Hari sudah menunjukan jam dua pagi, tetapi Senna belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang kepada Vindra. Sudah lima hari semenjak dia memperingatkan pemuda tampan itu tentang Jivan, dia kembali dingin kepadanya.
Senna memang sudah terbiasa dengan sikap dinginnya, tetapi di sisi lain dia merindukan sikap manis dan lembut pemuda itu kepadanya.
Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan pemuda tampan. Kakaknya mengernyit. Tidak biasa adik manisnya ini belum tidur dan hari sudah hampir pagi. Dia selalu datang saat Senna sudah terlelap. Dia memang selalu menyempatkan mampir ke kamar adiknya, memberikan ciuman selamat tidur di kening gadis manis itu.
Sevyn mendekati adiknya yang sedang melamun. “Belum tidur?”
Senna mengalihkan tatapannya, dia tersenyum saat pemuda tampan itu sudah duduk di sampingnya. “Belum. Kenapa Kakak juga belum tidur.”
Pemuda bernama Sevyn—kakak Senna—menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
“Kakak mau lihat adikku yang cantik dulu, sebelum tidur. Kenapa belum tidur? Udah hampir pagi. Kamu besok kuliah?”
“Aku lagi ngerjain tugas.”
Sevyn mengintip layar laptop yang ada dipangkuan adiknya. “Tugas kamu ada hubungannya sama foto Vindra?”
Kening Senna mengernyit. Dia menatap kakaknya meminta penjelasan. Pemuda tampan di sampingnya hanya menunjuk layar laptop adiknya dengan dagu. Mata gadis itu membola saat melihat layar. Dia dengan cepat menutup laptopnya.
“Bukan … Jangan salah paham, Kak.”
Sevyn terkekeh melihat adiknya yang salah tingkah. Dia mencubit gemas pipi Senna yang memerah. “Ya ampun, adikku lagi kasmaran. Kakak nggak nyangka, kamu udah gede dan kenal cinta. Alasan kamu nggak bisa tidur kerena Vindra?”
Sevyn terus menggoda adiknya sampai dia menutup wajahnya dengan bantal. Memang, daritadi dia memikirkan pemuda dingin, karyawan kakaknya itu. Dia juga melihat foto-foto Vindra yang sudah dipindahkan dari memori kameranya ke laptop.
Niat awalnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya juga gagal, karena memikirkan pemuda tampan itu.
“Kak Sevyn, jangan godain aku!”
“Baiklah. Aku nggak godain kamu lagi, tapi kamu harus cerita. Kenapa kamu jam segini belum tidur? Lagi pikirin apa? Kalau punya masalah, cerita sama aku. Jangan pendam masalahmu sendiri.”
Senna membuka kembali laptopnya. Dia menutup satu persatu aplikasi yang dia buka, dia mematikan laptopnya. Setelah laptopnya mati, dia meletakkan laptop itu di nakas. Dia mengalihkan tatapannya ke arah kakaknya.
Senna yakin kakak satu-satunya ini sedang menunggunya bercerita. Dia menarik napas panjang. Sebenarnya dia ragu menceritakan perasaannya terhadap Vindra kepada Sevyn.
“Menurut Kak Sevyn, Vindra orangnya gimana?”
Senna menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia dapat melihat kakaknya yang sedang berpikir.
“Udah lama aku nggak ketemu sama dia, karena waktuku dihabiskan di kafe baru kita. Kalau kamu tanya pendapatku tentang Vindra …”
Sevyn melanjutkan kalimatnya. “Aku lihat sih dia orangnya baik, sayang sama kakak dan adiknya, dan juga pekerja keras. Dalam bekerja, dia orangnya rajin dan teliti.” Dia menatap adik di sampingnya. “Kenapa kamu tanya tentang Vindra? Kamu beneran suka sama dia?”
Senna kembali menarik napas panjang. “Jujur, aku emang suka sama dia, tapi aku bingung sama perasaan aku sendiri. Aku hanya suka karena kagum atau lebih. Hubungan aku sama dia juga nggak begitu dekat. Walaupun aku setiap hari ketemu sama dia, tapi aku jarang ngobrol sama dia.”
Senna melanjutkan perkataannya. “Diantara karyawan Kakak yang lain, aku selalu ngobrol dan dekat sama Jayendra. Walaupun dia selalu bikin aku kesal dan sering goda aku, tapi Jayendra baik banget sama aku.”
Sevyn mengangguk. “Aku lihat Vindra orangnya bisa akrab dengan siapa saja.”
Senna menatap kearah kakaknya. “Vindra selalu bersikap dingin sama aku, Kak. Walaupun dia kelihatan ramah sama pelanggan dan pegawai lain, tapi dia lebih dekat dan sering ngobrol sama Jayendra sahabatnya.”
Senna menghela napas pelan. “Baru sebulan terakhir ini dia bersikap lembut dan nggak dingin lagi sama aku, tapi lima hari ini dia dingin lagi.”
“Kenapa bisa gitu?” tanya Sevyn penasaran.
Senna menggelengkan kepalanya. “Waktu Kakak minta tolong untuk jemput dan antar aku pulang, karena harus nginap di kafe baru, Vindra ngingetin aku jangan terlalu dekat sama Jivan. Jivan itu teman lama Vindra yang sekarang jadi pelanggan kafe kita.”
Gadis itu mengalihkan tatapannya ke depan. “Setiap hari Jivan selalu beli makanan dan minuman di kafe kita. Lima hari yang lalu, aku nasihatin dia agar bersikap sopan sama Jivan, karena dia adalah pelanggan kita, sama seperti pelanggan yang lain. Besoknya dia bersikap dingin lagi sama aku.”
Sevyn mengangguk. “Kamu kangen sikap lembut Vindra sama kamu?”
“Entahlah. Aku udah biasa dengan sikap dia yang dingin, tapi aku juga mau dekat sama dia seperti Jayendra dan yang lain, tapi kayaknya dia nggak mau dekat sama aku.”
Sevyn merangkul bahu Senna. Dia mengusap kepala adiknya. “Adik kecilku beneran lagi jatuh cinta sama Vindra. Kamu pasti nggak tau, kalau dia juga suka sama kamu. Dari cerita kamu, aku ngerti alasan dia bersikap dingin lagi, setelah dia bersikap lembut sama kamu.”
Senna mendongak agar dia bisa melihat kakaknya. Kening gadis itu mengerut. Kakaknya tersenyum, dia mengangguk.
“Dia cemburu sama Jivan. Makanya dia dingin lagi sama kamu.”