Sinner

Kim Raeneul
Chapter #27

Sinner Dua Puluh Tujuh - Menghilang

 “Vindra, aku kangen sama kamu.”

Mata Vindra mengerjap saat wanita itu memeluk dan mengelus lengannya lembut. Wanita itu adalah Bintang Amanda, adik kandung Rani Indriawan, bundanya. Bintang adalah bibinya dari pihak bunda, yang tinggal di Jepang mengikuti suaminya, Bastian Adnan Danish. Saat ini mereka mempunyai seorang anak berusia tujuh tahun bernama Jihan Salsabila Aulia.

“Bibi Bintang?”

“Kamu lupa sama Bibi kamu sendiri, Vin?”

Bintang melepaskan pelukannya dan memasang wajah kecewa di depan keponakannya. Dia sangat dekat dengan ketiga keponakannya sebelum pindah ke Jepang. Bisa dibilang wanita itu yang membantu Rani mengurus Rara, Vindra, dan Melvin.

“Sayang, kamu bikin Vindra bingung.”

Kali ini Bastian yang berbicara. Vindra kembali mendongak, menatap suami bibinya, yang dibalas senyuman darinya. Pria itu berlutut di dekat keponakannya. Di samping suami bibinya, ada anaknya. Anak perempuan itu tersenyum menatap pemuda dengan tahi lalat di bawah matanya.

“Apa kabar, Paman Vindra? Aku Jihan.

“Kabarku baik, Jihan.” Vindra mengalihkan tatapannya kepada Bintang dan Bastian. “Paman, Bibi, maaf. Aku nggak nyangka, kita ketemu di sini.”

Vindra tersenyum menatap paman, bibi, dan anaknya bergantian. Tangannya meraih lengan Jihan dan memeluknya.

“Kamu sudah gede, Jihan. Maaf, Paman sempat nggak kenal kamu.”

Jihan tersenyum, membalas pelukan pamannya. “Nggak apa-apa, Paman. Aku juga nggak kenal sama Paman, kalau nggak dikasih tau Ayah.”

Vindra tersenyum tipis lalu mengangguk. Pemuda itu memang sangat menyukai anak kecil, wajar dia akan akrab dengan anak kecil. Paman dan Bibinya hanya tersenyum melihat keakraban keponakan dan anak mereka.

Bintang meletakan bunga lili disamping bunga lili keponakannya, wanita itu memejamkan mata dan berdoa untuk kakaknya.

“Vin, kamu ke sini nggak sama Rara dan Melvin?”

Vindra menggeleng. “Aku sendiri. Mereka nggak tau aku ke sini.”

Vindra mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Sejak saat itulah dia tinggal di rumah keluarga bibinya. Rumah yang ditinggali Bintang dan keluarga sekarang, rumah lama milik kakek dan neneknya dan tentu saja sudah direnovasi.

Keluarga kecil itu memutuskan untuk kembali tinggal di kota yang terkenal dengan apelnya. Perusahaan Bastian di Jepang sekarang diurus oleh adiknya. Di kota apel itu, suami Bintang mengelola bisnis kecil-kecilan dan berhubungan dengan pertanian apel.

Vindra sudah seminggu lebih tinggal di rumah paman dan bibinya. Dia juga membantu kepindahan keluarga bibinya. Selama seminggu ini pula pekerjaannya selalu berhubungan dengan penanaman apel di kebun milik Bintang.

Vindra sangat menikmati pekerjaan barunya, sampai dia lupa jika sudah seminggu lebih ponselnya mati Pemuda itu tidak lupa hanya sengaja, karena saat ini dia ingin menenangkan diri dan tidak ingin berhubungan dengan orang-orang yang disayanginya.

“Paman Vindra.”

Vindra menoleh saat mendengar panggilan dari keponakannya, dia melihat Jihan berlari ke arahnya dengan riang.

“Jihan, hati-hati.” Dia memperingatkan keponakannya. Setelah Jihan sudah dekat, dia langsung menggendong anak dari adik kandung bundanya. “Kenapa kamu lari-larian kayak tadi? Kalau jatuh gimana?”

Jihan tertawa pelan dan menggeleng. “Aku nggak jatuh paman. Aku, Ayah, dan Bunda mau jenguk Paman Darma yang lagi sakit di kota B. Paman mau ikut?”

“Benar kata Jihan. Kamu udah seminggu nggak ketemu Rara dan Melvin. Kamu nggak kangen sama mereka?” tanya Bastian yang sudah berada didekat Vindra dan Jihan.

“Aku kangen sama mereka, tapi aku belum siap ketemu. Kalau kalian mau pergi ke sana, pergi saja. Aku di sini. Lagian di sini juga masih banyak pekerjaan.”

“Vin, mau sampai kapan kamu menghindar dari mereka? Kalau kamu menghindar terus, kamu nggak akan pernah menyelesaikan masalahmu,” tanya Bintang yang sudah berada di samping suaminya

“Aku nggak mau lihat mereka kecewa, Bi.

“Kita sudah bahas ini sebelumnya, Vin. Rara dan Melvin nggak kecewa sama kamu. Tolong singkirkan pikiran negatif kamu itu. Apalagi tentang kakak dan adik kamu.”

Bastian menyentuh pundak istrinya menenangkan. “Sayang, Vindra pasti masih perlu waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Kamu jangan paksa dia, kalau dia belum siap ketemu Rara dan Melvin.”

Bintang menatap suaminya dan mengangguk. “Iya, kamu bener.” Wanita itu kini beralih menatap keponakannya. “Maafin aku, Vin. Aku cuma nggak mau kamu telalu larut sama rasa bersalah kamu.”

“Iya, aku ngerti, Bi. Paman, Bibi, aku boleh minta tolong. Paman dan Bibi, jangan kasih tau Kak Rara kalau aku di sini. Aku hanya perlu menenangkan diri sebentar lagi. Setelah itu, aku akan menyelesaikan semua masalahku.”

Bastian dan Bintang mengangguk. Suami Bintang mentap anaknya yang masih berada di gendongan Vindra.

“Jihan, ayo, turun dari gendongan Paman. Kita akan berangkat.”

Vindra menurunkan Jihan dari gendongannya. Dia tersenyum saat melihat keponakannya, yang sedang menatapnya.

“Paman nggak ikut?”

Vindra tersenyum, lalu berjongkok menyejajarkan tingginya dengan Jihan. Pemuda itu menggeleng. “Nggak, Sayang. Paman nggak ikut. Paman harus menyelesaikan pekerjaan di sini. Kamu aja sama Ayah dan Bunda.”

“Baiklah. Tadinya aku berharap Paman ikut, tapi Paman lagi banyak pekerjaan, Paman selesaikan dulu aja pekerjaannya. Aku pergi dulu. Sampai nanti, Paman.”

Jihan tersenyum lalu melambaikan tangannya, yang dibalas senyuman dan lambaian tangan dari pamannya. Anak perempuan itu menggenggam tangan ayahnya.

“Ayo, kita berangkat Ayah, Bunda,” ajak Jihan. Ayahnya hanya mengangguk.

“Kita berangkat, Vin. Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa menyusul kita ke sana,” kata Bintang.

Lihat selengkapnya