Sinner

Kim Raeneul
Chapter #23

Sinner Dua Puluh Tiga - Terluka

Vindra masih terus berusaha melepaskan cengkeraman ayahnya kepada kakaknya. Darma terus menarik kakaknya. Pria paruh baya itu tidak mau melepaskan anak sulungnya. Dia terus berusaha menarik anak sulungnya dan mendorong anak keduanya, saat dia membantu kakaknya.

Tanpa pikir panjang, anak tengahnya berlari ke dapur dan mengambil pisau. Mata kakaknya membola ketika melihat adiknya memegang pisau di tangannya. Dia hendak menikam ayahnya.

“Vindra, jangan!”

Teriakan anak sulungnya berhasil membuat Darma melonggarkan cengkeramannya. Tanpa buang waktu, gadis itu melepaskan diri dari ayahnya dan berlari menuju adiknya. Dengan kasar dia menepis tangan adiknya, hingga pisau digenggaman adiknya terbanting ke lantai.

“Vin, kamu mau bunuh ayah kandung kita?”

Vindra mendengkus, matanya menatap tajam pria paruh baya di depannya. “Kakak masih anggap dia Ayah kandung kita setelah dia memperlakukanmu seperti binatang? Dia mau jual Kakak untuk bayar semua hutang-hutangnya. Apa itu sikap seorang Ayah yang baik?”

“Aku tau, tapi dia tetap Ayah kita. Kita masih harus bersikap hormat kepadanya. Kamu nggak ingat nasihat Bunda? Apa pun yang terjadi kita harus saling menghormati dan menyayangi.”

Matanya beralih kepada kakaknya sendu. Rasa bersalah kembali hinggap di hatinya, jika melihat kakaknya kecewa dan sedih. Dia menghela napas kasar. Kemarahannya seketika menguap. Tanpa keduanya sadari Darma memanfaatkan situasi diskusi kedua anaknya.

Pria paruh baya itu mengambil pisau yang tadi dibanting oleh anak sulungnya. Diam-diam dia mendekati satu-satunya anak perempuannya, lalu mengunci lehernya. Anak sulungnya tercekat ketika merasakan dinginnya ujung pisau dipipinya.

“Terima kasih udah membela aku di depan adikmu. Waktu diskusi sudah selesai, ayo kita pergi anakku.”

Mata Vindra kembali menajam. “Lepaskan Kakakku!”

Darma tersenyum tipis, dia mengarahkan mata pisau ke anak keduanya. “Selangkah kamu mendekat, akan kupastikan pisau ini mengiris leher Kakakmu.”

Vindra seketika mundur. Dia tidak ingin kakaknya terluka. Ayahnya tersenyum lebar, dia mengarahkan mata pisau ke leher anak sulungnya. Pria paruh baya itu berjalan melewati anak tengahnya.

Vindra mengambil vas bunga yang tidak jauh darinya, dia memukul pundak ayahnya hingga vas bunga itu pecah. Pria paruh baya itu meringis karena sakit dipundaknya, dia berbalik hingga pisau yang digenggamnya tak sengaja terkena lengan anak tengahnya.

Vindra meringis. Cairan merah segar keluar dari permukaan bajunya. Merasa ada kesempatan untuk meloloskan diri, anak sulungnya menginjak kaki ayahnya hingga cengkraman di leher gadis itu terlepas. Gadis itu berlari mendekati adiknya.

Dia melihat luka di lengan adiknya. Luka itu tidak terlalu dalam hanya tergores, tapi cukup lebar, hingga darahnya masih mengalir.

Mata adiknya membulat, dia melihat ayahnya sudah berada di belakang kakaknya. “Kak Rara, awas!”

Pemuda itu mendorong keras tubuh ayahnya, hingga kepalanya terlebih dulu membentur dinding. Pisau digenggamannya terpelanting. Ayah mereka meringis, cairan merah mengalir di kepalanya. Matanya yang tadinya menatap tajam kedua anaknya perlahan memejam.

Rara yang melihat ayahnya pingsan dengan darah yang mengalir di kepalanya, segera menghampiri pria itu. Dengan hati-hati, gadis itu menepuk pipi Darma. Butiran bening mengalir dimatanya

“Ayah bangun. Ayah.”

Rara berlari ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia menelepon petugas medis agar ayahnya bisa langsung dibawa ke rumah sakit.

Mata Vindra mengerjap. Dirinya masih mencerna yang dilakukannya kepada ayahnya. Dia terduduk lemas. Dia menghela napas pelan. Matanya menatap frustasi kepala ayahnya yang sudah banyak mengeluarkan darah.

Pikirannya sudah dipenuhi dengan kalimat, “Vindra, lo udah bunuh ayah lo sendiri.”

Tatapan kakaknya beralih ke arah adiknya. Gadis itu mendekati adiknya. “Vin.”

Pemuda itu menggeleng. Dia menatap kakaknya dengan tatapan kosong. “Ayah udah meninggal, Kak. Aku udah bunuh Ayah.”

Butiran bening yang keluar dari mata gadis itu mengalir semakin deras, dia menggeleng. Gadis itu mencengkram pundak adiknya.

“Ayah belum meninggal. Kita masih bisa menyelamatkan Ayah. Sebentar lagi ambulans datang. Kita bawa Ayah ke rumah sakit.”

Vindra menatap kakaknya tepat dimatanya. Gadis itu dapat melihat rasa sedih, frustasi, rasa bersalah, dan kecewa dimata adiknya. Pemuda itu menggeleng.

“Aku pembunuh, Kak. Aku udah bunuh Ayahku sendiri.”

Rara merengkuh tubuh adiknya. Gadis itu menggeleng. “Ayah kita masih hidup, Vin. Aku mohon jangan kayak gini.”

Lihat selengkapnya