Sinner

Kim Raeneul
Chapter #36

Sinner Tiga Puluh Enam - Menyerahkan Diri

Yuda tersenyum ketika melihat Rara sedang duduk di taman rumah sakit. Dia melangkahkan kakinya menghampiri kakak Vindra yang sedang termenung, disaat sudah dekat, dia duduk di samping gadis itu yang tidak menyadari kedatangannya.

“Lo akan terus bersikap seperti ini sama adik lo sendiri?”

Rara mengalihkan tatapannya kepada pemuda pemilik gummy smile yang duduk di sampingnya, yang dibalas oleh pemuda itu dengan senyum tipis. Gadis itu menghela napas panjang dan mengalihkan tatapannya ke arah depan.

“Gue nggak mau lihat dia menderita. Sudah cukup beban yang selama ini dia tanggung, kalau dia berada di sel tahanan, gue nggak kebayang dia akan baik-baik aja.”

“Dia pasti baik-baik aja. Adik lo itu orang yang kuat, dia hanya ingin menebus kesalahannya. Kita seharusnya dihukum, karena melindungi orang yang salah.”

“Orang yang gue lindungi itu, adik gue sendiri.”

Yuda mengangguk. “Dia juga adik gue, Ra. Selama ini gue nggak pernah kesepian, karena gue anak tunggal. Gue nggak pernah kepikiran punya adik, karena sifat gue yang suka sendiri. Kenal sama lo, Vindra, dan Melvin, gue bisa merasakan punya adik yang selama ini nggak gue pikirin.”

Pemuda itu menatap depan dengan pikiran yang menerawang. Dia melanjutkan ucapannya, “Gue kadang kesepian saat mereka nggak ada. Selama di Kanada, gue selalu kangen sama kalian. Tahun pertama di sana, gue ngerasa kehilangan kalian. Apalagi Vindra yang selalu ikut gue kemana pun.”

Rara tertawa pelan saat mengingat adiknya yang selalu mengikuti Yuda kemana pun. “Iya. Gue juga inget, saat gue tanya alasan dia selalu ikut lo kemana-mana, dia cuma jawab, lo selalu sendiri dan kelihatan kesepian, makanya dia temenin.”

Yuda mengangguk. “Iya, dia kasih jawaban yang sama saat gue tanya alasan dia ngikutin gue. Gue inget banget, dia jawab gitu pake muka polos tapi nyebelin.”

“Iya. Semua berubah saat Bunda meninggal, Ayah bangkrut dan berubah, temen-temen semua mengkianati kita. Sejak saat itu, sifatnya dia jadi banyak berubah.”

“Sekarang, sifat dia udah balik kayak dulu. Dia udah sering minta bantuan sama gue, sebelumnya ketika gue tawarin bantuan, dia selalu nolak. Lihat dia udah nggak segan lagi minta tolong sama gue, buat gue berpikir, gue terlalu menuruti keinginan dia dan lindungi dia.”

Rara menoleh, menatap pemuda berkulit pucat itu. “Sekarang lo mau turutin keinginan dia? Lo mau bawa dia ke polisi dan ungkap semua kejahatan dia?”

Yuda mengangguk. “Maaf, Ra. Pendapat gue kali ini beda sama lo. Gue akan turutin keinginan dia. Selama ini, gue udah berusaha lindungi dia. Menghilangkan semua bukti kejahatannya, tapi saat transaksi di kota T yang tadi gue bilang, gue telat menghilangkan bukti itu.”

“Pantas selama lima tahun ini, dia selalu bebas, ternyata lo yang lindungi dia. Lo ngelakuin itu, karena lo udah anggap dia sebagai adik lo sendiri?”

“Iya, tapi gue gagal lindungi dia pas kasus transaksi jebakan itu. Polisi yang ngejebak dia di kota sebelah udah kerjasama dengan kepala kejaksaan yang investigasi perusahaan Nero. Gue dikasih tau, bukti-bukti udah ada di tangan ketua tim jaksa itu. Maaf, gue nggak bisa nolongin dia.”

Rara hanya mengangguk. “Nggak apa-apa, gue ngerti. Lagian lo udah banyak nolongin keluarga gue. Terima kasih.”

Yuda mengangguk. “Sebenernya kalau bukti yang mengarah ke Vindra itu nggak cukup dan menyerahkan diri, hukumannya akan diberi keringanan. Makanya gue setuju sama keinginan gue.”

Pemuda itu tersenyum menatap Rara di sampingnya. “Kalau lo masih sama pendirian lo, nggak bolehin adik lo menyerahkan diri, gue nggak akan paksa pendapat lo sama kayak gue. Vindra cuma mau memperbaiki kesalahan dia, kita nggak bisa larang, karena dia pasti udah mikirin semuanya.”

Dia menatap kakak Vindra itu yang masih menatap ke depan. Pemuda itu melanjutkan ucapannya, “Seperti yang gue bilang tadi, gue akan bantu dia, biar dia dapat hukuman ringan dan gue akan sewain pengacara ahli untuk bela dia.”

Keheningan melanda beberapa saat. Yuda menghela napas pelan, lalu melanjutkan ucapannya.

“Jangan lama-lama lo marah sama dia. Dia suka sedih lihat lo marah dan kecewa. Besok tim penyidik akan datang dan interogasi dia. Kalau dia masih teguh sama pendirian dia untuk menyerahkan diri, dia pasti akan menceritakan semuanya. Apa lo masih tetap marah sama dia?”

Rara menggeleng. Gadis itu menghela napas pelan. “Gue nggak tau, gue bingung. Omongan lo tadi semuanya bener.”

“Masih ada waktu untuk lo pikirin semuanya. Sekarang lo pulang aja sama Melvin, Senna, dan Jayendra. Biar gue yang jaga dia malam ini. Kebetulan gue hari ini libur. Lo jangan lupa pamitan sama adik lo, biar dia nggak terlalu merasa bersalah.”

Rara mengangguk. Dia bangkit dari duduknya, yang diikuti Yuda. Keduanya berjalan beriringan ke kamar rawat Vindra. Tidak ada suara apa pun yang menyelimuti keduanya. Di depan ruang rawat adiknya, gadis itu terlebih dahulu masuk.

Dia menatap sekilas kepada adik pertamanya, lalu dia menghampiri adik bungsunya yang masih duduk di samping Senna.

“Melvin, ayo kita pulang. Malam ini katanya Yuda yang akan jaga kakakmu.”

Melvin hanya mengangguk. Di saat seperti ini, dia tidak ingin membantah kakak sulungnya, jika dia tidak mau dimarahi olehya. Senna dan Jayendra hanya diam mengamati perang dingin kakak dan adik itu.

“Kak Rara, maaf. Untuk kesekian kalinya, aku nggak menuruti keinginan Kakak. Aku akan tetap pada pendirianku untuk menyerahkan diri. Aku harap, Kakak akan cepat mengerti.”

Rara menatap tajam adik pertamanya. “Aku akan memaafkanmu, jika kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit. Kalau dalam waktu seminggu kamu nggak keluar dari sini, aku tidak akan menganggap kamu adik lagi.”

Mata Vindra mengerjap. “Kak Rara.”

Belum sempat pemuda itu melanjutkan ucapannya, adik bungsunya sudah lebih dulu mendekat dan berpamitan.

“Kak Vindra, aku pulang dulu. Cepat sembuh dan kembali ke rumah.”

Vindra mengangguk. “Iya, Vin. Kamu hati-hati. Selama aku nggak ada, kamu harus jaga Kak Rara dengan baik.”

“Iya, Kak.” Pemuda itu semakin mendekat, kemudian berbisik. “Sebenernya Kak Rara, tapi dia gengsi bilang.”

Vindra tersenyum lalu mengangguk. Adik bungsunya berjalan menuju kakak sulungnya yang menatap curiga kearahnya.

Lihat selengkapnya