Sinner

Kim Raeneul
Chapter #8

Sinner Delapan - Vindra dan Jayendra

 “Vin, lo suka sama Senna?”

Jayendra menoleh ke arah sahabatnya dan melihat matanya membulat. Pemuda pemilik mata tajam itu, kini berada di kamar tamu rumah Yuda. Kamar itu sudah ditempatinya selama dua bulan. Sahabatnya kemudian mengangkat bahunya dan melanjutkan aktivitasnya bermain game di ponselnya yang sempat tertunda.

Tanpa melepas tatapan dari ponselnya, dia mengangguk. “Gue suka sama Senna. Dia baik, cantik, dan juga cerdas. Cowok lain pasti suka sama dia. Lo cemburu?”

Dia tidak berbohong jika memang menyukai adik Sevyn itu. Cowok pendek di sebelahnya menghela napas pelan. Dia dapat melihat kelakuan sahabatnya dari ujung matanya, Vindra tau jika sahabatnya tidak puas dengan jawaban yang dia berikan. Walaupun klise, dia sudah jujur kepada cowok yang baru ditemuinya dua bulan ini.

Jayendra sudah menduga jika sahabatnya akan menjawab seperti itu. “Gue ganti pertanyaannya. Lo cinta sama Senna?”

Vindra sudah tau, sahabatnya akan bertanya lebih dalam tentang perasaannya. Dia sudah menyiapkan jawabannya. Dia memperhatikan pemuda di sampingnya, yang sedang menaikkan salah satu alisnya dan menunggu jawaban darinya. Dia menggeleng pelan dan menghela napas berat.

“Walaupun gue cinta sama dia. Gue nggak pantas di samping dia. Gue dan Senna berbeda. Dia nggak boleh dekat sama gue, karena dia nggak akan bahagia sama gue. Gue nggak mau melibatkan orang lain lagi dalam semua masalah yang gue hadapi. Cukup lo aja, orang lain yang gue libatin.”

Jayendra berdecak. Dia tidak suka jika sahabatnya masih menganggapnya orang lain. Dia menyayangi pemuda yang duduk di sampingnya seperti saudaranya sendiri. Dari awal bertemu, dia yakin jika dia sudah ditakdirkan untuk selalu terlibat dengannya.

Dia percaya jika dia berjodoh dengan Vindra. Jodoh yang dia maksud bukan artian sebagai pasangan, tetapi sebagai sahabat, karena dia yakin istilah jodoh itu, bukan hanya untuk lelaki dan perempuan. Jodoh yang ditakdirkan untuk menikah dan mempunyai keluarga.

Jayendra dan Vindra ditakdirkan sebagai seorang sahabat dan saling menyayangi. Layaknya saudara dan keluarga sendiri. Dia yakin jika sahabat, teman, saudara, dan keluarga itu termasuk jodoh kita.

“Kenapa lo masih anggap gue sebagai orang lain? Padahal gue udah anggap lo sebagai saudara sendiri. Gue udah anggap lo sebagai adik. Lo adik paling nakal dan bodoh yang gue punya.”

Jayendra tertawa hingga matanya menghilang yang dibalas senyum tipis dari sahabatnya. Dia tidak menyangka, jika akan sedekat ini dengan pemuda dengan mata bulan sabit saat dia tertawa. Awal bertemu, dia menganggap pemuda itu sama seperti teman-temannya yang lain.

Teman-temannya yang akan mengkhianatinya. Dugaannya salah. Jayendra bukan orang seperti itu.

Bagaimana jika Jayendra seperti temannya yang lain. Teman yang akan mengkhianatinya?”

Vindra mengubah posisinya mendekati sahabatnya. Dia memukul pelan kepalanya, hingga mata sahabatnya membulat.

“Kenapa lo pukul kepala gue?”

Vindra terkekeh melihat sahabatnya menatap tajam dirinya. “Kenapa lo jadi romantis gini? Jatuh cinta sama Senna buat lo jadi berubah romantis?”

Jayendra berdecak kesal saat sahabat di sampingnya masih menggoda. Dia menyesal memberi pertanyaan itu kepada sahabatnya dan mengerti alasan Yuda selalu memijit pelipisnya, ketika berbicara dengan cowok di sampingnya.

“Lo nggak mau miliki Senna? Gue yakin lo pasti cinta sama dia.”

Vindra menggeleng. “Gue udah jelasin alasannya. Belum satu jam. Lo masih nanya aja. Gue tau, lo cinta sama Senna. Gue dukung banget lo jadian sama dia.”

Jayendra membalas pukulan di kepala sahabatnya. “Dasar bodoh. Kalau gue dapetin Senna, lo gimana?”

Mata Vindra mengerjap. “Kalau gue dapetin Senna, lo gimana?”

Lihat selengkapnya