Vindra menatap nanar ketika melihat pemandangan di depannya. Bukan hal biasa melihat sepasang kekasih berciuman. Sosok laki-laki dan perempuan yang dilihatnya kali ini adalah Javier dan Jesslyn.
Pemuda yang sedang mencium kekasihnya itu memunggunginya, tetapi dia sangat mengenali bentuk tubuh teman kecil kekasihnya. Kedua tangannya mengepal erat, matanya semakin menajam melihat wajah kekasihnya sangat menikmati ciumannya dengan sahabatnya.
Vindra berjalan mendekati mereka. Dia melepas paksa sepasang sahabat itu dan memberikan pukulan pada wajah kekasih kakaknya, hingga sudut bibirnya terluka. Dia hendak memberikan pukulan lagi kepada Javier, tetapi Yuda sudah melerai mereka.
Yuda tidak sengaja melewati taman dan melihat adik Rara memukul sahabat Jesslyn. Dia berlari dan menghentikan tindakan adik kelasnya.
“Vindra berhenti! Lo mau dikeluarin, karena mukul kakak kelas di sekolah?”
Vindra memberontak. “Dia udah cium pacar aku. Dia yang bikin Kak Rara nangis, karena patah hati.”
Kedua mata Yuda membulat. Adik Rara itu sudah mengetahui alasan mata kakaknya sembab. Setelah makan malam bersama Yuda dua hari yang lalu, dia berulang kali menanyakan hal yang sama.
Rara yang kesal ditekan dengan pertanyaan yang sama dari adiknya, akhirnya menceritakan penyebab matanya sembab. Dia bercerita jika baru saja putus dengan Javier dan membuatnya patah hati, tetapi dia tidak menceritakan alasan mereka harus putus.
Yuda yang semula ingin bertanya, hanya bisa memendam, saat melihat teman perempuannya yang selama dua hari ini selalu murung dan sedih. Pemuda itu tidak tega menanyakan penyebab gadis itu sedih.
Yuda hanya bisa menghiburnya, agar senyuman cantik anak sulung itu kembali terlihat. Saat mengetahui penyebabnya karena Javier, pemuda itu menatap tajam pemuda dengan wajah lebam di depannya. Dia juga ingin memberikan satu pukulan kepadanya, tetapi dia urungkan.
Jesslyn yang melihat sahabatnya terluka, dia langsung memeluknya. “Vindra aku mohon, jangan pukul Kak Javier lagi. Aku yang salah.”
Mata Vindra semakin menajam. “Kamu bela dia karena dia sahabat kamu dari kecil?”
Gadis itu menggeleng. “Aku cinta sama Kak Javier. Aku sayang sama dia lebih dari sahabat.”
Vindra yang daritadi memberontak, seketika membeku yang membuat Yuda melepaskan pemuda itu. Mata pemuda bermata tajam itu mengerjap.
Yuda menghela napas pelan mendengar ucapan pacar adik kelasnya, dia memijit pelipisnya. Jika dia tau akhirnya akan menjadi cinta segitiga, dia akan membiarkan adik Rara itu melakukan apa saja terhadap mereka.
“Apa maksud kamu, Jesslyn?”
“Maaf. Perasaan aku sama kamu udah berubah. Saat Kak Javier menghindariku dan jadi pacar Kak Rara, aku baru sadar, kalau aku sangat mencintainya. Perasaanku sama Kak Javier lebih dari perasaanku sama kamu. Maafin aku, Vin.”
Pemuda itu mendengkus. “Baguslah kamu mengakuinya. Sebenarnya aku udah lama merasakan kalau kamu berubah, tapi aku nggak tau alasannya. Aku terus berusaha menjadi pacar yang baik buat kamu. Aku bersyukur, kamu mengakui semuanya. Aku bisa memutuskan hubungan kita.”
Pemuda itu menatap tajam dua orang yang sudah mengkhianatinya dan kakaknya. “Gue nggak mau berurusan lagi dengan pengkhianat. Kalian berdua harus menjauh dari gue. Terutama lo, Javier, jangan pernah deketin lagi Kakak gue! Kalau gue lihat lo deketin Kak Rara, gue abisin lo.”