Vindra berada disebuah taman yang sangat indah. Bunga-bunga di sekitarnya tampak bermekaran yang membuatnya mengernyit, tetapi dia masih merasa takjub melihatnya.
Dia melihat sekeliling taman, matanya membola saat melihat seorang wanita yang dia kenal sedang duduk di salah satu bangku taman dan tersenyum ke arahnya. Dia berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya erat.
“Bunda, aku kangen.”
“Bunda juga kangen sama beruang madu, Bunda. Kamu udah dewasa sekarang.”
Wanita yang dipanggil bunda itu melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya yang membuat matanya terpejam, saat merasakan sentuhan seseorang yang sangat dia rindukan. Wanita itu adalah bundanya, Rani.
“Bagaimana kabarmu, honey bear?”
Dia perlahan membuka matanya berharap bundanya tidak menghilang. Dia tersenyum ketika melihat wanita yang telah melahirkannya masih ada di sampingnya.
“Aku bukan anak yang baik, Bunda.” Bunda di sampingnya mengernyit. “Aku bukan anak baik Bunda lagi. Aku udah ngecewain Kak Rara dan Melvin. Aku udah menghilangkan nyawa Ayah. Maafkan aku, Bunda. Bunda pasti juga kecewa sama aku.”
Vindra menunduk, dia tidak ingin menatap bunda yang duduk di sampingnya. “Aku bukan anak yang baik. Aku jahat Bunda. Aku sekarang seorang perampok, kurir obat terlarang, dan pembunuh. Aku udah bunuh Ayahku sendiri. Aku udah bikin orang yang aku sayang kecewa. Aku udah langgar janji aku untuk selalu melindungi Kak Rara dan Melvin.”
Rani kembali memeluk anak tengahnya, mengusap surai anak keduanya lembut. “Nggak, Sayang. Kamu masih tetep anak baik, Bunda.”
Vindra menggeleng. Dia menceritakan semua perasaannya kepada wanita yang sedang memeluknya. Dia mengatakannya dengan tersendat dan terisak. Rasa sedih, kecewa, sakit, rasa bersalah, marah, benci, semuanya dia utarakan. Dia membenci ayahnya, tentu saja.
Rasa benci itu menguap menjadi rasa bersalah melihat tubuh Darma yang tidak berdaya. Sekarang dia membenci dirinya sendiri. Dia benci melihat orang yang disayanginya terluka karena ulahnya. Dia mengeluarkan semua perasaannya kepada bunda yang kini memeluknya.
Rani tidak menyela atau memotong ucapan anak keduanya. Tangannya mengusap lengan anaknya lembut dan menenangkan. Wanita itu bisa merasakan anaknya memeluknya erat. Anak itu semakin terisak, tetapi dia sudah tidak bercerita.
Dia menyamankan dirinya dipelukan wanita yang sudah melahirkannya, dan membuat Rani tertawa pelan. Seorang anak akan selalu menjadi anak kecil ketika bersama bundanya.
“Aku kangen sama Bunda. Jangan pergi lagi.”
“Sayang, Bunda nggak akan ke mana-mana. Bunda akan selalu ada di hati kamu. Kamu jangan merasa bersalah tentang Ayah, karena itu kecelakaan. Bunda yakin kamu nggak sengaja, kamu cuma mau lindungi Kakak kamu. Bunda yakin Rara nggak akan kecewa sama kamu.”
“Kamu bukan orang yang sudah menghilangkan nyawa Ayah, karena kematian itu pasti, Sayang. Bunda sempat kecewa saat kamu cerita, kamu kerja jadi perampok dan kurir obat terlarang, untuk melunasi hutang-hutang Ayah. Kamu nggak kerja kayak gitu lagi, kan?”
“Nggak, Bunda. Aku udah keluar dari kerjaan itu, tapi orang itu selalu ganggu dan mau aku kerja di sana lagi.”
“Jangan ngelakuin hal yang nggak baik, Sayang. Melakukan kesalahan itu wajar, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Kamu harus belajar dari kesalahanmu. Bunda nggak marah sama kamu. Kamu udah dewasa.”
Rani melanjutkan ucapannya. “Bunda yakin kamu nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kamu juga udah tau mana yang baik dan buruk bagi kamu sendiri. Kamu tetap anak yang baik bagi Bunda.”
Rani mencium puncak kepala anak keduanya. “Maaf, Sayang. Bunda harus pergi lagi. Jaga dirimu baik-baik. Kamu juga harus jaga Kakak dan Adikmu dengan baik. Salam untuk Rara dan Melvin.”
Rani hendak melepas pelukannya, tetapi dia semakin memeluknya erat. Dia mendongak, menatap bundanya.
“Bunda, aku boleh ikut?” Mata wanita tiga anak itu membola. Anak tengahnya kembali menyamankan kepalanya di bahunya. “Aku mau sama Bunda. Aku mau ikut Bunda.”
Rani melepas paksa pelukan anaknya. Wanita itu menatap manik kelam anak keduanya yang sudah sembab. Dia seperti anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Seorang anak kecil yang cengeng dan sangat bergantung kepada bundanya.
Rani menangkup wajah anaknya, lalu menggeleng. “Kamu belum bisa ikut sama Bunda. Kalau kamu ikut, siapa yang akan melindungi Rara dan Melvin?”
Rani menunjuk belakang anaknya. Anak tengahnya menoleh ke arah yang ditunjuk bundanya. Di belakangnya sudah ada sebuah layar yang menampilkan Rara, Melvin, dan Yuda. Bukan hanya mereka, di layar itu pula menampilkan Senna dan Jayendra.
“Lihat. Masih banyak orang yang sayang sama kamu, honey bear. Kalau kamu ikut Bunda, mereka akan sedih. Bunda yakin kamu nggak mau lihat orang yang kamu sayang sedih. Kamu udah janji sama Bunda, untuk selalu jaga dan lindungi Rara dan Melvin.”
Rani kembali menangkup wajah anaknya dan memberikan ciuman lembut di keningnya.
“Sampai kapan pun, Bunda akan selalu sayang sama kamu, Rara, dan Melvin. Kalian bertiga tetap anak Bunda yang terbaik. Bunda harus pergi.”
Sedetik kemudian tubuh Rani mengeluarkan cahaya dan dia tidak bisa menyentuh bundanya lagi.
“Kamu harus janji selalu jaga dan lindungi Rara, Melvin, dan orang yang kamu sayang. Jangan nangis, Bunda nggak mau lihat anak Bunda sedih. Bunda akan selalu ada di hati kamu. Kalau kamu kangen sama Bunda, pikirin Bunda, dan Bunda akan datang di mimpi kamu. Jaga dirimu baik-baik. Salam untuk Rara dan Melvin.”
Vindra mengangguk. “Aku janji Bunda. Aku akan selalu jaga dan lindungi Kak Rara, Melvin, dan orang-orang yang aku sayang.”