Sinner

Kim Raeneul
Chapter #38

Sinner Tiga Puluh Delapan - Bebas

LIMA TAHUN KEMUDIAN

Vindra mendapatkan remisi atau keringanan hukuman, karena kelakuan baiknya selama di tahanan. Setelah menjalani lima tahun hukuman atas ketentuan dua belas tahun kurungan penjara, hari ini dia mendapatkan haknya untuk bebas.

“Vindra.”

Panggilan dari kakaknya membuat dia menoleh. Dia tersenyum melihat kesayangannya datang menjemput. Dengan langkah ringan, dia menghampiri kedua saudara dan sahabatnya. Saat sudah dekat, kakak sulungnya langsung memeluk dirinya.

“Aku kangen banget sama kamu.”

Vindra mengangguk. “Aku juga kangen sama Kakak, Melvin, Kak Yuda, dan Jayendra.”

Rara melepas pelukannya. Dia merengut dan menepuk pelan lengan adiknya. “Ih, kamu kangen sama semuanya.”

Vindra menggeleng, senyuman terlihat sampai matanya menyipit, dia kembali memeluk kakaknya. “Nggak. Aku lebih kangen sama Kakak.”

Dia menggoyangkan pelukan keduanya, hingga kakaknya tertawa pelan. Dia melepas pelukannya saat kakaknya menepuk kembali lengannya.

“Kita pulang.”

Vindra mengernyit. “Ke rumah kita yang lama?” Dia melihat kedua saudaranya mengangguk, dia mengalihkan tatapannya kearah sahabatnya. “Lo masih tinggal sama Kak Yuda?”

Jayendra memutar kedua mata malas. “Nggak. Gue nggak mau ganggu pengantin baru. Sesuai keinginan lo, gue temenin Melvin di rumah lo.”

“Lo masih boleh tinggal sama gue dan Melvin.”

Jayendra menyipitkan matanya. “Lo cenayang? Baru aja gue mau nanya gitu. Gue kepikiran beli rumah, nggak mungkin gue tinggal di rumah lo selamanya. Gue juga mau punya rumah sendiri.”

“Sebelum Kak Yuda dan Kak Rara nikah, gue saranin lo tinggal di rumah lama gue temenin Melvin. Gue nggak akan biarin sahabat gue tidur di emperan toko.”

Jayendra mendengkus, tangannya bersedekap, yang dibalas tawa pelan dari sahabatnya. “Gue masih punya duit buat bayar kosan, kalau gue nggak tinggal di rumah lo atau Kak Yuda. Selama gue masih kerja, gue bisa biayain diri gue sendiri.”

Yuda menggeleng melihat perdebatan dua sahabat di depannya. “Gue tinggal kalau kalian masih mau ngobrol di sini.”

Dia melangkah menuju pintu penumpang dan membukanya untuk Rara. “Sayang, ayo masuk. Dua bocah ini kita tinggal, biar mereka naik angkot aja.”

“Terima kasih.” Yuda hanya mengangguk. Anak sulung Darma dan Rara menoleh sekilas adik dan sahabatnya yang masih mengobrol. “Sebentar lagi makan siang. Kakak akan masak makanan spesial.”

Mata Vindra berbinar. Dia mengangguk, kedua tangannya menggandeng lengan Melvin dan Jayendra di sisi kiri dan kanan.

“Ayo kita pulang. Aku kangen banget sama makanan dan rumah masa kecil kita.”

Adik dan sahabatnya hanya mengangguk. Mereka masuk mobil Yuda. Pria yang sudah berstatus menjadi suami Rara sudah duduk di kursi pengemudi. Dia menjalankan mobilnya menuju rumah keluarga istrinya.

***

Setengah jam kemudian, mobil Yuda sudah terparkir di halaman rumah lama istrinya. Vindra bersama sahabat dan adiknya keluar dari mobil kakak iparnya. Dia menatap sekeliling rumah yang sudah lama tidak dia lihat. Rumah itu tetap sama seperti terakhir kali dia menetap.

Setahun setelah dirinya berada di sel tahanan, Yuda membeli kembali rumah dan perusahaan keluarga Rara yang sempat disita pihak bank. Dia juga melunasi semua hutang perusahaan.

Awalnya Rara menolak saat sahabatnya ingin melunasi semua hutang ayahnya dan mengambil kembali rumah serta perusahaan milik keluarga, tetapi Yuda tetap keras kepala, dan akhirnya dirinya menyetujui keinginan sahabatnya.

Rara tentu saja tidak enak, karena sahabatnya sering membantu dirinya dan keluarga. Dia mengajukan membalas semua kebaikan sahabatnya sejak sekolah.

“Kalau lo mau balas semua kebaikan gue. Ayo sama-sama belajar bangun dari awal perusahaan milik keluarga lo sampai jadi perusahaan nomor satu lagi di kota ini.”

Jawaban itu yang terlontar dari pemuda berwajah dingin dan datar saat ditanya mengenai balasan atas kebaikannya. Rara tentu saja menyetujui ucapan sahabatnya.

Rara dan Yuda yang masih awam tentang bisnis dan mengelola perusahaan, sama-sama belajar dan memulai semuanya dari awal. Kakak Melvin dan Vindra juga berhenti bekerja di kafe milik Sevyn, agar lebih fokus pada perusahaan keluarga yang sudah diambil kembali oleh sahabatnya.

Sevyn tentu saja mendukung keputusan Rara. Dia memperbolehkan gadis itu keluar dari pekerjaannya sebagai kepala koki. Dia juga memberikan bonus sebagai gaji terakhir untuk anak sulung keluarga Darma.

Melvin yang saat itu sudah lulus kuliah, mengajukan diri kepada kakak sulungnya untuk membantu di perusahaan. Tentu saja Rara sangat senang dan menerima niat baik adik bungsunya. Perusahaan itu juga milik kedua adiknya.

Tahun ketiga Rara bersama Melvin dan Yuda mengelola bisnis keluarga, perusahaan yang bergerak dibidang properti semakin berkembang. Pada tahun itu, Yuda mengajak Jayendra bergabung dan diterima oleh pemuda itu. Itu juga atas ide dari adik dan sahabat mereka yang masih di sel tahanan.

Melvin yang melihat kakak keduanya masih terdiam di teras rumah mereka, segera menghampiri. “Ayo, Kak. Masuk.”

Vindra tersentak, dia menoleh kearah adik bungsunya. Dia tersenyum saat bertatapan dengan adiknya. “Aku nggak nyangka bisa ke sini lagi.”

Lihat selengkapnya