Sinner

Kim Raeneul
Chapter #16

Sinner Enam Belas - Mempengaruhi

Sudah beberapa hari ini Jayendra tidak berangkat ke kafe bersama sahabatnya, karena pemuda tampan itu tidak menginap lagi di rumah Yuda. Pemuda lebih tua dari mereka tidak melarang lagi Vindra untuk menginap di rumahnya, tetapi sahabatnya rindu beristirahat di rumah bersama kakak dan adiknya.

Walaupun pemilik rumah sempat melarang dia menginap, tetap saja sahabatnya tidak mempedulikan larangan laki-laki yang lebih tua darinya. Selagi sahabatnya masih keras kepala, tidak ada yang bisa melarang dan menasihatinya.

Jayendra mengernyit saat ada seorang berpakaian hitam berjalan menghampirinya. Dia baru saja mengunci pintu gerbang rumah Yuda. Pemilik rumah sudah berangkat kerja saat matahari baru muncul.

Yuda saat ini sedang menyelidiki kasus tentang perusahaan ilegal di kota B. Kemarin malam, dia menemukan beberapa bukti tentang perusahaan yang dia selidiki. Dia berangkat pagi-pagi, karena tidak sabar memberitahu hasil penemuannya kepada rekan dan atasannya.

Pria itu mendekati sahabat Vindra. “Kamu Jayendra Wishnu?”

Keningnya mengernyit semakin dalam. “Iya. Saya Jayendra. Maaf, darimana kamu tau nama saya?”

“Saya disuruh Tuan Nero untuk menjemput kamu, untuk menemuinya. Beliau mau bicara denganmu”

Tuan Nero? Apakah Nero yang selama ini terobsesi dengan Vindra menjadi anak buahnya?”

“Tuan Nero?” Pria di depannya hanya mengangguk. “Maaf, saya harus bekerja. Saya tidak mau terlambat sampai ke tempat kerja. Tolong bilang pada tuan Nero lain kali saja bicaranya. Lagipula saya tidak mengenal nama yang kamu maksud. Saya permisi.”

“Tuan Nero ingin bicara denganmu hanya sebentar. Saya pastikan kamu tidak akan terlambat sampai di tempat kerja.”

Jayendra terlihat berpikir. Dia sebenarnya penasaran dengan orang yang dipanggil tuan ini, tetapi dia harus tetap waspada. Kalau benar Nero yang dimaksud adalah Nero Ardiyo Wiyanto, dapat dipastikan dia akan bicara tentang sahabatnya.

Sahabatnya sudah menceritakan semuanya tentang pengusaha ilegal itu kepadanya. Dia juga sudah memperingatkannya untuk tidak berinteraksi langsung dengan Nero atau anak buahnya. Setelah mempertimbangkan sesaat dia mengangguk.

“Baiklah saya akan ikut denganmu untuk bertemu dengan Tuan Nero.”

Pria di depannya mengangguk. Dia mempersilakan Jayendra untuk masuk mobil. Rasa penasarannya lebih tinggi dibanding peringatan dari sahabatnya.

Jika memang dia sekarang akan bertemu dengan pemuda yang sering diceritakan sahabatnya, dia ingin tau Nero akan bicara apa tentang sahabatnya. Jika dia bicara dengan pemuda yang mempunyai perusahaan ilegal itu, mungkin saja Jayendra bisa sedikit membantu sahabatnya untuk lepas darinya.

***

Vindra menatap tajam dua pelanggan kafe yang sudah dua hari ini datang ke tempatnya bekerja. Dia tidak suka dengan dua pelanggan yang selalu menatap gerak-geriknya.

Sebenarnya dia tidak peduli dengan tatapan para pelanggan yang memperhatikannya, karena dia memang tidak mengenal para pelanggan itu secara pribadi. Dia hanya mengenal pelanggan kafe sebagai pelanggan saja, tidak lebih.

Berbeda dengan dua pelanggan ini. Dia sangat mengenal dua pemuda—pelanggan dadakan—yang selalu memperhatikannya. Mereka bukan hanya memperhatikan gerak-geriknya saja, tetapi mereka juga memperhatikan Senna, Rara, Jayendra, dan karyawan yang lain.

Vindra tidak peduli jika dua pemuda itu ingin menatap karyawan yang lain, tetapi dia tidak suka dengan tatapan mereka yang menatap Senna dan Rara dengan intens.

Kakaknya, Senna, karyawan lain, dan Jayendra tidak menaruh curiga terhadap keduanya. Dua pemuda itu terlalu lihai menutupinya.

“Sebenarnya kalian mau apa datang ke sini?”

Dia meletakkan nampan di meja keduanya kasar, hingga mereka tersentak, karena perbuatannya. Vindra bergantian menatap tajam dua pemuda yang sedang duduk di depannya. Dia duduk di samping pemuda berambut merah.

Pemuda berwajah manis di depannya yang semula memasang wajah terkejut, tersenyum menampilkan gigi kelincinya.

“Apa kabar, Kak Vindra?” Pemuda itu hanya menatap tajam pemuda manis di depannya sebagai jawaban. Pemuda pemilik gigi kelinci bernama Jivan ini memperlihatkan senyum miringnya. “Lo nggak berubah, Kak. Tetap dingin, padahal kita udah lama nggak ketemu.”

“Kalau Nero yang suruh kalian ke sini, bilang sama dia gue nggak mau kerja di sana lagi.”.

Hardi menggeleng. “Nero nggak pernah nyuruh kita ke sini. Gue dan Jivan yang mau lihat keadaan lo. Kita lihat lo betah kerja di sini.”

Vindra menyipitkan matanya ke arah lelaki berambut merah di sampingnya, kemudian beralih menatap pemuda di depannya. Pemuda bergigi kelinci itu mengangguk.

“Omongan Kak Hardi bener, tapi Kakak pasti nggak akan percaya.” Jivan tersenyum tipis. Matanya beralih menatap Senna yang sibuk di kasir. “Dia namanya Senna, kan?”

Pemuda pemilik tato di lengan kiri itu tertawa pelan. Dia melanjutkan ucapannya. “Pantes aja Kak Vindra suka sama dia. Dia cantik dan gue juga suka. Kakak mau saingan sama gue untuk dapatin dia?”

Kedua alis Jivan terangkat, senyumnya kini membentuk seringai. “Gimana, Kak? Tawaran gue menarik, kan?”

Lihat selengkapnya