Tiga jam kurang lima menit, Jayendra sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Sebenarnya dia sudah sampai di kota kelahirannya setengah jam yang lalu, tetapi karena jarak bandara menuju rumahnya lumayan jauh, pemuda itu baru sampai.
Baru saja dia melangkah ke teras rumahnya, dia sudah dihadang oleh dua orang anak buah Nero. Untung saja mereka mengenalinya, tanpa buang waktu dia memasuki rumahnya yang sekarang sudah seperti markas pemuda berlesung pipi itu.
Dia melihat senyuman di wajah direktur muda itu, yang hanya dibalas tatapan datar. Matanya beralih ke kanan, dia melihat kedua orang tua dan adiknya duduk terikat. Mulut mereka juga ditutup dengan sapu tangan agar mereka tidak bisa teriak.
Dia bisa melihat memar di wajah kedua orang tuanya dan Jaya. Walaupun luka kedua orang tuanya tidak terlalu parah dibandingkan adiknya, tetap saja ada rasa sakit yang pemuda itu rasakan.
Adiknya berulang kali berusaha untuk kabur, tetapi usahanya selalu gagal. Pemuda itu berakhir dengan tambahan luka di wajah dan tubuhnya.
Jayendra menatap nanar kedua orang tua dan adiknya. Dia melangkah menuju mereka. Setelah dekat, dia berlutut diantara kaki ayah dan ibunya. Dari jarak dekat, dia dapat melihat luka lebam yang saat ini sudah kebiruan di wajah keriput orang tuanya.
Dia mengucapkan kata maaf tanpa suara kepada kedua orang tuanya yang dibalas oleh gelengan dari keduanya. Dia menghela napas pelan. Dadanya sesak melihat keluarganya terluka.
Nero berjalan mendekati pemuda itu. “Lo tepat waktu banget, Jay.”
Jayendra menutup matanya, dia menunduk dan bangkit dari berlututnya. Matanya menatap tajam Nero yang saat ini tersenyum tipis ke arahnya. Sesaat matanya membola ketika melihat Jivan dan Hardi berada di sisi kiri dan kanan pemuda itu.
Dia tidak menyangka jika keduanya adalah anak buah Nero. Dia kini mengerti kalau sahabatnya tidak menyukai Jivan mendekati Senna. Alasannya bukan hanya karena cemburu, tetapi dia tau jika pemuda bergigi kelinci itu ada hubungan dengan Nero.
“Lo sekarang bisa lihat gimana kondisi keluarga lo. Lo harus jadi anak baik dan penurut sama gue.”
Tangan pemuda itu hendak mengusap surai coklatnya, tetapi dengan kasar ditepis olehnya. Matanya semakin menajam melihat pemuda di depannya tertawa pelan. Tangannya bergerak cepat memukul rahang pemuda di depannya, hingga sudut bibirnya terluka.
Nero hanya tersenyum tipis. Dia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Jivan, Hardi, dan tiga anak buahnya hendak mengunci semua pergerakan Jayendra, tetapi pemuda itu melarangnya.
“Gue udah bilang, jangan pernah nyentuh atau sakiti keluarga gue, bajingan!”
Nero mengangguk. Dia hanya menatap datar pemuda lebih pendek darinya. “Lo sendiri yang minta gue lakuin hal itu, Jayendra.”
Satu pukulan kembali dilayangkan di pipi kirinya, hingga dia tersungkur. Jivan dan Hardi segera membantunya berdiri. Ketiga anak buah yang sudah siaga di belakang Jayendra hendak mendekati pemuda itu, tetapi dengan bahasa tubuhnya dia melarangnya.
“Gue nggak pernah minta apa pun sama lo, brengsek!”
Beberapa pukulan kini dia dapatkan dibagian perut dan wajahnya. Dia kembali tersungkur dan meringis. Dari mulut dan hidungnya semakin banyak mengeluarkan cairan merah.
Pemuda di depannya hendak memukulnya lagi, tetapi dengan cepat Hardi dan Jivan memegang kedua tangannya. Keduanya membawa pemuda itu menjauh dari Nero.
“Lepasin gue! Lo mau apa dari gue? Lo nggak puas ngerusak hidup banyak orang?” Dia berontak dari cengkeraman kedua pemuda yang menahan pergerakannya. Semakin dia berontak, semakin kuat cengkeraman kedua pemuda itu di kedua tangannya. “Lepasin gue, brengsek!”
Dia membersihkan bibir dan hidungnya yang penuh dengan darah, tangannya memegang perutnya yang terasa nyeri. Pukulan Jayendra tidak main-main. Dia tidak menyangka pemuda itu sungguh berani menentangnya.
Kedua orang tua dan adik Jayendra hanya menatapnya tidak berdaya. Meri ingin berteriak mencegah anak sulungnya untuk tidak memukul orang lagi, tetapi mulutnya tertutup sapu tangan.
“Lo bilang gue ngerusak hidup banyak orang? Menurut lo itu semua kemauan gue?” Pemuda itu menggeleng. “Nggak. Mereka yang datang ke gue. Mereka yang pinjam uang sama gue untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka udah tau semua resikonya dan mereka setuju.”
Nero menghela napas panjang. “Gue berbaik hati pinjemin uang sama mereka. Gue udah pake cara halus buat ambil uang yang udah gue pinjemin, tapi cara halus gue selalu dipandang remeh sama mereka. Mereka lebih galak dari gue, padahal gue cuma minta uang gue yang mereka pinjam.”
Pemuda itu menatap Jayendra dan melanjutkan ucapannya. “Setelah dengan cara halus mereka nggak balikin semua uang gue, gue masih salah pake kekerasan. Mereka yang mau. Kalau nggak mau pake kekerasan, balikin uang yang gue pinjam tepat waktu.”
Dia mendekat kearah sahabat Vindra itu. “Lo bener. Lo nggak pernah minta apa pun dari gue. Keluarga lo nggak punya hutang sama gue, tapi lo nggak mau bantu gue. Lo pasti ingat ucapan gue kalau lo nggak mau bantu gue? Gue hanya melakukan kewajiban gue.”
Mata Jayendra membulat. “Gue nggak pernah bilang mau bantu lo. Lo tadi bilang kewajiban? Kewajiban ngerusak kebahagiaan dan melukai keluarga gue yang nggak ada hubungannya sama lo? Itu yang lo maksud kewajiban? Apa menurut lo adil?”