Senna tidak menyangka jika hidupnya yang bahagia akan menjadi menyedihkan. Dia lahir dari keluarga yang sangat sayang padanya. Ayahnya, Soni Pangestu mempunyai usaha kafe. Ibunya, Sonya Amalia merupakan seorang ibu rumah tangga yang menyambi menjadi seorang chef di kafe milik suaminya. Hobi ibunya mengalir kepada anak pertamanya.
Sementara Senna, dia tidak terlalu jago dalam hal memasak seperti kakaknya. Usia kakak dan dirinya berbeda tiga tahun. Saat dia masuk sekolah menengah atas, Sevyn sudah lebih dulu masuk ke bangku kuliah. Kakaknya tentu saja sangat menyayanginya.
Walaupun mereka tidak pernah masuk ke sekolah yang sama, tapi dia selalu mengantar dan menjemputnya, saat dia tidak terlalu sibuk.
Keduanya terlahir dari keluarga yang sempurna. Ayahnya hanya mempunyai usaha kafe, tetapi mereka tidak pernah kekurangan. Sayangnya, kesempurnaan itu tidak bisa mereka miliki selamanya.
Kesempurnaan itu berakhir saat malam yang sangat mengerikan terjadi. Kedua orang tua kakak dan adik itu harus meregang nyawa di depan mereka.
***
Mata Darma membola, tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Saat hendak mengeluarkan protes, orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala yang menutupi wajahnya, memberikan sebilah pisau kepadanya.
“Tugas lo ambil semua uang dan harta berharga di rumah itu. Jangan sampai ketahuan. Kalau ketahuan lo harus lukai mereka dengan pisau yang lo pegang.”
Setelah mengatakan hal itu, orang yang memberikannya senjata tajam itu dan seorang temannya bergegas masuk rumah di sebelah mereka. Darma tersenyum tipis, dia tidak bertanya apa pun. Dia mengikuti dua orang di depannya.
Ayah tiga anak itu seperti mendapatkan durian runtuh, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria paruh baya itu tidak peduli, jika keduanya menyadari dia bukan salah satu dari mereka.
Jika dia menyia-nyiakan kesempatan itu, dia tidak bisa melunasi semua hutang-hutangnya. Darma dan dua orang yang tidak dikenalnya diam-diam memasuki rumah pemilik kafe. Pria itu yakin jika keduanya sudah lama mengincar rumah ini.
Mereka bertiga berpencar. Darma berjalan menuju sebuah ruangan yang ada di sisi kirinya Saat sudah berada di depan pintu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang melihatnya, dia membuka pintu yang tidak dikunci.
Dia sudah masuk ke ruangan. Di ruangan itu hanya terdapat sebuah meja, kursi, dan lemari buku. Dia berjalan menghampiri meja di depannya, lalu mencari simpanan uang atau benda berharga pemilik rumah.
Dia membuka laci meja, mengacak-acak isinya, sampai di laci meja ketiga, dia menemukan sebuah amplop coklat berukuran sedang dan sangat tebal. Pria paruh baya itu mengambil amplop dan melihat isinya. Matanya berbinar. Amplop itu berisikan uang yang dicarinya.
Dia kembali mencari barang berharga lainnya di ruang itu. Mungkin saja masih ada uang atau barang lain yang bisa dijadikan uang. Saat dia sedang mencari, dia mendengar pintu ruangan terbuka. Matanya membulat saat melihat orang yang masuk.
“Hey, kamu jangan lari.”
Darma yang hendak kabur, dicegat oleh Soni, pemilik rumah. Ayah tiga anak itu menendang pria pemilik rumah hingga dia tersungkur. Melihat ada peluang, dia segera keluar ruangan.
Saat dia hampir sampai di ruang tengah, Soni lagi-lagi menghalangi dan memukulnya, hingga pria itu tersungkur. Darma membalas pukulannya dan menodongkan pisau yang diberikan salah satu teman merampoknya, hingga pria pemilik rumah mundur.
Darma kembali berlari menuju pintu keluar dan melihat kedua rekannya sedang berkelahi bersama seorang pemuda, tetapi Soni kembali menghalangi jalannya.
Keduanya kembali saling memukul dan menendang, hingga ayah tiga anak itu menusukan pisaunya di dada pemilik rumah, bersamaan dengan suara tembakan yang dilakukan salah satu temannya.
“Ayah.”
“Bunda.”
***
Senna terbangun dari tidurnya saat mendengar suara kakaknya. Dia mengernyit dan mencerna alasan kakaknya berteriak di malam hari. Dia membuka pintu kamar dan melihat dua orang berpakaian serba hitam sedang berlari.
Dia keluar kamar menuju kamar orang tuanya. Matanya membulat saat masuk, dia melihat badan bundanya diikat. Dia segera melepas tali yang melilit badan bundanya.
“Kenapa Bunda diikat?”
“Ada orang yang nggak dikenal ngambil semua barang berharga kita. Kita harus bantu kakakmu dan mencari Ayah.”
Senna hanya mengangguk. Kedua ibu dan anak itu keluar kamar untuk mencari kakak dan ayahnya. Saat sampai di ruang tamu, mereka melihat Sevyn bertarung dengan dua orang perampok itu.