Sinner

Kim Raeneul
Chapter #33

Sinner Tiga Puluh Tiga - Rumah sakit

 “Vindra.”

Semua orang yang ada di sana langsung menatap pemuda yang sudah mengalir cairan merah dari punggungnya, posisi pemuda itu masih memeluk Senna. Gadis itu menekan luka tembak di punggungnya, mencegah cairan merah itu tidak banyak yang keluar.

Yuda yang baru saja memerintahkan anak buahnya yang lain untuk membawa Nero, Jivan, dan Hardi ke kantor polisi, segera mendekati Vindra dan Senna. Di sampingnya sudah ada Jayendra, Rara, Melvin, dan Sevyn.

Sekilas, dia melihat dari kejauhan seseorang yang mencurigakan dan kabur dari tempat dia bersembunyi. Detektif muda itu langsung memerintahkan Kinendra dan Mirza untuk mengejar orang itu.

Kedua detektif muda itu mengangguk dan mengejar orang yang diberitahu oleh pemuda berwajah datar itu.

“Jay, lo bisa nyetir mobil?” Jayendra mengangguk. Dia menyerahkan kunci mobilnya kepada sahabat Vindra itu. “Cepat bawa sahabat lo ke rumah sakit bersama Melvin.”

“Gue ikut.”

Yuda hendak melarang Rara, tetapi melihat wajahnya yang cemas, dia hanya mengangguk. Dia menggotong tubuh Vindra bersama Melvin dan Sevyn ke dalam mobil.

Kakak dan adik Vindra sudah berada di mobil, begitu juga sahabatnya yang sudah siap menyetir. Tak lama mobil Yuda sudah berjalan menuju rumah sakit.

Sevyn melihat adiknya yang masih bergeming di tempatnya, dia menepuk pelan pundaknya, hingga adiknya tersentak. Gadis itu menatapnya yang dibalas tatapan cemas dari dirinya.

“Senna, kita pulang.”

“Aku ingin ke rumah sakit, Kak.”

Yuda yang melihat raut wajah cemas dari sahabatnya semasa sekolah menengah pertama mendekati kedua kakak dan adik itu. “Sevyn, Senna, sebaiknya kalian pulang aja dulu. Gue yang anter sampai rumah.”

Sevyn mengangguk. “Terima kasih, Yuda.” Dia melihat pemuda di sampingnya mengangguk. Dia mengalihkan tatapan ke arah adiknya. “Senna kita pulang dulu sama Yuda, besok kamu bisa jenguk Vindra.”

Senna hanya mengangguk pasrah. Kedua adik dan kakak itu pulang dengan diantar oleh detektif muda yang sudah membantu mereka.

***

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Yuda, karena sudah mengantar kakak dan adik itu, Senna terlebih dulu masuk.

Setelah detektif muda itu berpamitan dan mobilnya menghilang, Sevyn menyusul adiknya masuk. Dia dapat melihat adiknya yang sudah masuk kamarnya. Kakak Senna itu menghela napas pelan, tatapannya masih terarah ke pintu kamar adiknya yang tertutup.

Perasaannya tidak tenang. Pemuda itu takut jika trauma adiknya muncul, karena kejadian yang dialaminya beberapa hari ini.

Senna menghela napas panjang. Dia menatap kamarnya yang sudah beberapa hari ini tidak ditempati. Dia berjalan dan duduk di tepi tempat tidur. Kejadian beberapa hari terakhir masih teringat jelas di kepalanya.

Perasaan tidak menentu hinggap di dadanya. Terbersit rasa bersalah kepada kakaknya dan Vindra yang telah menolongnya.

Dia teringat dengan kata-kata Nero tentang ayah Vindra. Di kepalanya terbayang ekspresi kakaknya saat itu. Dia tidak mau jika kakaknya membenci dirinya, karena dia tidak menceritakan dari awal, jika dia bertemu dengan ayah Vindra yang sudah menikam ayah mereka.

Keputusannya untuk pulang bersama kakaknya dan Yuda sangat tepat. Dia harus menjelaskan semuanya kepada kakaknya. Reaksi apa pun yang kakaknya berikan, dia terima, asalkan kakaknya tidak membenci dirinya.

Dia kembali menghela napas panjang. Dia bangkit dari duduknya dan mengambil handuk. Dia akan membersihkan dirinya terlebih dulu, sebelum bertemu dan menjelaskan semuanya kepada kakaknya.

***

Sevyn membuka pintu kamar adiknya, dan melihat adiknya sedang mengeringkan rambutnya. Senna tersenyum melihat kakaknya masuk dan menyuruhnya duduk di tepi tempat tidur.

“Baru aja aku mau ke kamar Kakak.”

“Kamu baik-baik aja?”

Senna mengernyit, dia bisa mendengar dan melihat kakaknya mencemaskan dirinya. Dia mengangguk.

“Aku baik-baik aja, Kak.”

Sevyn menghela napas lega. “Syukurlah. Aku tadi khawatir banget saat lihat kamu melamun. Aku takut traumamu dengan darah dan suara letusan kambuh.”

Senna memeluk kakaknya dan mengusap punggung lebar pemuda itu. “Aku baik-baik saja. Kak Sevyn nggak usah khawatir lagi.”

Lihat selengkapnya