Sinner

Kim Raeneul
Chapter #18

Sinner Delapan Belas - Perubahan

Senna sempat bersitatap dengan Jayendra sebelum pemuda itu hilang di balik pintu pantri. Pemuda itu juga sempat memberikan senyum kecil kepadanya. Bukan hanya Vindra yang merasakan perubahan sahabatnya itu selama tiga hari ini. Dia juga merasakannya.

Walaupun Senna selalu merasa jengkel dengan sikapnya yang selalu menggoda, tetapi dia tak memungkiri jika Jayendra memang sahabatnya yang paling baik. Tatapannya kini beralih kepada pemuda yang selalu ada dipikirannya.

Senna tau jika pemuda itu mengkhawatirkan sahabatnya. Selama beberapa bulan mengenal kedua sahabat itu, dia bisa melihat mereka saling melindungi, terutama Vindra. Dia tidak salah mempercayai perasaannya jika pemuda itu orang baik.

Vindra mengalihkan tatapannya. Netranya langsung bertatapan dengan Senna. Dia memberikan senyuman lembut kepadanya dan melihat rona di pipi gadis itu.

Senna ingin mengalihkan tatapannya dari pemuda itu, tetapi tidak bisa. Tanpa sadar tatapannya beralih ke bibir tebal pemuda tampan itu. Kedua pipinya semakin memanas. Dia tiba-tiba teringat kejadian tiga hari yang lalu, bibir pemuda itu menyentuh lembut bibirnya.

Lonceng di atas pintu kafe berbunyi mengalihkan atensi keduanya. Senna menghirup napas pelan, karena pelanggan yang datang telah menyelamatkannya. Seorang pemuda tampan masuk. Dia tersenyum ketika melihat pemuda tampan itu.

Vindra menyipitkan matanya ketika melihat pemuda itu. Pemuda tampan bergigi kelinci—Jivan—tersenyum menggoda saat melihatnya. Dia hanya menatap datar, sebelum dia pergi mengambil pesanan pelanggan.

“Lo datang lagi.”

Jivan mengangguk. “Iya. Gue kan pelanggan setia kafe. Gue suka banget makanan dan minuman di sini. Makanan dan minuman di sini enak, pantas aja kafe ini selalu ramai dan menjadi favorit.”

Senna tersenyum. “Terima kasih. Lo mau pesan apa?”

Ice cappuccino.” Senna mengangguk. Gadis itu lalu membuatkan segelas ice cappuccino untuknya. “Lo pacaran sama Kak Vindra?”

Mata gadis itu membola mendapat pertanyaan tidak terduga. Gadis itu menggeleng. “Nggak. Kita cuma teman kerja.”

Jivan mengangguk. “Gue lihat kalian dekat kayak orang pacaran. Semalem dia nggak ragu peluk lo posesif di depan gue.”

Senna berucap lirih. “Gue juga nggak tau alasan dia lakuin itu semalam.”

Ucapan gadis di depannya masih bisa dia dengar, tetapi Jivan pura-pura tidak mendengarnya. “Lo ngomong apa?”

“Nggak apa-apa. Ini ice cappuccino-nya. Ada yang lain, yang mau lo pesan?”

Jivan menerima ice cappuccino dari tangan Senna. “Gue pesan dua jajangmyeon. Kalau boleh, gue pesan ice cappuccino lagi buat Kak Hardi?”

“Tentu aja. Sebentar, gue bikinin lagi ice cappuccino-nya.” Tatapan Senna beralih kepada Jayendra yang sedang mencatat pesanan pelanggan. “Jayendra.”

Jayendra menoleh saat mendengar panggilan dari gadis itu. Dia langsung menghampiri Senna. “Ada apa?”

“Tolong buatin dua jajangmyeon untuk pelanggan kita.”

Jayendra menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Dia tau jika Jivan salah satu pelanggan Beyond Café, karena sudah dua minggu ini pemuda bergigi kelinci itu setiap hari datang. Dia hanya menggangguk dan menatap menggoda gadis itu sebelum dia pergi.

Gadis itu menyipitkan matanya saat Jayendra kembali menggodanya. Setelah tiga hari ini pemuda itu terlihat berbeda. Tatapannya kembali kearah Jivan.

“Van, lo duduk aja dulu, sambil nunggu pesanan.”

Jivan mengangguk. “Abis bikin ice cappuccino, lo temani gue ngobrol.” Dia melihat sekitar. “Mumpung kafe nggak banyak pelanggan.”

Senna hanya mengangguk. Tidak ada salahnya mengobrol dengan Jivan. Walaupun Vindra memperingatkannya tidak terlalu dekat dengan pemuda bergigi kelinci itu, tetapi dia merasa pemuda di depannya baik.

Jivan duduk di bangku depan kasir, dekat dengan pintu masuk. Selama lima menit, Senna membuatkan ice cappuccino untuknya. Gadis itu menghampirinya yang sedang menunggu pesanan jajangmyeon-nya datang. Keduanya saling mengobrol banyak hal.

***

Vindra langsung mengambil bungkusan berisi dua jajangmyeon dari sahabatnya, ketika dia memberitahu jika pesanan itu untuk Jivan. Keningnya mengernyit, melihat sikap sahabatnya yang tidak biasa.

Lihat selengkapnya