Sinner

Kim Raeneul
Chapter #31

Sinner Tiga Puluh Satu - Pilihan

 “Gue punya dua pilihan buat lo.” Nero mendekati pemuda di depannya. “Pertama, lo harus kerja sama gue lagi dan gue akan bebasin semua kesayangan lo.”

Dia melanjutkan ucapannya, “Kedua, kalau lo nggak mau kerja lagi sama gue, lo harus menghilangkan nyawa orang-orang yang lo sayang. Gimana, Vin? Tawaran yang menarik, kan?”

Vindra menatap tajam pemuda berlesung pipi yang kini merangkulnya. Benar dugaannya, bernegosiasi dengan pemuda itu tidak menguntungkan untuknya. Nero terlalu egois untuk memberi untung lawannya.

“Lo gila Nero. Gue nggak mungkin bisa menghilangkan nyawa orang-orang yang gue sayang, apalagi saudara gue sendiri. Kalau gue harus menghilangkan nyawa seseorang, lo orang pertama yang gue hilangin nyawanya.”

Nero tertawa pelan, matanya menatap datar pemuda yang dirangkulnya. “Lo beneran nggak bisa menghilangkan nyawa mereka? Gimana sama Ayah lo, Pak Darma? Gue denger lo penyebab Pak Darma meninggal.”

Mata Vindra yang tadinya menajam kini membulat, tubuhnya membeku. Memori ketika dia membenturkan kepala ayahnya ke dinding berputar di kepalanya. Matanya kosong, pikirannya hanya terpusat kepada kejadian beberapa waktu lalu.

Nero kini tersenyum, dia tau cara menjatuhkan mental lawan. Pemuda pemilik lesung pipi itu memang pandai berbicara yang membuat semua orang yang mendengarnya tidak berkutik. Satu pukulan di pipi kanannya kembali dia dapatkan.

“Gue bukan salah satu penyebab Ayah gue meninggal. Ayah gue meninggal udah takdirnya dan udah waktunya.”

Kalimat itu dia ucapkan lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Nero di sampingnya. Pemuda berambut pirang itu tersenyum tipis, matanya menatap pemuda yang kini menatapnya dengan tatapan kosong.

Dia sangat yakin jika kalimat yang pemuda itu ucapkan kalimat keraguan. Vindra memang tidak yakin dengan ucapannya. Perasaan bersalahnya yang tidak mau hilang, walaupun sudah dimantrai oleh dirinya sendiri, dia bukan penyebab ayahnya meninggal.

Disaat seperti ini, pemuda itu ingin kembali menghilang dan menyendiri, tetapi dia sadar, orang-orang yang dia sayang membutuhkan bantuannya.

“Benarkah? Gue denger lo yang dorong Pak Darma sampai kepalanya membentur dinding, lo juga dua kali dengan sengaja menambah luka di kepala Ayah lo hingga pendarahan, koma, dan meninggal. Bukankah begitu kejadiannya?”

Mata Vindra yang tadinya kosong, kini berubah kembali menjadi tajam. “Lo jangan sok tau, Nero. Lo nggak tau apa-apa tentang gue.”

“Gue kenal banget sama lo, Vindra.”

Dia berbalik memunggungi pemuda itu. “Waktu lo berkunjung dan melihat kesayangan lo udah habis. Tawaran gue masih bisa lo pikirin. Nggak perlu dijawab sekarang. Gue tunggu jawaban lo sampai jam delapan pagi besok. Nanti gue chat lo harus ketemu sama gue di sini atau di kantor.”

Setelah mengatakan hal itu, pemuda pemilik perusahaan ilegal keluar terlebih dahulu. Vindra masih termenung di tempat dia berdiri, sampai sebuah tepukan dari Hardi menyuruhnya keluar.

Dia menghela napas panjang, matanya menatap nanar satu persatu kesayangan di depannya yang masih diikat. Dia keluar bersama Hardi, Jivan, dan Jayendra.

Vindra memilih untuk mengikuti perkataan Nero keluar dari bangunan itu. Dia bisa saja melepaskan ikatan yang ada di badan kakak, adik, Senna, dan Sevyn sekarang, tetapi dia sangat mengetahui jika pemuda pemilik lesung pipi itu tidak akan melepaskannya dan akan bertindak lebih kejam.

***

Saat ini Vindra berada di salah satu kamar di rumah Yuda. Setelah keluar dari bangunan itu, dia memilih menenangkan diri di rumah pemuda berwajah datar itu. Saat dia masuk, pemilik rumah ada di dalam.

Dia tidak peduli jika sahabatnya masih tinggal di rumah itu atau Yuda sudah tau sahabatnya terlibat dalam penculikan orang-orang terdekatnya.

Kedua mata Yuda membulat, saat melihat adik Rara di depannya. Dia bukan terkejut karena melihat Vindra dalam kondisi berantakan, wajah tampannya dihiasi luka lebam yang sudah membiru di sudut bibirnya, tetapi langkah pemuda itu yang gontai dan tatapannya yang kosong.

Dia baru melihat pemuda itu tidak bernyawa seperti ini. Dia mengerjap dan mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang orang-orang terdekatnya yang menghilang. Dia tidak tega menanyakan hal itu dengan kondisi kakak Melvin yang seperti ini.

Vindra berjalan melewati Yuda tanpa kata, dia tidak masuk ke kamar sahabatnya, melainkan ke kamar lain di sebelahnya. Di dalam kamar, dia merenungi tindakannya hari ini. Dia merasa tidak berguna, karena belum bisa membebaskan kedua pasang kakak dan adik yang disayanginya.

Vindra melihat sebuah benda berkilat di meja. Dia mengambil benda itu dan duduk di kursi yang terletak di depan meja. Dia mengusap benda itu di tangannya dan menggoreskan ujung tajam ke bagian pergelangan tangannya.

Cairan merah mengalir dari pergelangan tangan kirinya. Tangannya terasa nyeri, tetapi tidak sebanding dengan nyeri dan sesak yang ada di dadanya melihat orang yang dia sayangi terluka. Matanya yang terbuka seketika menggelap.

***

Yuda bergerak gelisah, karena sudah hampir dua jam adik Rara itu tidak keluar dari kamar. Dia melangkah mendekati kamar dan mengetuk pintu kamar. Walaupun kamar itu salah satu kamar di rumahnya, tetapi dia masih memberikan privasi kepada si pemilik kamar. Baik itu Vindra atau Jayendra yang ada di kamar itu.

“Vin, lo tidur? Bangun. Gue beliin rame buat lo. Ayo, makan bareng.”

Keningnya semakin mengerut saat tidak ada jawaban. Dia memilih untuk membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Perasaannya semakin tidak enak kepada adik Rara itu. Matanya membulat melihat pergelangan tangan kiri Vindra mengeluarkan banyak cairan merah.

Lihat selengkapnya