Sinner

Kim Raeneul
Chapter #21

Sinner Dua Puluh Satu - Dua Kekacauan

Sahabatnya sudah dua hari ini menginap di rumah pemuda pucat itu, setelah sebulan lebih absen menginap. Hari itu pemuda bermata elang berinisiatif membuatkan tiga roti panggang dan tiga gelas susu untuk sarapan mereka.

Yuda yang baru saja keluar dari kamarnya mengernyit saat kedua sahabat itu sudah duduk manis di ruang makan miliknya. Dengan alasan Vindra ingin sarapan bersama sahabatnya dan kakak laki-lakinya, pemuda itu menyuruh—tepatnya memaksa—pemuda lebih tua untuk sarapan bersama.

Dengan wajah malas akhirnya pemuda berwajah dingin itu mau sarapan bersama keduanya. Kegiatan langka pagi hari ketiganya sarapan bersama.

Di tengah sarapan bersama, ponsel Jayendra berbunyi. Dia mengambil ponselnya yang bergetar dan menampilkan nama Jaya. Dia mengernyit, karena tidak biasa adiknya yang lebih dulu meneleponnya.

Vindra yang melihat raut wajah sahabatnya yang keheranan, menepuk pundaknya. “Ada apa?”

Sahabatnya menoleh. “Telepon dari Jaya.”

“Jaya, adikmu? Kenapa nggak diangkat?”

Jayendra hanya mengangguk, pemuda itu menekan tombol hijau di layar ponselnya. “Halo Jaya, ada apa? Tumben nelepon duluan.”

Terdengar kekehan dari seberang yang membuat pemuda itu kembali mengernyit. “Halo, Kak Jayendra, apa kabar? Udah lama nggak ketemu.”

Tak lama terdengar suara teriakan. “Kak Jay, kamu jangan mau menuruti keinginan mereka. Kak … aaargh …”

Kedua mata Jayendra membola mendengar teriakan dari adik dan kedua orang tuanya. Dia bangkit dari duduknya dan menjauh dari Vindra dan Yuda. Dia tidak mau kedua pemuda itu di dekatnya curiga.

Vindra memperhatikan tingkah laku sahabatnya yang terlihat gelisah. Sementara Yuda terlalu sibuk dengan sarapan.

Jayendra, lo pasti denger teiakan Adik dan kedua orang tua lo? Gue nggak pernah main-main sama ucapan gue. Gue udah bilang, kalau lo nggak ngelakuin perintah gue atau lo nggak berhasil bujuk sahabat lo itu, jangan harap keluarga lo selamat. Sekarang gue di kota kelahiran lo sama keluarga kesayangan lo. Lo mau ngobrol sama mereka?”

Tangan pemuda itu mengepal erat. “Jangan pernah lo nyakitin dan sentuh keluarga gue.”

Nero hanya tertawa pelan, dia tidak peduli ucapan pemuda itu. “Pak, Bu, anak sulung kalian mau ngomong.”

Nero menempelkan ponsel Jaya di telinga Meri. “Jayendra, Ibu mohon jangan turutin perkataan dia. Ibu nggak mau kamu jadi orang jahat.”

Pemuda berlesung pipi itu menjauhkan ponsel Jaya dari Meri. “Walaupun Ibu dan Adik lo bilang jangan menuruti keinginan gue, tapi semua ada di keputusan lo. Lo pasti tau cara agar keluarga lo selamat.”

Jayendra mendengkus. “Apa yang lo mau?”

Anak pintar. Gue mau lo udah ada di sini dalam waktu tiga jam dari sekarang. Kalau lo nggak datang dalam waktu yang udah gue tentuin, lo nggak akan ketemu lagi sama keluarga lo.”

Telepon diputus sepihak. Pemuda itu harus cepat-cepat sampai ke kota kelahirannya dalam waktu tiga jam. Dia menghela napas pelan. Dia tidak tau cara agar cepat sampai kampung halamannya dalam waktu singkat. Dia belum pernah pulang ke kota kelahirannya semenjak tinggal di Kota B. Ditengah kebingungannya, pemuda itu dikagetkan oleh suara sahabatnya.

“Kenapa?”

“Gue nggak bisa kerja hari ini. Ibu sakit dan gue harus pulang sekarang. Di sini ada kereta yang menuju kota Seberang?”

Vindra mengangguk. “Ada. Gue antar lo ke stasiun. Abis gue anter lo, gue ke kafe kasih tau Kak Sevyn, kalau lo izin.”

Jayendra mengangguk. “Terima kasih, Vin.”

Vindra mengangguk. Pemuda itu mengalihkan tatapannya pada Yuda. “Kak Yuda, aku dan Jay pergi.”

Keduanya keluar dari rumah Yuda yang bertepatan dengan pemilik rumah yang hendak keluar. “Jay, Ibu lo sakit?”

Jayendra mengangguk. “Iya, Kak. Aku harus cepet pulang.”

Lihat selengkapnya