Sinner

Kim Raeneul
Chapter #34

Sinner Tiga Puluh Empat - Interogasi

Yuda datang ke rumah sakit saat malam telah larut. Setelah mengantarkan kakak dan adik Vindra, dia mendapat kabar jika orang yang menembak adik kelasnya berhasil ditangkap. Dia langsung kembali ke kantor polisi untuk melihat orang yang berani menembak adik Rara itu.

Orang itu adalah Jason Kayiji, salah satu anak buah Nero. Dia merupakan anak buah yang loyal dan juga sangat dekat dengan pemuda pemilik lesung pipi itu, seperti Hardi dan Jivan. Sejak Vindra bergabung bekerja sama dengan pemuda berambut pirang itu, posisinya tergantikan.

Jason yang awalnya selalu menjadi bagian dari tim Hardi dan Jivan, kini hanya sebagai anak buah biasa. Dia awalnya hanya diam, karena dia tau Vindra bekerja di sana, hanya untuk membayar hutang Ayahnya.

Saat Vindra memutuskan untuk berhenti bekerja bersama Nero, Jason melihat pemimpin perusahaan itu sangat terobesesi kepada adik Rara itu. Direktur muda itu memang tidak melupakan keberadaannya. Dia selalu menempatkan posisinya sama seperti Jivan dan Hardi.

Sebagai anak buah yang dapat diandalkan, tetapi tetap bosnya itu selalu membicarakan dan membanggakan Vindra. Sikap Jason yang awalnya biasa, berubah menjadi iri dan membenci pemuda itu.

Cara kerja Vindra yang bagus dan selalu mendapatkan pujian dari bosnya, membuat dia semakin membencinya. Dia tau kelemahan pemuda yang sudah dia anggap saingannya.

Jika Nero menjadikan kakak, adik, dan sahabatnya sebagai korban agar pemuda itu bekerja kembali di perusahaannya. Jason menjadikan Senna yang dia tau gadis yang sangat disayangi pemuda itu sebagai korban.

Jason pernah hampir menabrak adik Sevyn itu, tetapi Vindra yang berada di sampingnya sigap menolongnya. Semenjak saat itu dia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mencelakakan gadis itu, karena sibuk dengan pekerjaannya.

Kemarin kesempatan itu datang lagi. Tembakan itu memang ditargetkan untuk Vindra. Senna hanya jebakan, karena dia sangat mengenal pemuda itu akan melindungi orang yang dia sayang.

***

Yuda masuk ruang rawat Vindra dan melihat sahabatnya yang sedang tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidur. Dia menghela napas pelan melihat kedua sahabat itu. Dia merasa miris mengetahui persahabatan murni mereka hancur, karena masalah Vindra dan Nero.

Yuda yang awalnya tidak percaya jika Jayendra tulus bersahabat dengan adik Rara itu, kini mulai mempercayainya. Dia percaya, karena melihat pemuda itu sangat menyayangi sahabatnya.

Dia juga tidak menyangka jika sahabatnya Vindra itu dengan mudahnya melakukan hal yang sama seperti sahabat pemuda itu dulu.

“Kak Yuda udah datang? Aku kira kamu nggak akan kembali ke sini.”

Jayendra mengerjapkan matanya, lalu menggeliat. Pemuda berwajah datar itu hanya mengangguk.

“Lo tidur aja di sofa, gantian gue yang jaga Vindra.”

Sahabat Vindra itu hanya menatapnya, dia tidak beranjak dari duduknya. Melihat tatapan memelas sahabat adik kelasnya, pemuda berkulit pucat itu mengernyit.

“Kenapa lo natap gue gitu?”

“Kak Yuda nggak mau jelasin yang tadi kamu bilang. Kalau aku hanya diinterogasi sebagai saksi bukan tersangka. Aku juga terlibat dalam penculikan itu.”

Yuda menghela napas pelan, dia berjalan menuju sofa panjang yang tak jauh dari tempat tidur Vindra.

“Vindra yang mau lo jadi saksi bukan tersangka.”

***

Kedua pemuda berbeda usia dua tahun itu masih saling berpelukan. Pelukan layaknya sepasang kakak dan adik yang saling mengerti dan memahami satu sama lain. Vindra melepaskan pelukannya dan menatap pemuda itu, yang dibalas tatapan datar darinya.

Kak Yuda pasti tau, kalau Jayendra terlibat dalam penculikan kedua saudaraku, Senna, dan Kak Sevyn?”

Yuda mengangguk. “Hardi dan Jivan udah menceritakan semuanya, termasuk tentang sahabat lo. Lo mau sahabat lo gue tangkap dan jadi salah satu tersangka penculikan? Kalau lo mau, ucapan Hardi dan Jivan akan gue jadiin bukti.”

Vindra menggeleng. “Aku nggak mau sahabat gue dihukum. Dia terlibat karena aku, Kak, Aku boleh minta bantuanmu lagi? Tolong jadiin dia saksi. Aku akan kasih tau Kak Rara, Melvin, Senna, dan Kak Sevyn untuk mengatakan dia juga korban dalam kasus penculikan itu.”

Kenapa lo cuma jadiin dia saksi? Udah jelas dia ikut dalam kasus penculikan kakak dan adik lo bersama Jivan dan Hardi. Kenapa lo bersikap beda kepada sahabat lo itu? Jayendra sama seperti sahabat lo dulu. Dia nggak tulus sama lo.”

Vindra menggeleng. “Dia lakuin hal itu karena terpaksa, Kak. Aku emang kecewa sama dia, karena dia nggak cerita masalahnya sama Nero. Aku yang sudah melibatkan dia dalam masalah ini, jadi aku yang harus bertanggung jawab.”

Pemuda itu menghela napas panjang dan melanjutkan ucapannya. “Sebelumnya dia nggak punya catatan kriminal, jadi aku yakin kamu pasti bisa menjadikan dia hanya sebagai saksi.”

Vindra menggenggam tangan Yuda, dia menatap pemuda itu dengan tatapan memohon, yang hanya dibalas tatapan datar dari pemuda itu.

Aku tau, aku udah banyak meminta tolong kepadamu. Aku mohon, Kak, bantu aku lagi untuk kesekian kalinya. Tadi Kakak bilang, kamu akan bantu aku sebisamu. Jadi aku mohon, jadiin Jay jadi saksi aja. Aku janji akan melakukan apa pun sebagai balasan, karena kamu udah banyak nolong aku, Kak Rara, dan Melvin.”

Yuda menghela napas pelan, dia melepaskan tangannya yang digenggam Vindra. “Baiklah. Gue akan tolong lo. Lo pasti mau lakuin apa pun keinginan gue sebagai balasan, karena gue udah nolong lo?”

Vindra mengangguk “Apapun yang kau inginkan aku turuti.”

Baiklah. Gue mau lo cepet sembuh, besok lo harus bisa bebasin kesayangan lo, dan jangan pernah melakukan hal bodoh lagi.”

Siap kapten. Laksanakan.”

Vindra mengucapkan kalimat itu dengan sikap hormat layaknya tentara. Pemuda di depannya hanya memutar kedua mata malas.

Lihat selengkapnya