Jayendra melangkah masuk rumah Yuda. Dia mengernyit ketika melihat pemilik rumah sudah ada di ruang keluarga dengan semangkuk jangjamyeon di tangannya. Jayendra melangkah menuju ruang makan dan menuangkan air ke gelas.
Pemuda berwajah dingin itu hanya melirik sekilas sahabat Vindra. “Tumben lo udah pulang jam segini.”
Jayendra meneguk habis air yang berada di tangannya. “Aku nggak enak badan. Jadi izin pulang lebih awal.” Dia melangkah mendekati pemuda lebih tua dan duduk di sebelahnya. “Kak Yuda baru pulang?”
Yuda mengangguk.. “Lo udah makan? Gue beliin jangjamyeon. Kalau mau, ada di meja makan.”
“Terima kasih, Kak. Aku belum lapar. Nanti aku makan.”
“Bagaimana kabar Vindra? Udah beberapa hari ini anak nakal itu nggak nginep di sini.”
Jayendra tersenyum. Walaupun pemuda di sampingnya selalu memarahi sahabatnya, tetapi dia tau kalau Yuda sangat menyayangi sahabatnya seperti adiknya sendiri. “Dia baik. Kakak pasti kangen sama dia.”
“Gue khawatir sama dia.”
Jayendra mengangguk paham. “Kak, kamu pernah cerita, kalau dia waktu sekolah pernah dikhianati teman-temannya. Apa yang dia lakuin sama teman yang berkhianat itu?”
Yuda melahap mie saus pasta kacang kedelai hitam, dia melirik pemuda di sampingnya datar. “Dia menjauh dan nggak peduli sama mereka.”
Dia melanjutkan ucapannya. “Vindra punya sifat yang sama kayak gue, kalau udah dikhianati. Kita nggak mau berurusan lagi sama mereka. Walaupun orang yang berkhianat itu udah minta maaf dan kita udah memaafkan mereka. Lo punya pikiran berkhianat sama Vindra?”
Mata Jayendra mengerjap. Ucapan pemuda itu tepat sasaran. Hatinya menjadi tidak enak. Walaupun dia tidak pernah berniat mengkhianati sahabatnya.
“Pertemuan dan obrolan gue sama Nero tadi, apakah bisa disebut berkhianat sama sahabat gue?”
Pertanyaan itu terlintas di pikirannya. Sebuah rasa bersalah muncul dihatinya. Tadi dia sama sekali tidak berpikiran sampai sana.
Jayendra menggeleng. “Aku nggak pernah kepikiran kayak gitu. Sampai kapan pun, aku nggak mau mengkhianati atau mengecewakan sahabatku sendiri.”
Yuda mengangguk. “Sebenernya gue nggak terlalu percaya sama lo, tapi gue yakin dan lihat kalau Vindra percaya banget sama lo.”
Pemuda berkulit pucat itu kembali memakan jjajamyeon miliknya. “Sejak dia lepas dari Nero, ketemu sama lo, Senna, dan kerja di kafe Sevyn, gue lihat dia kembali seperti Vindra waktu masih sekolah. Walaupun belum sepenuhnya sifatnya kembali.”
Pemuda itu menatap sahabat Vindra. “Gue harap, lo bisa jadi sahabat yang baik buat dia. Selama beberapa bulan ini, gue lihat dia sayang banget sama lo. Gue punya harapan tinggi sama lo. Lo jangan pernah ngecewain, apalagi mengkhianati dia.”
Yuda meneguk orange juice-nya, dia bangkit dari duduknya dan membawa mangkuk yang sudah kosong ke dapur, meninggalkan Jayendra yang termenung di ruang keluarga.
Apakah gue bisa lakuin itu?
***
Hari sudah menunjukkan jam sepuluh lebih sepuluh menit, Senna masih berkutat membereskan kafe sambil menunggu Sevyn menjemputnya. Kakaknya sedang sibuk mengurus kafe barunya, karena itu dia menugaskan adik semata wayangnya mengurus kafe utama.
Gadis itu sempat kewalahan membagi waktu antara mengurus kafe dan kuliah. Untung saja, kakaknya merekrut karyawan yang bisa diandalkan dalam membantu adiknya, mengurus bisnis kecil peninggalan orang tuanya.
Sevyn juga selalu menyempatkan waktunya untuk menjemput Senna dan pulang bersama. Adiknya sering menolak untuk dijemput kakaknya dengan alasan, dia bisa menjaga diri dan ingin belajar lebih mandiri.
Sevyn sebagai kakak dan orang tua bagi Senna, tidak mungkin membiarkan adiknya pulang sendiri. Apalagi pada malam hari. Tentu saja, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan adiknya. Dia hanya mempunyai adiknya sebagai keluarga.
Lonceng di atas pintu kafe terdengar dan pintu terbuka. Menampilkan seorang pemuda berpakaian serba hitam. Gadis itu mengernyit, karena pelanggan datang walaupun kafe sudah tutup.
“Maaf kafenya udah tutup. Besok aja datang lagi.”
Pemuda dihadapan Senna tersenyum tipis. “Maaf, gue nggak tau kalau kafenya tutup. Papan yang tertempel di pintu itu masih bertuliskan ‘OPEN’ jadi gue masuk saja.”
Pemuda itu menunjukkan papan yang tertempel di pintu kaca. Senna mengikuti arah yang ditunjuk oleh pemuda itu, dia menepuk pelan keningnya.
“Gue lupa balik papan itu. Lo mau pesan apa? Gue akan bikinin sebagai permintaan maaf dan sebagai tanda lo pelanggan terakhir kafe malam ini.”
Pemuda di hadapan Senna terkekeh, menampilkan gigi kelincinya. “Lo lucu banget. Kenapa lo yang minta maaf? Harusnya gue yang minta maaf, gue datang saat kafe lo udah tutup.”
Senna menggeleng, dia melangkah ke meja kasir. “Gue yang ceroboh, jadi lo anggap kafenya masih buka. Lo mau pesan apa?”
“Baiklah, gue pesan hot cappuchino aja.” Senna mengangguk lalu membuatkan hot cappuchino pesanan pemuda manis di depannya. Pemuda bersurai gelap melihat sekitar kafe. “Kenapa lo masih di sini kalau kafenya udah tutup? Lo tinggal di kafe ini?”
Senna menggeleng. Tangannya sibuk membuatkan minuman untuk pemuda itu. “Nggak. Gue lagi nunggu Kakak gue jemput.”
Pemuda itu mengangguk. “Karyawan lo udah pulang semua?”
Senna memberikan hot cappuchino kepada pemuda bergigi kelinci itu. “Iya. Mereka udah pulang duluan. Sambil nunggu Kakak gue datang, gue beres-beres dulu.”
Pemuda itu mengambil satu gelas hot cappuchino dari tangan Senna. “Terima kasih. Berarti lo sendirian di sini?” Gadis itu mengangguk dan memberikan uang kembalian kepadanya. “Lo nggak takut ada penjahat datang? Apalagi lo sendirian di sini.”
Senna hanya menggeleng. Lonceng di atas pintu kafe kembali berbunyi yang membuat gadis itu dan pemuda di depannya menoleh ke arah pintu. Pintu terbuka, terlihat sosok pemuda lain, Vindra. Dia mengernyit melihat pemuda tampan itu kembali ke kafe.