Mata Senna membulat ketika tangan yang digenggamnya bergerak, perasaannya tidak menentu. Dengan gerakan spontan, gadis itu bangkit dari duduknya ketika melihat mata pemuda itu terbuka.
Vindra mengerjap, membiasakan cahaya yang masuk ke retinanya. Saat sudah menyesuaikan, dia menoleh ke arah sebelah kirinya, dia melihat Senna yang sedang tersenyum kepadanya.
“Syukurlah, lo udah sadar.” Pemuda itu hanya menggangguk. “Ada yang sakit? Lo butuh apa? Mau minum?”
Vindra kembali mengangguk. Dengan sigap adik Sevyn itu berjalan menuju meja. Di meja itu ada beberapa buah botol dengan ukuran sedang, dia mengambil salah satu botol dan berjalan kembali mendekati tempat pemuda itu berbaring.
Dia membantu Vindra bangun dari posisi baringnya, tanpa sengaja tangannya memegang luka di punggung pemuda itu yang membuatnya meringis.
“Maaf, gue nggak sengaja.”
Vindra hanya mengangguk. Dia menyamankan duduknya dan mengambil botol yang berisi air dari tangan gadis itu. Pemuda itu meneguknya dua tegukan, hanya untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.
“Terima kasih.”
Senna mengangguk. Dia menerima botol yang diberikan oleh Vindra. “Punggung lo baik-baik aja? Maaf tadi gue nggak sengaja nyentuh lukanya.”
“Gue baik-baik aja. Lo nggak perlu khawatir. Kak Rara dan Melvin ke mana? Kenapa lo yang ada di sini?”
Senna menghela napas pelan, dia memutar kedua mata malas. Sifat pemuda itu kembali menyebalkan dan dingin seperti sebelumnya.
“Kak Rara dan Melvin sedang pergi ke kantor polisi untuk interogasi.”
Vindra menoleh menatap gadis itu dengan tatapan tidak terbaca. “Lo sama Kak Sevyn gimana?”
“Gue sama Kak Sevyn udah sebelum ke sini. Gue panggil Dokter atau perawat buat periksa luka lo.”
Vindra hanya mengangguk. Dia melihat gadis itu berjalan menuju pintu, saat pintu itu dibuka, di depan Senna udah ada dokter dan perawat yang akan memeriksa pemuda itu.
Gadis itu tersenyum dan menunduk pelan kepada dokter dan perawat itu, dia mempersilakan kedua tenaga medis dan kesehatan itu. Keduanya berjalan dan tersenyum mendekati ranjang pasien.
“Pak Vindra ternyata sudah sadar. Bagaimana perasaannya? Sudah baikan?”
“Saya sudah merasa baikan, Dok. Hanya saja tadi ada seseorang yang menyentuh bekas luka, jadi terasa nyeri.”
Pemuda itu menatap datar Senna yang tidak jauh dari ranjang. Dia beralih ke arah dokter yang masih tersenyum kepadanya. Dokter itu mengangguk.
“Saya periksa dulu.”
Vindra sedikit mengubah posisi duduk ke posisi yang lebih nyaman. Dokter memasang eartips ke telinganya dan menempelkan chestpiece ke dada pemuda itu.
Dokter menyuruhnya mengatur napas secara perlahan. Setelah melakukan hal yang sama tiga kali, dokter yang merawat Vindra melepas eartips, lalu tangannya bergerak melihat kedua matanya.
“Kondisimu sudah mulai, tapi luka bekas operasi di punggung masih butuh perawatan. Saran saya kamu jangan dulu banyak bergerak supaya lukanya cepat mengering. Besok atau lusa, kamu boleh pulang. Suster tolong ganti perbannya.”
Suster yang daritadi di samping dokter mengangguk. Vindra membuka baju rumah sakitnya agar tenaga kesehatan itu tidak kesulitan mengganti perbannya.
Suster dengan sigap membuka perban lama yang melilit dada dan punggung pemuda itu. Dia meringis ketika perawat itu tidak sengaja menyentuh lukanya. Bukan hanya disentuh, dia bergerak sedikit saja sudah terasa nyeri.
Senna hanya sendu kegiatan perawat yang sedang mengganti perbannya. Seharusnya dia yang mendapatkan luka itu.
Dokter yang memeriksa Vindra tersenyum ketika melihat gadis itu. Dia tau yang dipikirkan Senna, karena ekspresi gadis itu yang memperlihatkan perasaannya. Adik Sevyn itu memang transparan dan mudah sekali dibaca, tanpa dia harus mengatakannya.
“Kamu nggak perlu khawatir. Pak Vindra baik-baik aja dan akan segera sembuh. Apa kamu mau membantu mengganti perbannya?”
Senna tersentak saat mendengar suara dokter yang merawat Vindra. Dia menoleh dan menatap pria yang berprofesi sebagai tenaga medis yang tersenyum kearahnya. Gadis itu membalas dengan senyuman, lalu menggeleng.
“Nggak usah, Dok. Biar perawat aja yang mengganti perbannya. Saya permisi keluar sebentar, nanti saya kembali lagi.”
Senna menunduk pelan, lalu berjalan keluar. Dokter hanya tersenyum, pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Vindra yang sedang melihat kepergian adik Sevyn itu dengan wajah datar.
“Istri Pak Vindra khawatir banget sama keadaan Bapak. Kamu beruntung mendapatkan baik dan perhatian.”
“Dia bukan istri saya, Dokter.”
“Maaf, baru pacaran.”
“Dia juga bukan pacar saya.”
“Benarkah? Saya lihat bapak dan dia cocok.”
Vindra tidak menjawab pertanyaan dokter itu lagi. Beberapa menit kemudian, perawat telah selesai mengganti perbannya. Dokter dan perawat berpamitan dan keluar dari ruang rawat adik Rara itu. Setelah keduanya menghilang dari balik pintu, pemuda itu menghela napas pelan.
“Pantaskah gue berharap, suatu saat nanti gue bisa miliki Senna?”
***