Sinner

Kim Raeneul
Chapter #37

Sinner Tiga Puluh Tujuh - Berakhir?

Proses sidang penentuan hukuman Vindra yang akan dibacakan oleh hakim sedang berlangsung. Setelah proses penyidikan, pemuda itu terbukti terlibat dalam kasus perusahaan ilegal Nero sebagai kurir obat-obatan terlarang.

Dia sudah berada di ruang sidang, di sampingnya sudah ada pengacaranya, Breezy Sinaraga. Kakak, adik, dan sahabatnya juga sudah hadir, mereka duduk di bangku pengunjung melihat jalannya proses sidang.

Semua saksi sudah dihadirkan. Mereka menjawab semua pertanyaan dari jaksa dan pengacara terdakwa.

Seminggu yang lalu, adik Rara itu hadir sebagai saksi pada sidang Nero, Jivan, dan Hardi. Dia diberi pertanyaan oleh jaksa dan pengacara yang membela. Sama seperti saksi yang dihadirkan di persidangannya, dia menjawab semuanya dengan jujur, tanpa dilebihkan.

Sidang berlangsung dengan lancar, tiba saatnya pembacaan hukuman yang akan dijatuhkan sesuai tindak pidana yang dilakukan oleh pemuda tiga bersaudara itu.

“Pengadilan Negeri kota B, nomor kasus 202-KUHP-30. Saya akan membacakan keputusan untuk terdakwa Vindra Arshaka Susilo.”

Semua pengunjung yang mengikuti persidangan, jaksa, saksi, pengacara, dan Vindra, mendengarkan dengan seksama lanjutan ucapan hakim yang akan memberitahu hukumannya.

“Berdasarkan keterangan dari saksi yang sangat terperinci dan dinilai kredibel dan objektif, serta bukti-bukti yang memperkuat keterlibatan terdakwa dalam kasus narkotika dan obat-obatan terlarang sebagai kurir yang membawa dan mengirim narkotika golongan pertama.”

Rara menggenggam tangan adik bungsunya, Melvin, saat hakim akan membaca keputusan hukuman yang akan diberikan kepada adik pertamanya.

“Sesuai undang-undang nomor 35 tahun 2009 pasal 115 ayat 1 tentang narkotika, maka dari itu keputusan pengadilan sebagai berikut, terdakwa sebagai kurir yang membawa dan mengirim narkotika golongan pertama jenis metafitamine atau sabu-sabu seberat kurang dari lima gram, dijatuhi hukuman dua belas tahun kurungan penjara.”

Kedua saudara Vindra saling bertatapan, lalu menatap Yuda yang duduk di samping Melvin, saat hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.

Pemuda pemilik gummy smile itu hanya tersenyum menatap keduanya. Dia menepati janjinya membantu adik kelasnya saat sekolah mendapatkan hukuman ringan. Jayendra juga ada di sana melihat jalannya sidang sahabatnya.

Sidang penentuan hukuman untuk Vindra sudah selesai. Hakim, jaksa, dan lainnya sudah keluar dari ruang sidang. Di luar ruangan, Rara mendekati sahabatnya.

“Yuda, terima kasih, karena hukuman Vindra bukan seumur hidup.”

Yuda mengangguk. “Kita bisa ajukan banding untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari keputusan hari ini.”

Mata Rara menyipit menatap sahabatnya. “Iya, gue tau tentang hal itu, tapi kalau selama di sel tahanan adik gue berkelakuan baik, masa tahanannya bisa dipersingkat.”

Pemuda berwajah datar itu hanya mengangguk. Matanya menatap Breezy, pengacara yang sudah membantu adik Rara itu. Dia mendekat kearahnya.

“Terima kasih udah bantu gue dan Vindra.”

Dia mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh pemuda di depannya. “Sama-sama. Sebenernya sebelum sidang, gue udah bilang ke Vindra untuk ajukan banding, tapi dia nggak mau. Dia terima semua keputusan hakim hari ini.”

“Baru aja gue mau omongin itu, tapi kalau dia nggak mau, nggak apa-apa. Lagipula keputusan hakim lebih ringan daripada prediksi kita.”

Breezy mengangguk. “Gue duluan, Yuda. Senang berkerjasama dengan lo. Kalau ada kasus lagi, hubungi gue. Gue siap bantu.”

Yuda mengangguk. “Sama-sama.”

Breezy tersenyum dan mengangguk singkat, dia berjalan meninggalkan pemuda di depannya bersama Rara, Melvin, dan Jayendra.

“Yuda, kita boleh ketemu sama Vindra sebelum dia ke Lapas?”

“Harusnya sih bisa. Kita cari mereka, takutnya mereka udah jalan ke Lapas.”

Rara hanya mengangguk. Keduanya bersama Melvin dan Jayendra mencari Vindra dan dua polisi yang menjaganya. Tak lama, mereka bertemu dengan pemuda itu di parkiran. Mereka berjalan cepat menghampirinya sebelum masuk mobil.

“Kami keluarganya, boleh kami bicara sebentar dengan Vindra?” tanya Yuda kepada dua polisi di samping kiri dan kanan pemuda bermata tajam itu.

Salah satu polisi mengangguk. “Kami beri waktu lima menit.”

Yuda mengangguk. Kedua polisi menjauh dari Vindra dan keluarganya. Pemuda itu tersenyum menatap satu persatu kakak, adik, dan sahabatnya.

“Terima kasih, Kak Rara, Melvin, Kak Yuda, Jay, udah temani aku sampai di sini.”

Rara memeluk adik pertamanya. “Kita bakalan temani dan jenguk kamu terus sampai bebas, Vin.”

“Lo harus bersikap baik di sana, biar cepet bebas,” ucap Jayendra.

Vindra tersenyum, menatap sahabatnya. “Iya. Gue nggak akan lama-lama ninggalin lo.”

Pemuda itu melepaskan pelukan kakaknya. “Kak Rara, selama aku nggak ada, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Jangan sakit. Kakak ditemani Melvin, Jayendra, sama Kak Yuda dulu.”

“Iya. Kamu juga. Jaga diri baik-baik. Makan yang bener. Kalau Kakak, Melvin, atau yang lain jenguk kamu, jangan menghindar.”

Vindra merengut. “Tadinya kalau Kak Rara, Melvin, atau siapa pun yang mau jenguk, aku nggak mau ketemu.”

Yuda memukul lengan adik Rara, yang membuatnya meringis. “Kalau lo lakuin itu, Kakak dan Adik lo pasti sedih.”

Lihat selengkapnya