Sinner

Kim Raeneul
Chapter #28

Sinner Dua Puluh Delapan - Fakta

Yuda mendesah frustasi. Sudah dua hari Rara dan Melvin menghilang, tetapi dia belum menemukan titik terang keberadaan mereka. Tak hanya kakak dan adik Vindra saja, tetapi Senna, Jayendra, dan Sevyn juga menghilang.

Pemuda itu semakin pusing, detektif Kinendra dan detektif Mirza yang bertugas memata-matai Nero dan anak buahnya juga ikut menghilang, sehari sebelum keempat orang kesayangan Vindra hilang.

Selain kasus menghilangnya mereka, pemuda itu sudah mempunyai bukti kuat untuk menutup perusahaan ilegal milik Nero dan menangkapnya.

Yuda hanya perlu satu bukti lagi kejahatan Nero, mengenai rencana yang akan dilakukannya yang melibatkan Vindra dan Jayendra. Satu bukti itu akan semakin memperkuat pemuda itu menjebloskan pemimpin dan semua anak buahnya ke sel tahanan.

Sayangnya, kedua rekan kerjanya yang bertugas mencari bukti terakhir ikut menghilang. Untung saja, disaat dia frustasi mengenai hilangnya orang-orang terdekatnya, Vindra dapat dihubungi. Dia sebenarnya belum puas memarahinya, tetapi dia harus mengatakan hal yang lebih penting.

Hal yang menyangkut hilangnya orang-orang terdekat pemuda itu. Setelah Yuda mengatakan hal itu kepadanya, tanpa rasa bersalah adik Rara itu menutup teleponnya secara sepihak. Pemuda itu tidak marah, dia maklum jika Vindra melakukan hal itu.

Tindakannya mengartikan jika adik nakal dan bodohnya, bergerak membantunya untuk menemukan kakak, adik, dan orang-orang kesayangannya.

Yuda yakin adik Rara itu lebih tau di mana keberadaan mereka dibanding dirinya. Jika pemuda itu tidak berhasil menemukan mereka semua, setidaknya dia dapat mencari keberadaan kakak, adik, dan tiga kesayangannya.

Bantuan dari Vindra meringankan beban Yuda. Pemuda itu hanya fokus mencari keberadaan dua rekan kerjanya dan membereskan kasus perusahaan ilegal Nero.

***

Vindra sudah memasuki gedung perusahaan Nero. Kaki jenjangnya melangkah menuju lift dan menekan angka lima. Dia masih ingat di lantai lima ruangan pemuda pemilik lesung pipi itu. Lift bergerak naik, matanya semakin menajam dan rahangnya mengeras.

Lift berhenti tepat di lantai lima. Saat pintu lift terbuka dengan langkah lebar dia berjalan menuju ruangan direktur muda itu.

Setelah berada di depan ruangan, dia dua orang penjaga. Dia berdecak kesal saat dua orang berbadan. Kedua anak buah yang bertugas menjaga pintu ruaangan, sepertinya orang baru.

“Gue Vindra, gue mau ketemu sama Nero.”

“Bos Nero lagi nggak bisa diganggu. Besok aja Anda datang ke sini lagi.”

Vindra mendesak masuk, tetapi masih dihalangi oleh penjaga yang badan dua kali lebih besar darinya. Dia berdecak, “Minggir! Gue harus ketemu dia. Nero keluar lo!”

“Jangan buat keributan di sini.”

Dua penjaga di depannya mendorong Vindra hingga mundur dua langkah. Di belakangnya sudah ada dua orang penjaga lain yang menahan pergerakannya. Dia memberontak dan memukul kedua orang itu di wajah mereka.

Dua orang yang tidak terima, membalas pukulannya hingga sudut bibirnya terluka. Vindra mendengkus, menatap nyalang empat penjaga yang sudah mengelilinginya.

“Kalian mainnya keroyokan. Oke, gue ladenin.”

Vindra kembali memberikan pukulan di wajah dan perut satu per satu penjaga yang mengelilinginya. Dia tidak menyangka jika Nero mempekerjakan orang yang lemah. Baru dapat dua pukulan darinya, dua orang berbadan besar itu sudah terjengkang.

Rekannya yang lain berusaha memukulnya, tetapi dia lebih cepat menghindar. Dia memiting tangan salah satu penjaga yang membuatnya mengerang. Dia juga menendang perut penjaga yang ada di depannya, hingga penjaga itu mundur beberapa langkah.

Perkelahian antara Vindra dan empat penjaga di depan ruangan terjadi. Wajah pemuda bermata tajam itu sudah lebam, karena pukulan para penjaga. Dia kembali menendang salah satu penjaga, hingga pria berbadan besar itu mendobrak pintu di belakangngya.

Nero tersentak saat melihat pintu ruangannya terbuka dan anak buah yang bertugas menjaga pintu tersungkur. Vindra masuk dan sengaja menginjak punggung penjaga itu tanpa rasa bersalah. Suara erangan kembali keluar dari bibirnya.

Pemuda pemilik lengsung pipi tersenyum, dia berdiri saat melihat orang yang membuat keributan di perusahaannya. Dia mendekat yang dibalas tatapan tajam dari Vindra.

“Lo sembunyiin di mana kakak dan adik gue?”

Tanpa mempedulikan pertanyaannya, Nero semakin mendekat. “Akhirnya lo ke sini lagi, Vin. Lo kangen sama gue? Gue baru aja mau nelepon lo, lo udah ke sini duluan. Tadi lo tanya gue sembunyiin kakak dan adik lo? Mereka selalu sama lo. Kenapa lo malah tanya gue?”

“Lo jangan pura-pura, Nero. Lo yang culik Kak Rara dan Melvin. Gue nggak akan nuduh sembarangan. Faktanya lo akan berbuat apa aja demi memenuhi keinginan lo. Lo bukan cuma culik Kakak dan Adik gue. Lo juga culik Kak Sevyn, Senna, dan Jayendra. Sekarang lo kasih tau, di mana mereka?!”

Nero memasang wajah sendu. “Lo nuduh gue culik mereka? Lo salah. Bukan gue yang culik semua kesayangan lo. Mereka nggak ada di sini.”

Lihat selengkapnya