Setelah pergi meninggalkan Senna dan memutuskan untuk menjauh dari gadis itu, Vindra ke kafe bertemu dengan Sevyn untuk mengatakan, jika dia mengundurkan diri bekerja di kafe. Kakak Senna itu awalnya terkejut, tetapi dia menerima keputusannya.
Setelah dari kafe dan berpamitan kepada Sevyn, dia pergi ke tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Setelah lima jam perjalanan, dia sudah berada di sebuah bukit di tempat kelahirannya.
Vindra sangat merindukan kota apel ini. Tempat yang dia kunjungi masih sama, seperti terakhir dia ke tempat bundanya dimakamkan. Dia berjalan ke atas bukit dan berlutut menyimpan bunga lili di depan batu nisan bertuliskan nama bundanya, Rani.
“Bunda, apa kabar? Maaf aku udah lama nggak mengunjungimu.” Dia mengusap batu nisan di depannya. “Walaupun aku udah ketemu sama Bunda lewat mimpi, tapi aku masih kangen sama Bunda. Bukan cuma sama Bunda, tapi aku juga kangen tempat ini.”
Setelahnya, hanya keheningan yang menyelimuti. Dia tidak tau harus berkata apalagi, karena semua perasaannya sudah dia sampaikan saat di mimpi. Dia juga tidak mungkin bercerita tentang Senna. Dia yakin Rani pasti tau semuanya, tanpa dia harus bercerita.
Pria dan wanita tersenyum ketika melihatnya. Wanita itu menepuk pundaknya yang membuat dia mendongak. Mata Vindra membulat melihat pria dan wanita yang berdiri di depannya. Wanita itu tersenyum lalu memeluknya.
“Vindra, aku kangen banget sama kamu.”
***
Senna sudah sampai di salah satu rumah sakit tempat Darma dirawat. Walaupun Vindra menjauhinya, tetapi dia tidak melarangnya untuk menemui kakak dan adiknya.
Dia juga tidak mau memutuskan tali persahabatan antara dirinya, Rara, dan Melvin, hanya karena pemuda itu memutuskan menjauhinya. Dia juga ingin lebih dekat dengan pemuda itu, tetapi dia terlalu sulit untuk didekati.
Gadis itu baru saja hendak menanyakan ruang perawatan Darma kepada salah satu perawat, tetapi matanya terlebih dahulu melihat Yuda yang baru saja keluar dari kantin rumah sakit.
Senna mengenal Yuda, karena dia salah satu adik kelas Sevyn waktu sekolah menengah pertama. Orang tuanya dan pemuda itu juga saling kenal dan bersahabat.
“Kak Yuda.”
Senna tersenyum ketika pemuda berwajah datar itu melihat ke arahnya. Setengah berlari, gadis manis itu menghampirinya.
“Lo sendiri?” tanya Yuda ketika gadis itu sudah berada di sampingnya.
Senna mengangguk. “Kak Yuda mau jenguk Ayah Vindra?”
“Gue semalam di sini nemenin Rara dan Melvin. Lo mau jenguk Paman Darma?”
Gadis itu hanya mengangguk. Dia tau kedekatan keluarga Rara dengan Yuda. Kakak Vindra dan Melvin itu pernah bercerita tentang dia dan kedua adiknya bisa akrab dengan pemuda di sampingnya.
“Kita bareng aja ke sana. Rara bilang lo semalam jaga Vindra, di mana dia sekarang?”
Senna menggeleng. “Aku nggak tau. Tadi dia cuma bilang mau pergi ke suatu tempat.”
Yuda hanya mengangguk. Dia mengerti keadaan adik Rara itu. Jika dia melihat kondisi ayahnya yang masih belum sadar, dia pasti akan lebih menyalahkan dirinya. Keduanya berjalan menuju ruang rawat ayah tiga anak itu.
Tak lama, keduanya sudah berada di depan sebuah kamar. Ruang ICU VVIP menjadi ruang rawat inap Darma. Semalam pemuda itu yang merekomendasikan ruangan itu. Dia juga yang membayar semua perawatan ayah tiga anak itu, walaupun Rara menolaknya.
Yuda tidak menerima penolakan dari gadis itu. Dia tetap dengan pendiriannya ingin membantu gadis yang sudah bersahabat dengannya sejak sekolah. Rara akhirnya menerima bantuannya, dengan perjanjian, gadis itu akan mengembalikan semua uangnya untuk perawatan Darma.
Pemuda itu tidak mengharapkan Rara mengembalikan uangnya karena dia ikhlas membantu gadis itu, tetapi kakak Vindra dan Melvin itu merasa tidak enak.
Selama ini dia selalu membantu semua masalah keluarganya. Gadis itu merasa keluarganya telah banyak menerima kebaikan dari pemuda itu.
Rara tersenyum saat melihat Senna datang bersama Yuda. Gadis itu langsung menghampirinya. Yuda sudah lebih dulu duduk di samping Melvin.
“Kak Rara, maaf. Aku ke sini nggak sama adikmu. Tadi aku udah ajak dia, api dia malah bilang mau pergi ke suatu tempat,” ucap Senna tak enak.
“Nggak apa-apa. Mungkin Vindra perlu waktu untuk sendiri.” Rara mengambil kantung plastik dari tangan Senna. “Ini apa?”
“Sarapan untuk Kakak, Melvin, dan Kak Yuda,” jawab Senna.
Rara mengangguk lalu membuka tempat makan yang berisikan sarapan untuknya, Melvin, dan Yuda. Matanya menatap berbinar ketika melihat isinya.
“Wah, banyak banget.”
“Iya. Aku bawa semua sup yang Kakak masak. Di rumah nggak ada orang, jadi sayang kalau nggak dibawa semua.”
Rara mengangguk lalu menata makanan itu di meja depan Yuda dan Melvin. Kedua cowok itu langsung memakan makanan yang Senna bawa.
“Kamu udah makan?”
“Udah, Kak. Sebelum ke sini aku sarapan sama Vindra. Kak, aku semalam makan sup buatanmu. Sup ayam buatanmu enak banget.”
“Benar, Kak Senna. Sup ayam buatan Kak Rara nggak ada duanya di dunia ini, enak banget. Resep turun temurun dari Bunda. Makanya enak.”