Sinner

Kim Raeneul
Chapter #20

Sinner Dua Puluh - Rencana Nero

Hardi dan Jivan sedang dalam perjalanan menuju tempat kelahiran Jayendra. Pemuda berambut merah itu sempat berdebat dengan Nero tentang penyelidikan keluarga sahabat Vindra. Dia tau pemuda berlesung pipi adalah orang yang licik, tetapi tindakannya kali ini terlalu berlebihan.

Jika Nero menginginkan Vindra menjadi anak buahnya, harusnya dia tidak melibatkan sahabatnya yang tidak tau apa-apa, dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalahnya dan pemuda itu. Apalagi melibatkan keluarganya.

Setelah mengalami perdebatan yang panjang, akhirnya Hardi mengalah dan menuruti permintaan bos sekaligus saudara sepupunya ini. Pemuda yang memiliki tinggi lebih dari seratus delapan puluh centimeter itu adalah pendebat keras kepala.

Siapa pun yang berdebat dengannya tidak akan menang. Nero selalu mendengarkan pendapat Hardi dan menurutinya, tetapi kali ini dia tidak mau mendengarkan pendapat sepupunya.

Pemuda memiliki senyum secerah matahari itu tidak mengerti alasan sepupunya sangat terobsesi menjadikan Vindra sebagai anak buahnya lagi.

Jivan melihat Hardi yang sedang fokus menyetir. Pemuda pemilik gigi kelinci itu kesal, karena tugas ini dia absen untuk mendekati Senna dan membuat Vindra cemburu.

“Kak Hardi, lo pernah kepikiran berhenti dari pekerjaan ini seperti Kak Vindra?”

Hardi melirik sekilas pemuda di sampingnya. “Gue selalu mikirin itu, tapi gue belum tau kapan berhenti dari pekerjaan ini. Lo kepikiran gitu karena Senna? Lo udah mulai suka sama dia?”

Jivan menggeleng. “Gue iri sama Kak Vindra. Dia punya orang yang sayang banget sama dia. Senna tau tentang dia yang pernah jadi anak buah Kak Nero. Gue juga pengen punya kehidupan normal seperti orang lain.”

Pemuda berambut merah itu mengangguk. “Gue juga mau punya istri dan anak seperti orang biasa. Kalau gue masih kerja kayak gini, gue nggak yakin bisa kasih ketenangan dan kebahagiaan buat mereka.”

Tanpa terasa mereka sudah sampai di pasar Induk yang berada di pelabuhan Nagara, kota Seberang. Hardi memarkirkan mobilnya. Keduanya berjalan untuk menyelidiki keluarga Jayendra.

Mereka sudah mendapat informasi jika keluarga sahabat Vindra itu mempunyai kios ikan di pasar Induk. Keduanya juga sudah mempunyai foto keluarga pemuda itu. Tidak perlu waktu lama untuk keduanya menemukan ibu dan adik Jayendra.

Mereka melihat ibunya dan Jaya—adik Jayendra—masih berada di pasar. Beberapa menit kemudian anak bungsunya menutup kios ikannya, karena waktu sudah menunjukan jam enam sore. Keduanya mengikuti mereka sampai rumah.

Mereka tidak menyangka jika jarak dari pasar menuju rumah Jayendra lumayan jauh. Butuh waktu tiga puluh menit untuk mereka sampai ke rumah dengan berjalan kaki. Mereka melihat kedua ibu dan anak itu masuk ke sebuah rumah yang mereka yakin rumah keluarga Jayendra.

Hardi dan Jivan menghela napas berat. Keduanya merasa iba melihat betapa harmonisnya keluarga Jayendra yang sebentar lagi hancur karena kelicikan Nero. Pemuda berambut merah itu mengambil ponsel dari saku celananya.

Dia mengirimkan pesan bahwa mereka sudah menemukan tempat tinggal Jayendra di kota Seberang.

Di tempat lain, Nero tersenyum mendengar kabar dari sepupunya. Dia langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengantarnya ke kota kelahiran Jayendra. Dia sudah tidak sabar menjalankan rencananya agar Vindra mau kembali menjadi anak buahnya.

***

Sebelum berangkat ke kafe, Jayendra menyempatkan untuk menelepon keluarganya di kota kelahirannya. Hal ini sudah dia lakukan beberapa hari ini. Hari ini adalah hari kesepuluh semenjak dia bertemu dengan Nero.

Batas waktu yang diberikan pemuda itu memang seminggu untuk membujuk sahabatnya kembali berkerja bersamanya. Melewati batas itu, Nero akan melakukan sesuatu kepada keluarganya. Perlu diingatkan kembali dia tidak pernah menandatangani surat perjanjian yang diberikan direktur muda.

Jayendra juga sudah merobek dan membuang surat perjanjian itu. Dia tidak salah ingat, jika dia menandatangani surat perjanjian itu, dia wajib menjalankan semua perintahnya. Dia sama sekali tidak menandatangani perjanjian itu, berarti dia bebas dari semua perintahnya.

Walaupun secara umum dia bebas dari perintah pemuda pirang itu, tetapi dia tetap waspada. Nero adalah manusia licik. Dia akan melakukan apa saja agar semua orang mengikuti perintahnya.

Setelah beberapa hari mengalami kebingungan menghadapi kelicikan Nero, dia akhirnya mendapatkan cara agar dirinya tidak lengah dengan kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya. Dia setiap hari menelepon Jaya untuk memastikan keluarganya masih dalam keadaan baik-baik saja.

Dia juga menceritakan semua masalahnya kepada adiknya, terutama tentang masalahnya dengan Nero.

Dia menceritakan masalahnya bukan tanpa alasan. Menurut pemuda itu, Jaya adalah satu-satunya orang yang bisa berbagi apa pun dengannya.

Dia tidak punya keberanian mengatakan hal itu kepada orang-orang yang dekat dengannya. Walaupun masalah ini masih berkaitan dengan Vindra, tetapi dia tidak ingin menjerumuskan sahabatnya lagi.

Hanya Jaya satu-satunya orang yang mengetahui masalahnya. Adiknya adalah satu-satunya harapannya untuk bisa melindungi keluarga mereka, selagi dia tidak ada.

***

Jaya sedang membereskan ikan yang baru saja ditangkap oleh ayahnya tersentak mendengar suara dering ponselnya, yang memberitahu ada panggilan masuk. Dia mengusap tangannya yang basah pada apron yang melingkar di pinggangnya.

Lihat selengkapnya