Sinner

Kim Raeneul
Chapter #29

Sinner Dua Puluh Sembilan - Terbongkarnya Rahasia

Jivan membawa empat kotak makanan dan membuka sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu sudah ada Rara, Melvin, Senna, dan Sevyn. Selama dua hari disekap keadaan mereka baik-baik saja. Tidak ada luka ditubuh keempatnya, karena Hardi dan dirinya melarang anak buah Nero yang lain untuk bertindak kasar kepada mereka.

Tentu saja mereka menuruti perkataan keduanya, karena selama mereka berada di sebuah bangunan tempat disekapnya orang-orang tersayang Vindra dan dua detektif muda itu, mereka adalah bos untuk yang lain.

Keduanya tidak akan segan menghilangkan anak buah mereka, jika tidak menuruti perkataan keduanya.

Sama seperti Hardi, pemuda bergigi kelinci itu sebenarnya tidak menyetujui rencana Nero menculik kedua pasang kakak dan adik itu. Pemuda yang memilik tato di seluruh tubuhnya juga kesal dengan sikap Jayendra yang menyetujui rencana pemilik perusahaan.

Mereka tidak salah dalam semua ini. Semuanya salah Nero. Mereka hanya terpaksa melakukannya. Setelah meletakan empat kotak makanan itu di depan kakak dan adik itu, dia membuka laptopnya. Dia menatap sendu ketika keempat orang di depannya menatap tajam dirinya.

Senna selalu menatap tajam dirinya setiap kali mereka bertatapan. Gadis itu merasa ditipu dengan sikap baik pemuda itu kepadanya. Ucapan Vindra benar, kita tidak boleh melihat orang dari luarnya, karena penampilan bisa menipu.

Jivan mengutak-atik laptopnya dan ada sebuah video langsung yang terpampang di layar. Dia memperbesar videonya menjadi full screen. Keempatnya terkejut melihat video itu. Di video itu terpampang jelas Vindra yang sedang memukul Nero.

Video itu berasal dari CCTV langsung ruang kerja Nero. Pemuda tinggi itu yang sengaja memerintah Jivan untuk menghubungkan CCTV ruang kerjanya ke laptop miliknya.

Kedua mata keempat orang di hadapannya semakin membulat saat Jayendra mengakui jika dia yang menculik mereka, tetapi mereka tidak tau alasan pemuda yang sangat dikenali mereka melakukan hal itu

“Makanlah! Gue yakin Kak Vindra bersama Kak Nero dan Jayendra akan ke sini. Gue nggak mau jadi objek pukulan Kak Vindra, kalau dia lihat kalian dalam keadaan kurus dan lemas seperti itu.”

Setelah mengatakan hal itu Jivan melepaskan ikatan yang melilit tubuh keempatnya. Setelah selesai, dia berjalan keluar meninggalkan kedua pasangan kakak dan adik kesayangan Vindra. Dia juga tidak lupa mengunci ruangan kembali.

***

Vindra, Jayendra, dan Nero sudah berada di sebuah bangunan tak jauh dari perusahaan. Bangunan tua yang hanya ada satu lantai, tetapi terdiri dari banyak ruangan. Anak buahnya membungkukkan badan mereka saat melihat bos besar. Pemuda berambut pirang itu memasuki ruangan kedua di sebelah kirinya saat Jivan sudah membuka pintu ruangan tersebut.

Vindra, Jayendra, Hardi, dan Jivan mengikuti langkah pemuda itu. Anak buahnya yang lain diperintahkan menunggu di depan pintu. Jika terjadi apa-apa, masih ada Jayendra, Hardi, dan Jivan yang mengatasi Vindra.

Vindra menatap nanar satu persatu Rara, Melvin, Senna, dan Sevyn, yang duduk di kursi dengan badan diikat tali dan mulutnya ditutup sapu tangan. Beberapa menit sebelum Vindra datang, dengan terpaksa Jivan kembali mengikat mereka.

Hatinya berdenyut nyeri melihat mereka, karena dirinya keempat orang terdekatnya menjadi seperti ini. Dia mendekati kakak dan adiknya. Setelah berada didepan mereka, dia berlutut menyembunyikan kepalanya di pangkuan kakaknya.

Dia bergumam lirih, memohon maaf kepada Rara dan Melvin. Kedua adik dan kakaknya masih bisa mendengar, walaupun suaranya sangat lirih. Rara ingin mengusap surai hitam adiknya, tetapi kedua tangannya diikat.

Vindra merasa bersalah, karena hampir dua minggu menghilang, dia tidak bisa menjaga dengan baik kakak dan adiknya sesuai janjinya kepada bundanya. Saat itu dia butuh waktu sendiri dan menenangkan dirinya atas kejadian ayahnya.

Lihat selengkapnya