Sinner

Kim Raeneul
Chapter #14

Sinner Empat Belas - Berbagi Cerita

Senna melihat kesamping kanannya lalu mengernyit, Vindra sudah tidak ada disampingnya. Dia menghilang bersama kamera miliknya. Gadis itu bingung mencari keberadaan pemuda tampan itu.

Senna menebak jika kameranya dipakai oleh Vindra tanpa izin darinya. Dia menurunkan Chopa dari pangkuannya, lalu memegang ujung tali leher welsh corgi itu, dia bangkit dari duduknya.

Gadis itu menunduk menatap hewan berbulu coklat itu. “Chopa kita cari majikan lo yang dingin itu. Seenaknya dia bawa kamera kesayangan gue”

Chopa menggonggong sekali lalu mengikuti langkahnya. Dia berkeliling taman dengan peliharaan pemuda itu. Dia akhirnya melihat pemuda tampan itu di depan pintu masuk taman. Dia berjalan cepat menghampiri majikan welsh corgi itu.

Gadis itu menatap tajam pemuda yang saat ini ada di depannya. “Lo ke mana aja? Daritadi gue nyari lo sama Chopa, lo juga bawa kamera gue tanpa izin.”

Pemuda di depannya menatap Senna datar. Gadis itu kembali melanjutkan ucapannya “Gue kira lo udah sembuh dari penyakit kriminal lo. Ternyata benar kata orang, jika penyakit itu, apalagi udah kecanduan, nggak akan pernah sembuh. Walaupun sembuh tetap bisa kambuh lagi.”

Gadis itu tersentak menyadari ucapannya. Perkataan itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya. Dia menunduk, merutuki perbuatannya yang seenaknya bicara mengikuti kata otak.

Niatnya untuk mengajak Vindra berteman, agar dia tidak dingin lagi terhadapnya sepertinya gagal. Dia yakin, adik Rara itu akan bersikap lebih dingin kepadanya atau makin membencinya.

Vindra menatap dingin gadis di depannya yang sedang menunduk. Dia sebenarnya tidak tersinggung dengan ucapan gadis itu. Ucapannya memang benar dan membuatnya semakin sadar, jika dia tidak pantas berada di dekat adik Sevyn di depannya.

Dia sempat berpikir menuruti perkataan sahabatnya untuk tidak bersikap dingin terhadap Senna dan akan menjadikan adik Sevyn itu sebagai teman, tetapi ketika mendengar perkataannya, pemikiran itu tidak akan terealisasikan.

Vindra menyerahkan kamera itu kepada pemiliknya dan satu bungkus makanan yang tadi dibelinya. Pemuda itu mengambil tali leher Chopa dari tangan gadis itu.

“Gue kembaliin kamera lo. Terima kasih. Chopa kita pergi.”

Vindra meninggalkan Senna. Gadis itu dengan cepat mengikutinya untuk meminta maaf. Dia merasa bersalah kepada pemuda itu. Dia juga tidak mau pemuda itu bertambah dingin kepadanya. Gadis berambut panjang itu lebih memilih Vindra yang menyebalkan. Pemuda yang dingin dan misterius itu membuatnya selalu penasaran.

Senna memang sudah mengetahui sebagian tentang Vindra dari kakaknya, tetapi dia merasa masih ada rahasia yang hanya pemuda itu ketahui. Gadis itu masih mengikuti adik Rara sampai di depan pohon besar dan rindang.

Pohon itu menjadi tempat peristirahatan sejenak, setelah dikejar Chopa. Dia meletakkan bungkus makanan yang dibawanya, mengambil mangkuk plastik, dan menuangkan makanan Chopa ke mangkuk itu.

Setelah terisi penuh, dia meletakkan mangkuk itu ke samping kirinya. Hewan dengan wajah menggemaskan itu, langsung memakannya dengan lahap. Setelah memberi makan Chopa, dia langsung membuka ramen yang tadi dibelinya.

Vindra menghela napas pelan ketika melihat Senna yang masih berdiri menatapnya. “Lo nggak ada kerjaan selain ngikutin gue? Gue udah kembaliin kamera lo.”

Senna menghela napas panjang lalu menunduk. “Gue cuma ...”

“Minta maaf? Udahlah nggak perlu. Lupain aja. Kata lo tadi bener semua. Nggak ada yang salah.”

“Maaf.”

Vindra kembali menghela napas panjang. Dia tidak suka melihat wajah bersalah adik Sevyn itu. Dia merasa sangat keterlaluan terhadap gadis manis di depannya. Dia meraih tangan Senna menyuruhnya duduk.

“Duduk. Tadi gue beli ramen buat lo juga. Cepat dimakan ramennya. Kalau sudah dingin, jadi nggak enak.”

Senna hanya mengangguk. Gadis itu duduk di samping Vindra. “Maaf. Gue nggak bermaksud nyakitin lo. Kamera ini berharga banget buat gue. Kamera ini satu-satunya peninggalan dari ayah. Vin, gue bener-bener minta maaf. Gue nggak bermaksud nyinggung lo.”

Vindra mengangguk. “Udahlah, nggak usah dipikirin. Gue sama sekali nggak tersinggung sama ucapan lo.”

Pemuda itu mengambil bungkusan yang ada di tangan Senna, dia membuka penutup ramen itu lalu memberikan kembali ramen itu kepada gadis di sampingnya.

“Makan ramennya. Lo nggak perlu khwatir, ramennya nggak gue kasih racun. Walaupun gue pencuri yang seperti lo bilang, tapi gue bukan seorang pembunuh, kecuali dalam keadaan terpaksa.”

Mata Senna mengerjap. Gadis itu tetap mengambil makanan yang dibelikan Vindra untuknya. “Terima kasih.”

Pemuda itu hanya mengangguk dan memakan ramennya. Keduanya memakan ramen mereka dalam diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Senna masih merasa bersalah, karena telah menuduh pemuda di sampingnya mencuri kameranya. Kenyataanya dia membelikan ramen untuknya.

“Sen, sejak kapan lo suka fotografi?”

Mata Senna mengerjap. Gadis itu mengalihkan tatapannya ke samping dan melihat pemuda itu yang masih sibuk dengan ramennya.

“Awalnya gue iseng ikut ekskul fotografi waktu SMA, karena diajak temen. Abis gue tau dan pelajari semua tentang fotografi, gue jadi suka.”

Dia menghela napas panjang. Matanya menatap ke depan. Pikirannya kembali ke masa sekolah. “Setiap ada waktu luang, gue pasti keluar sama kamera ini. Apa saja bisa gue foto. Hewan, pemandangan, dan manusia.”

Vindra mengalihkan tatapannya ke arah gadis yang masih menatap ke depan. Gadis itu melanjutkan ucapannya.

Lihat selengkapnya