Vindra menyesap ice Americano-nya. Dia menatap gadis di hadapannya datar. Selama lebih dari sepuluh menit, gadis yang ada di depannya bermain dengan Chopa, tanpa memesan makanan atau berbicara kepadanya.
Pemuda itu sudah memanggil sahabatnya untuk memesan menu yang ada di Beyond Café untuk dirinya dan Jesslyn, tetapi ditolak oleh gadis itu. Dia hanya memesan ice Americano untuk dirinya.
Dia tidak masalah jika harus duduk atau hanya merenung. Dia memang menunggu sahabat dan kakaknya untuk pulang bersama. Masalahnya adalah dia penasaran dengan pembahasan yang akan dibicarakan gadis di depannya.
“Vin, gue nunggu Kak Rara. Katanya Kak Rara kerja di sini, tapi daritadi gue nggak lihat dia.”
“Kak Rara sekarang jadi chef di kafe ini. Jadi kalau lo …”
Jesslyn memotong ucapan pemuda yang duduk di depannya. “Itu Kak Rara.”
Gadis itu langsung menggendong Chopa, lalu berjalan cepat menuju kakak mantannya itu. Mata Rara membulat menatap gadis yang sudah lama tidak ditemui dan sudah berada di depannya. Adik pertamanya sudah menceritakan tentang dia yang bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Rara tidak menyangka jika Jesslyn datang menemuinya. Mantan adiknya langsung memeluk dengan chopa yang masih digendongnya.
“Kak Rara maaf. Kakak pasti kaget lihat aku. Aku datang ke sini, mau ngobrol sama Kakak dan Vindra. Kak Rara ada waktu dan udah selesai kerjanya?”
Gadis itu melepas pelukannya. Rara tersadar dari keterkejutannya lalu tersenyum yang membuat gadis di depannya tesenyum. Kakak Vindra dan Melvin itu pernah merasa sakit hati, karena pengakuan Javier jika dia mencintai gadis yang saat ini di depannya.
Rara juga pernah marah kepada Jesslyn, tetapi itu dulu saat dia masih sekolah. Sekarang dia sudah memaafkan Jesslyn dan Javier tanpa mereka harus minta maaf kepadanya. Dia sadar menyimpan perasaan marah dan benci terlalu lama itu tidak baik.
“Jesslyn apa kabar? Udah lama kita nggak ketemu. Ayo kita ngobrol. Kerjaanku udah selesai.”
Jesslyn tersenyum cerah lalu menggenggam tangan Rara. “Kabarku baik. Beneran Kak Rara mau ngobrol sama aku? Aku kira Kakak masih marah karena kesalahanku dulu. Maafin aku, Kak.”
Gadis yang tadinya tersenyum cerah berubah menjadi sendu. Jesslyn kembali mengingat kesalahannya dan Javier yang membuat kedua adik dan kakak itu terluka. Gadis di depannya masih tersenyum, tangannya membelai lembut punggung tangan gadis itu yang menggenggamnya.
“Aku udah maafin kamu, Jess. Kamu nggak perlu minta maaf.” Rara melihat Chopa yang masih berada digendongan Jesslyn, gadis itu membelai lembut kepala Welsh Corgi itu. “Anjingmu lucu.”
Jesslyn melihat Chopa yang berada digendongannya. “Chopa memang lucu, tapi dia bukan punyaku. Chopa ini anjingnya Vindra. Kak Rara nggak tau kalau adikmu pelihara Chopa?”
Rara mengernyit menatap gadis di depannya. “Aku nggak tau, kalau Vindra pelihara anjing.”
Jesslyn mengernyit. Gadis itu melihat adik Rara yang sedang duduk. Pemuda itu menatap datar interaksi kakak dan mantan kekasihnya. Kakaknya yang tadi menatap Jesslyn, mengalihkan tatapan ke arah adiknya.
“Mungkin dia belum cerita sama Kak Rara.”
Rara mengangguk. “Ayo, kita ke sana. Tadi kamu bilang mau ngobrol sama aku dan Vindra.”
Jesslyn mengangguk. Gadis itu menarik tangan Rara. Keduanya berjalan menuju meja Vindra. Beberapa detik saat Rara dan Jesslyn sampai di depan meja, lonceng yang ada di atas pintu kafe berbunyi.
Pintu kafe terbuka dan menampilkan sosok pemuda berpakaian turtle neck abu, coat hitam, celana jeans biru dongker, dan sneakers putih yang melapisi tubuh jangkungnya.
“Kak Javier.”