Jayendra makan malam bersama adik dan kedua orang tuanya. Dia sangat merindukan makan bersama dengan keluarganya seperti ini. Merantau di kota orang, membuatnya tidak bisa sering merasakan hangatnya makan bersama dengan keluarga.
Lima tahun bekerja di Kota J, dia hanya mendapatkan libur sebulan sekali. Bahkan beberapa bulan sekali hanya untuk pulang ke kota kelahirannya. Mengingat hal ini, dia lebih bersyukur masih bisa makan bersama dengan kedua orang tuanya yang masih lengkap.
Banyak orang seusianya yang tidak dapat makan bersama dengan keluarganya, bersama ayah dan ibunya. Berpikir tentang hal itu, dia menjadi teringat kepada sahabatnya, Vindra. Dia menghela napas pelan. Dia lebih beruntung dibanding sahabatnya.
Jayendra bersyukur masih bisa berkumpul dengan keluarganya lengkap. Setelah Nero pergi dari rumahnya, dia melepaskan ikatan di tubuh kedua orang tua dan adiknya. Cairan bening mengalir di matanya. Dia menumpahkan semua rasa sedih, kecewa, dan rasa bersalahnya.
Pemuda itu menceritakan semua masalah yang dihadapinya selama beberapa hari ini, sampai keluarganya menjadi korban. Dia meminta maaf berulang kali kepada Hasan, Meri, dan Jaya. Sampai saat ini dia masih merasa bersalah.
Dia merutuki rasa penasaran dan keingintahuannya tentang pengusaha ilegal itu, yang malah melibatkan keluarganya. Seharusnya dia tidak menemuinya, seharusnya dia tidak penasaran tentangnya, dan seharusnya dia mengikuti saran sahabatnya.
Walaupun niatnya membantu sahabatnya, pemuda itu bisa berpikir ulang tentang resikonya. Dia sebenarnya tidak harus menyalahkan diri sendiri. Walaupun dia menghindar dari pemilik lesung pipi itu, tetap saja Nero masih mengincarnya.
Nero tau kelemahan sahabatnya. Untuk mendapatkan pemuda itu, dia harus menggunakan orang-orang terdekatnya. Salah satunya Jayendra, karena pemuda itu adalah salah satu orang yang sangat disayangi sahabatnya.
Jayendra satu-satunya sahabat Vindra, setelah sahabat yang lain menjauhi dan mengkhianatinya. Direktur muda itu sudah berhasil mendapatkan salah satu orang kesayangan pemuda bermata elang itu. Pemuda itu mengepalkan tangannya, dia baru menyadari tentang hal itu.
Meri yang baru saja selesai makan, menatap anak sulungnya yang terlihat melamun. Wanita paruh baya itu menyentuh punggung tangan anaknya yang duduk disebelahnya.
“Jayendra.”
Pemuda itu menoleh ke arah wanita yang sudah melahirkannya, dia memperlihatkan senyumannya.
“Iya, Bu.”
Meri menatap anak sulungnya penuh harap. “Kamu nggak akan kembali ke kota B? Kamu di sini aja sama Ayah, Ibu, dan Jaya.”
Jayendra menggeleng. “Aku punya pekerjaan di sana. Aku cuma dikasih cuti seminggu. Minggu depan aku akan kembali.”
Meri menghela napas kecewa. “Ibu berharap kamu nggak ke sana lagi. Uang hasil kerja kamu selama ini sudah cukup membantu kami. Kamu jangan kembali ke sana.”
Jayendra kembali menggeleng. Dia belum bisa mengikuti perkataan ibunya disaat seperti ini.
“Kenapa Ibu nggak izinin aku ke sana lagi?”
Meri menatap cemas anak sulungnya. “Jay, Ibu nggak mau kamu terluka. Kalau kamu kembali ke sana, orang jahat itu pasti ganggu kamu lagi.”
“Ibu, aku tadi udah jelasin semuanya. Jika aku nggak kembali ke sana, gimana aku bisa menyelesaikan masalah ini? Aku ngerti Ibu khawatir sama aku. Ibu nggak mau aku dalam bahaya, tapi aku nggak mau lari dari masalah. Aku harus mempertanggungjawabkan semua yang udah aku lakuin.”
“Jay, orang jahat itu bermasalah dengan temanmu. Kenapa kamu yang harus bertanggungjawab? Biar temanmu saja yang menyelesaikan masalahnya. Jika memang dia orang baik seperti yang kamu bilang, dia nggak akan melibatkanmu dalam masalahnya.”
Jayendra mengangguk. “Ibu, ini semua salahku. Dia nggak pernah melibatkanku dalam masalahnya dengan orang jahat itu. Aku sendiri yang melibatkan diri dalam masalah dia. Dia nggak tau, kalau aku ketemu sama Nero. Vindra nggak tau kalau Ayah, Ibu, dan Jaya disandera sama dia.”
Jayendra menghela napas panjang. Dia kembali merasa bersalah karena membohongi sahabatnya. “Vindra cuma tau, aku pulang karena Ibu. Dia sama sekali nggak tau apa-apa tentang hal ini.”
“Kenapa kau nggak cerita sama dia?” tanya Hasan.
Jayendra menggeleng. “Kalau aku cerita, dia akan bantu aku, Ayah.”
“Bukankah itu bagus? Jadi kamu nggak perlu berjuang sendiri menghadapi orang jahat itu, sedangkan dia hanya diam saja,” ucap Ibu.
Jayendra kembali menggeleng. “Tadi aku sudah menceritakan kepada Ayah, Ibu, dan Jaya seperti apa kehidupan Vindra. Aku juga sempat berpikir jika kehidupanku lebih baik dibanding kehidupan dia. Aku masih mempunyai Ayah dan Ibu. Jadi aku ingin membantunya.”
“Jika aku menceritakan kepadanya tentang Nero, dia akan mengikuti semua keinginan orang jahat itu. Aku nggak mau hal itu terjadi.”