Sinner

Kim Raeneul
Chapter #9

Sinner Sembilan - Bertemu Masa Lalu

Selain bisa makan ditempat, Beyond Cafe, kafe milik Sevyn, memberikan layanan delivery untuk para pelanggannya. Kafe milik kedua bersaudara Sevyn dan Senna merupakan kafe bernuansa khas Korea, mulai dari makanan dan dekorasi kafe. Hari ini yang mendapatkan tugas menjadi driver delivery itu Vindra.

Salahkan dua puluh pelanggan Beyond Cafe yang tadi menelepon. Mereka memesan berbagai menu makanan dan minuman khas Korea, seperti Kimchi, Ramyun, Bibimbap, Maeuntang, Sundubu jjigae, Tteokbokki, dan Jjampong. Mereka juga memesan Vindra sebagai driver delivery-nya.

Aku mau Kak Vindra yang mengantarkan pesananku!”

Itulah kalimat yang sering pelanggan kafe katakan, ketika memesan makanan mereka melalui telepon. Setelah mengatakan hal itu dengan tidak sopannya, mereka menutup teleponnya begitu saja. Tanpa menunggu jawaban dari penerima panggilan telepon mereka.

Senna memijit pelipisnya. Gadis itu berdecak menanggapi pelanggannya yang rata-rata remaja labil ini. Telepon kembali berdering. Dia menghela napas pelan dan mengangkat kembali telepon orderan kafenya.

Orderan itu adalah orderan yang kedua puluh lima. Tanpa sadar, dia menghitung pesanan dari telepon ini.

“Halo, Beyond cafe siap melayani pesanan Anda. Ada yang bisa kami bantu?”

Aku pesan lima kotak tteokbokki, lima kotak jjampong, lima kotak bibimbap, lima orange juice, dan lima ice Americano.”

Tangan Senna bergerak mencatat pesanan pelanggan itu. “Baik. Saya ulangi lima kotak tteokbokki, lima jjampong, lima bibimbap, lima orange juice, dan lima ice Americano. Ada lagi?”

Senna mendengar ada keraguan dari seberang. “Hmm … Bisakah yang mengantarkan pesananku Vindra?”

Kening Senna mengernyit. Dia merasa ada yang aneh. Penelepon sebelumnya, mereka memanggil Vindra dengan sebutan kakak. Pelanggan yang ini hanya memanggil namanya saja, tanpa ada sebutan kakak.

Halo, apa kau masih ada di sana?”

“Maaf, saat ini karyawan kami yang bernama Vindra sedang sibuk melayani pelanggan di sini. Mungkin karyawan lain kami yang akan mengantarkan pesanan Anda.”

Senna bisa mendengar nada kecewa dari seberang. “Oh begitu. Ya nggak apa-apa. Tolong antarkan pesananku ke daerah Gasibu.

Gadis itu menuliskan alamat lengkap pelanggan agar tidak salah antar. “Baik kami akan mengantarkan pesanan Anda. Kami mohon maaf sebelumnya, jika pesanannya agak sedikit terlambat. Karyawan kami harus mengantar pesanan lain.”

Nggak apa-apa. Terima kasih.”

Senna hanya mengangguk dan sambungan telepon terputus. Dia bangkit dari duduknya, menghela napas panjang. Dia berdoa agar tidak ada lagi pelanggan yang menelepon dan meminta Vindra mengantarkan pesanan mereka.

Senna merasa pelanggan kafenya akhir-akhir ini mencari perhatian terhadap adik Rara itu. Bukan akhir-akhir ini, tetapi semenjak Vindra dan Jayendra berkerja di Beyond cafe. Sebenarnya dia sudah memprediksi hal itu akan terjadi.

Adik Sevyn itu masih merasa risih dan kesal. Dia tidak yakin jika perasaan ini adalah perasaan cemburu, karena dia merasa ragu dengan perasaannya sendiri. Selama ini, pemuda itu selalu bersikap dingin kepadanya. Terkadang, dia merasa sahabat Jayendra itu memperhatikannya. Dia selalu menolongnya disaat yang tepat, tetapi sifat dinginnya lebih dominan terhadapnya.

Gadis itu keluar dari ruang manager. Ruangan itu menjadi tempat menerima telepon jika ada pelanggan yang ingin memakai layanan delivery. Dia melangkah menuju dapur. Dia akan menyiapkan semua makanan dan minuman yang akan diantar.

Jayendra mengernyit melihat gadis yang baru masuk dapur terlihat murung. Sebelum gadis itu menghilang ke ruang manajer, dia melihat adik Sevyn itu sangat ceria. Kini auranya berubah.

“Ada apa?” Senna meliriknya dan memperlihatkan kertas yang berisi pesanan pelanggan tadi. Jayendra mengambil kertas itu, dia membaca tulisan pada kertas itu. “Delivery?” Gadis di sampingnya hanya mengangguk. “Bagus dong. Berarti pendapatan kafe bertambah.”

Senna kembali mengangguk. “Semua pelanggan minta Vindra yang antar pesanan mereka.”

Jayendra mengangguk, dia akhirnya mengerti alasan aura gadis itu berubah. Kertas di tangannya sudah berpindah ke tangan sahabatnya.

Senna dan Jayendra saling pandang. Keduanya kompak melihat kearah pemuda tampan yang sudah berada disamping sahabatnya. Dia sedang membaca semua pesanan itu dan mengangguk. Dia mengembalikan kertas itu kepada sahabatnya, menatap keduanya bergantian.

“Gue yang antar semua pesanan itu. Gue antar dulu pesanan pelanggan nomor delapan.”

Dia meninggalkan sahabat dan adik Sevyn itu. Mata Senna mengerjap. Gadis itu berusaha mencerna kejadian itu. Jayendra menghela napas panjang. Pemuda itu menggeleng pelan. Dia merutuki sikap sahabatnya yang masih saja dingin terhadap gadis di sampingnya.

Dasar bodoh.”

***

Senna menepuk keningnya. Dia hampir saja lupa memberikan kertas alamat pelanggan yang akan dikirim pesanannya oleh Vindra. Gadis itu merogoh saku apronnya dan mengeluarkan kertas itu.

Sejak pemuda itu mengatakan ingin mengantarkan semua pesanan, gadis itu menjadi semakin tak fokus. Berulang kali dia salah menempatkan susunan pesanan pelanggan. Gadis itu bingung dengan pikirannya.

Lihat selengkapnya