Sinner

Kim Raeneul
Chapter #32

Sinner Tiga Puluh Dua - Membebaskan Kesayangan

Kerutan di kening Nero terlihat saat mereka sudah sampai di bangunan itu. Beberapa anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga tawanan mereka terlihat tertidur pulas. Pemuda itu melangkah menuju ruangan dua pasang kakak dan adik kesayangan Vindra.

Kedua sahabat itu mengikutinya dari belakang. Pintu ruangan itu ternyata tidak dikunci. Saat Nero membuka pintu itu, terlihat Jivan dan Hardi bersama dua orang anak buahnya yang lain dalam keadaan terikat.

Mata Vindra membola saat mendekati kesayangannya dan melihat keempatnya terdapat luka lebam di wajah mereka. Rahangnya mengeras saat melihat kondisi Rara dan Senna lebih parah.

Tak hanya luka lebam, rambut mereka sudah berantakan, tubuh mereka yang terikat sudah ditutupi oleh jaket milik Jivan dan Hardi. Mata mereka sembab. Dia berlutut di depan kakaknya dan memeluknya. Dia merasakan tubuh kakaknya bergetar menahan tangis.

Vindra melirik Senna di sebelah kiri kakaknya. Tangannya terulur menyibak rambut gadis itu yang membuatnya tersentak. Dia melihat tatapan ketakutan di mata gadis itu. Dia juga dapat melihat banyak ruam merah di leher adik Sevyn itu.

Dia tau ruam merah itu bukan karena gigitan nyamuk atau serangga, tetapi hal lain. Tatapan dan tangannya beralih pada leher kakaknya. Dia melihat ada ruam yang sama pada lehernya.

Rahangnya mengeras, dia melepaskan pelukannya pada Rara dan menatap tajam semua penghuni ruangan.

“Bilang sama gue, ada kejadian apa sebelum gue datang?”

Pertanyaan itu harusnya Nero yang mengatakannya, tetapi dia sudah lebih dulu mengutarakan. Suaranya terdengar sangat dingin dan mengintimidasi. Pemimpin mereka yang tadi diam akhirnya membuka suara.

“Bener, apa yang terjadi? Kenapa semua penjaga di luar tertidur pulas?”

“Gue nggak tau awalnya, tapi saat gue dan kak Hardi datang, kedua orang ini sedang melakukan hal yang tidak pantas kepada Kak Rara dan Senna. Anak buah Kak Nero yang lain hanya menonton, tanpa mencegah atau menasihati mereka. Mereka malah memukuli Melvin dan Sevyn,” jelas Jivan.

Jivan menatap datar dua anak buah yang tidak tau diri. Dia melanjutkan ucapannya, “Kalau gue dan Kak Hardi datang terlambat, mereka pasti sudah rudapaksa tawanan kita. Padahal kita udah peringatkan mereka, agar mereka tidak berbuat kasar atau macam-macam kepada tawanan kita.”

Vindra semakin menatap tajam dua orang yang hampir saja merenggut kesucian kedua gadis yang dia sayangi. Mata sahabatnya yang berada di sana membola mendengar penjelasan Jivan. Tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal erat.

Satu pukulan Vindra layangkan kepada pemuda di samping Jivan, dia menendang pemuda di sebelahnya. Dia hendak memukul salah satu dari mereka, tetapi Hardi lebih dulu menarik dan menjauhinya.

“Lepasin gue, Kak Hardi! Gue belum puas hajar mereka.”

“Tenangin diri lo, Vin. Hampir aja Jivan menghabisi nyawa mereka semua, tapi gue larang. Akhirnya dia kasih mereka minuman dengan campuran obat Flunitrazepam. Itu sebagai pengganti, karena gue larang dia menghabisi semua anak buah Nero.”

“Kenapa mereka nggak dikasih obat itu juga? Harusnya lo nggak usah larang Jivan bunuh mereka.”

“Gue nggak kasih obat ke mereka, untuk membuktikan mereka pelakunya. Kalau aku bius dan mengakhiri nyawa mereka, Kak Vindra akan nuduh gue dan Kak Hardi yang melakukannya,” jawab Jivan.

Pemuda bergigi kelinci itu mendekati ke arah Vindra. “Kak Vindra daritadi mereka nggak jawab pertanyaan gue padahal pertanyaannya gampang. Kenapa mereka masih melakukannya, padahal gue dan Kak Hardi udah larang. Kalau lo yang tanya, mereka pasti mau jawab.”

Satu seringai terlihat di bibir Vindra. Seringai itu sangat berbeda dan mengerikan. Dengan paksa, dia melepaskan diri dari Hadrian, dia berjalan menuju dua pemuda yang sudah melecehkan kakaknya dan Senna.

“Bangun!”

Vindra menendang kedua pemuda yang tersungkur akibat pukulan dan tendangan darinya. Dia berlutut ditengah-tengah mereka. Dia menatap tajam keduanya.

Pemuda bersurai coklat yang tadi dipukulnya, menatap pemuda itu, tetapi sedetik kemudian, dia kembali mengalihkan tatapannya.

“Kenapa kalian melakukan hal itu kepada kakak gue dan Senna, padahal Bos kalian udah larang kalian?” tanya Vindra. Suaranya sangat dingin dan menyeramkan di telinga keduanya.

“Me-mereka sungguh menggoda dan gue tadi khilaf. Ma-maafin gue, Vin.”

“Benarkah?”

Keduanya mengangguk. Dia bangkit dari berlututnya, dia melepas ikatan di badan keduanya. Setelah ikatan mereka terlepas, mereka langsung bersimpuh di kakinya dan mengucapkan kata maaf. Risih, dia melepas paksa dan kembali menendang keduanya.

“Kalian mau maaf dari gue?” Kedua pemuda itu mengangguk penuh harap. “Kalau kalian mau gue maafin, kalian harus minta maaf sama dua cewek yang tadi kalian lecehin.”

Keduanya mengangguk. “Iya, Vin. Kita akan minta maaf sama mereka.”

Vindra mendengkus. “Omongan gue belum selesai. Selain kalian minta maaf sama dua cewek itu, kalian juga harus minta maaf sama dua cowok yang babak belur, karena dipukulin temen kalian.”

Vindra melihat keduanya mengangguk. Dia kembali melanjutkan ucapannya, “Setelah minta maaf, kalian harus saling memukul dan menyakiti fisik satu sama lain. Nggak ada yang boleh berhenti sampai gue bilang berhenti. Walaupun kalian hampir sekarat. Mengerti?!”

Keduanya saling menatap, lalu mereka menatap Vindra yang hanya membalas dengan tatapan datar. Keduanya beralih menatap Jivan, Hardi, dan Nero yang membalas tatapan mereka, dengan tatapan tidak peduli. Keduanya mengetahui siapa pemuda di depan mereka.

Vindra adalah salah satu anak kesayangan Nero yang paling disegani setelah Jivan dan Hardi. Walaupun dia sudah beberapa bulan ini tidak bekerja bersama pemimpin mereka lagi, aura lain pada dirinya masih bisa dirasakan oleh keduanya.

Nero hanya tersenyum melihat sikap Vindra yang sedang menghukum anak buahnya. Dia membiarkannya, karena dia yakin jika pemuda itu akan kembali menjadi bekerja dengannya, tetapi hanya harapan dia saja.

Lihat selengkapnya