Sinner

Kim Raeneul
Chapter #12

Sinner Dua Belas - Vindra, Choppa, dan Senna

Vindra berlutut menyejajarkan tingginya dengan makhluk menggemaskan di depannya. “Chopa, ayo kita main di taman.”

Pemuda itu meraih kedua kaki depan makhluk mungil berbulu coklat itu, bibirnya membentuk sebuah lengkungan. “Gue bosan. Chopa pasti bosan, karena majikan dingin lo, jarang ngajak lo main. Ayo kita pergi.”

Vindra melepaskan ujung tali yang diikatkan pada sebuah besi tak jauh dari kandang Welsh Corgi. Dengan riang, Chopa menggongong dan melompat ke arah kakinya. Lengkungan di bibirnya semakin melebar melihat anjing ras Welsh Corgi begitu semangat.

Chopa dan Vindra melangkah keluar menuju gerbang rumah Yuda. Mereka bertemu dengan pemilik rumah yang juga hendak keluar.

Pemuda lebih tua itu mengernyit melihat dirinya membawa anjing peliharaannya. “Lo bukannya mau kerja. Lo mau ajak Chopa ke kafe?”

“Hari ini aku libur. Kak Rara dan Jayendra kerja, Melvin kuliah. Aku nggak ada kegiatan. Aku mau ajak Chopa main di taman, boleh?”

Mata Yuda menyipit. “Lo kalau punya waktu luang, biasanya menyelidiki rumah yang mau lo rampok. Waktu lo kabur ke kota sebelah, kerjaan lo gitu.”

Yuda jelas tau selama di kota sebelah, laki-laki lebih muda darinya bekerja di supermarket yang sama dengan Jayendra. Malam harinya setelah bekerja di supermarket, kakak Melvin itu masih mengerjakan pekerjaannya sebagai perampok.

Dia juga sangat tau saat libur dari pekerjaannya di supermarket, pemuda bermata tajam itu selalu menyelidiki rumah yang menjadi incarannya.

Vindra mendengkus. Perkataan pemuda di depannya mengingatkannya kepada semua dosa-dosanya.

“Kak Yuda mau aku jadi perampok, pencuri, dan kurir obat ilegal lagi? Kamu selalu kasih aku nasihat, aku harus berhenti kerja kayak gitu.”

Yuda terkekeh dan mendekati adik gadis kesayangannya. “Gue tau lo udah berubah. Walaupun belum sepenuhnya. Gue kangen sama sifat lo waktu sekolah. Vindra yang polos, selalu ceria, social butterfly, dan punya banyak teman.”

Pemuda itu melanjutkan ucapannya, “Lo itu nyebelin, bodoh, tapi kadang-kadang jenius. Lo orang yang nggak terlalu memikirkan masalah. Gue kangen sifat lo saat itu, tapi gue suka lo yang sekarang. Lo yang sekarang jauh lebih dewasa.”

“Selain itu, lo terlalu mikirin orang lain. Terkadang lo boleh sedikit egois,” lanjutnya, menatap pemuda yang masih memegang tali Chopa.

Vindra tersenyum, dia memeluk erat laki-laki pemilik gummy smile itu. “Kak Yuda, aku terharu. Aku nggak nyangka Kakak perhatian banget sama aku. Kamu pasti sayang banget sama aku. Aku sayang sama Kakak.

Yuda segera melepaskan pelukan pemuda yang mempunyai tahi lalat di bawah mata. Mata pemuda menajam.

“Sana lo pergi main sama Chopa! Gue mau berangkat kerja.”

Vindra tersenyum kotak yang dibalas tatapan malas kakak kelasnya saat sekolah. Pemuda itu melebarkan gerbang rumahnya. Dia berjalan menuju mobilnya dan mengemudikannya keluar dari halaman rumah. Pemuda pucat itu kembali keluar dari mobilnya, untuk mengunci gerbang.

“Kak Yuda, kenapa kamu nggak bayar satpam buat jaga rumah? Kakak orang kaya, tapi nggak ada asisten rumah tangga dan penjaga rumah.”

“Gue nggak mau ada orang lain masuk ke rumah. Gue juga jarang di rumah, jadi nggak perlu bayar ART atau satpam.” Keningnya mengernyit, dia melihat Vindra masih berdiri di depan rumahnya. “Kenapa lo masih di sini? Katanya mau ajak Chopa jalan-jalan di taman.”

Vindra kembali tersenyum kotak. Senyum itu sangat menyebalkan baginya, karena pemuda berkulit pucat itu tau arti dari senyumannya itu. Yuda menghela napas pelan.

“Ayo, gue antar lo dan Chopa ke taman.”

Yuda berjalan menuju pintu kemudi, dia melihat adik kelasnya tersenyum semakin lebar.

“Ayo Chopa kita berangkat.”

Chopa menggonggong riang, lalu melompat dalam gendongan pemuda tampan itu. Dia berjalan cepat dan masuk mobil Yuda. Keduanya sudah duduk manis di samping pemuda berwajah datar itu.

“Terima kasih, Kak Yuda.” Vindra menatap Chopa di pangkuannya. “Ayo, Chopa bilang terima kasih sama Kak Yuda.”

Vindra mengulurkan satu kaki depan Chopa kepada Yuda yang hanya dibalas tatapan datar. Pemuda di sampingnya menyalakan mesin mobilnya. Laki-laki lebih muda darinya menaikan bahu. Dia sudah terbiasa dengan sikap tak peduli pemuda pucat itu. Dia mengubah posisi Chopa menjadi berdiri.

“Aku tadi bilang mau ajak Chopa bermain di taman. Bukan jalan-jalan ke taman. Benar Chopa?”

Chopa menjilat hidungnya hingga pemuda itu terkekeh geli. Pemuda di sampingnya melirik sekilas, bibirnya membentuk senyuman tipis melihat interaksi menggemaskan dari dua makhluk berbeda jenis itu.

“Tumben lo ajak Chopa keluar. Ada sesuatu?”

Yuda tau alasan adik Rara itu mengajak Chopa bermain. Bukan karena dia tidak ada kegiatan atau karena bosan.

Vindra mengelus kepala Chopa yang saat ini tengah duduk manis dipangkuannya, dia menatap pemuda yang sedang mengemudi.

“Hari ini, tiba-tiba saja aku kangen sama Soonshim. Gimana kabar dia sekarang?”

Pikirannya menerawang mengingat masa kecilnya bersama Soonshim. Saat kecil, dia mempunyai seekor anjing berwarna putih yang diberi nama Soonshim. Dia lahir di kota C yang terletak di bagian selatan.

Saat Vindra masuk sekolah dasar, keluarganya pindah ke kota B. Ayahnya memimpin perusahaan di kota itu. Soonshim dititipkan kepada adik ayahnya di kota C. Saat itu, dia ingin membawa anjing dengan bulu berwarna putih itu tinggal bersamanya, tetapi Darma tidak mengizinkan.

Dia sempat marah kepada Darma karena hal itu, tetapi ayahnya selalu berjanji kalau dia libur sekolah, mereka akan sering menemui Soonshim di rumah paman dan bibinya di kota C.

Saat masih sekolah. Tepatnya sebelum terjadi hal yang menyebabkan merenggangnya hubungan keluarga. Vindra selalu berkunjung ke kota kelahirannya untuk menemui Soonshim, paman, dan bibinya. Paling penting baginya adalah bertemu dengan makhluk berkaki empat kesayangannya.

Lihat selengkapnya