Setelah pemuda itu menghilang dari pandangannya, dia merusak barang yang ada disekitarnya. Dia benar-benar tidak rela melepaskan pemuda itu begitu saja.

Pemuda itu merupakan seorang yang dapat diandalkan. Dengan segala cara dia akan menjadikan pemuda itu anak buahnya lagi dan bertekuk lutut kepadanya.

***

Mata Senna membulat. Gadis itu melihat seorang perampok yang tidak sengaja bertemu dengannya, di kafe milik kakaknya. Pemuda itu tidak sendiri. Di samping pemuda itu ada temannya. Gadis itu dengan cepat mendekati kedua pemuda itu.

Mereka berpakaian serba hitam dengan topi dan masker yang menutupi wajah. Gadis itu sangat yakin jika pemuda yang berdiri di hadapannya ini orang yang sama. Pemuda berprofesi sebagai perampok, menabrak, dan membekapnya beberapa minggu yang lalu.

“Lo mau ngerampok kafe Kakak gue?”

Ucapan Senna membuat kedua pemuda itu terlonjak. Belum sempat Vindra—pemuda berpakaian serba hitam yang dulunya perampok—menjawab pertanyaan gadis itu, telinganya sudah ditarik oleh Rara. Dia tidak tau kakaknya datang dari mana.

“Vindra, aku sudah bilang berpakaian rapi. Kenapa kamu berpakaian seperti ini?”

Vindra memegang tangan Rara di telinganya. “Kak Rara, sakit. Kenapa Kakak jewer aku?”

Rara menatap tajam adik pertamanya. “Kamu nggak denger omongan aku. Kamu juga mempengaruhi Jayendra untuk berpakaian sama denganmu.”

Vindra memajukan bibirnya. “Aku udah cerita semuanya sama Kakak semalam. Aku nyuruh dia berpakaian seperti itu, biar nggak ketahuan polisi.”

Rara menghela napas panjang. “Vindra otak kamu ketinggalan di rumah? Kalian pakai baju itu, justru bikin orang lain banyak yang curiga. Kamu nggak denger tadi Senna anggap kalian perampok? Cepat lepas masker dan topimu sekarang! Jayendra juga!”

“Iya. Aku lepas masker dan topinya. Lepasin dulu tangan Kakak dari kuping aku.”

Rara melepaskan tangannya dari telinga adik pertamanya. Pemuda itu mengusap telinganya yang memerah. Jayendra tanpa disuruh dua kali, dia langsung melepas masker dan topinya.

Senna mengernyit melihat ketiga orang di depannya. Kepalanya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Gadis itu mendekati Rara. “Kak Rara, kenal sama mereka?”

Rara menoleh kearah Senna. Dia melihat kening gadis itu masih mengernyit. Gadis lebih tua dari adik Sevyn itu tersenyum. “Maaf. Kamu pasti bingung.”

Senna mengangguk. Rara menunjuk kearah Vindra yang masih mengusap telinganya. “Dia Vindra adik aku. Di sebelahnya itu Jayendra Wishnu, temannya. Mereka berdua akan kerja di sini.”

Mata Senna membulat. Jarinya menunjuk kearah Vindra. “Dia adik kandung Kak Rara?”

Kak Rara nggak tau kalau adiknya seorang perampok?

Pertanyaan itu hanya bisa Senna utarakan dihatinya. Rara mengangguk. Kening gadis di sampingnya mengernyit. “Kenapa kamu kaget banget? Kamu pernah ketemu sama Vindra?” Senna hanya menggeleng yang membuatnya semakin bingung. “Ada apa, Senna?”

Lihat selengkapnya