Sinner

Kim Raeneul
Chapter #39

Sinner Tiga Puluh Sembilan - Mulai Dari Awal

Tubuh Senna mematung, menatap pemuda yang sudah lama tidak dia temui. Adik Sevyn itu tau jika pemuda di depannya sudah bebas dan kakaknya sedang bekerjasama dengan Vindra, tetapi dia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengannya.

Mata Senna mengejap saat melihat senyum dari pemuda di depannya. Banyak kata yang ingin dia ucapkan kepada pemuda itu, tetapi lidahnya terasa kelu.

“Vindra.”

Hanya menyebut namanya aja, membuat tubuhnya semakin menegang, perasaannya semakin tidak menentu. Dia tidak tau harus senang atau sedih bertemu lagi dengan seseorang yang masih ada di hatinya.

“Senna, apa kabar?”

Mulutnya terbuka saat mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar. Senna menggeleng pelan berusaha agar pikirannya tetap fokus. Dia melihat pemuda di depannya mengernyit.

“Kabar gue baik. Udah lama kita nggak ketemu. Lo ke sini mau ketemu Kak Sevyn? Kebetulan dia masih di dalam, siap-siap mau berangkat.”

Vindra menggeleng, dia menarik napas pelan. “Gue mau ketemu sama lo, tapi lihat lo udah rapi gini pasti mau pergi.”

“Iya, gue mau ke kampus.”

Vindra mengangguk. “Lo jadwal kuliah pagi?”

Belum sempat Senna menjawab, kakaknya sudah keluar. Dia melihat kakaknya tersenyum kearah pemuda di depannya. Pemuda yang sedang bekerjasama dengan kakaknya, langsung menjabat tangan pemuda lebih tua darinya.

“Pagi banget lo ke sini. Mau ketemu Senna?”

“Iya, Kak.”

Sevyn menoleh kearah adiknya. “Kakak nggak bisa anter kamu ke kampus. Kakak ada janji sama temen dan kebetulan tempat janjiannya nggak searah sama kampus kamu.”

“Nggak apa-apa, Kak. Aku bisa naik bis ke kampus.”

“Jangan. Kamu bareng Vindra aja.” Sevyn menoleh kearah pemuda di depannya. “Lo kuliah di Erlangga, kan?”

“Iya, Kak.”

Jawaban dari pemuda itu membuat Senna menoleh. Matanya membulat. Dia baru tau jika pemuda itu kuliah di kampus yang sama dengannya.

“Lo ada jadwal kuliah? Bareng aja ke kampusnya sama Senna.”

“Kebetulan hari ini nggak jadwal kuliah, tapi aku bisa antar Senna ke kampus.”

“Vin, nggak usah. Gue bisa naik bis. Gue nggak mau ngerepotin lo.”

“Senna, lo diantar sama Vindra aja.” Sevyn kembali menoleh kearah adik Rara itu. “Emang lo ngerasa direpotin kalau antar Senna?”

Vindra menggeleng. “Nggak, Kak. Kebetulan hari ini aku nggak ada kegiatan apa-apa.”

Sevyn mengangguk. “Vindra nggak ngerasa direpotin. Lagian kalau sama dia, aku nggak akan merasa bersalah sama kamu. Kakak pergi duluan.”

Senna mengangguk lalu mencium punggung tangan kakaknya. “Hati-hati, Kak.”

“Iya. Kalian juga hati-hati. Terutama Vindra, kamu jangan ngebut bawa mobilnya.”

“Iya, Kak. Kak Sevyn hati-hati.”

Sevyn mengangguk, pemuda itu melangkah ke mobilnya. Tak lama, mobil Sevyn berjalan meninggalkan keduanya. Vindra menatap Senna yang berada di sampingnya.

“Lo mau berangkat sekarang?”

Senna mengangguk. “Beneran nggak apa-apa?”

“Gue ke sini buat ketemu lo. Tadinya gue mau ajak lo jalan, karena lo ada jadwal ke kampus. Lain kali aja.”

“Kalau gitu, lo duduk aja dulu. Gue mau ambil tas dan siap-siap sebentar.” Vindra mengangguk. Dia berjalan menuju bangku yang berada di teras rumah. “Lo mau minum apa?”

“Nggak usah, Senna. Lo siap-siap aja. Gue tungguin.”

Senna kembali mengangguk. Dia berjalan masuk untuk mengambil tas dan keperluan lainnya. Tak lama, dia kembali keluar dan mengunci pintu.

“Berangkat sekarang?”

Senna mengangguk. Mereka melangkah bersama ke mobil Vindra yang terparkir di depan gerbang rumah. Gadis itu mengunci pintu gerbang dan melihat pintu penumpang sudah terbuka.

“Ayo, masuk.”

“Terima kasih.”

Senna masuk ke mobil. Pemuda itu menutup pintu mobil dan berlari kecil ke pintu pengemudi. Setelah masuk, dia langsung menjalankan mobilnya menuju kampus. Di perjalanan hanya keheningan tercipta di antara keduanya.

“Kenapa lo mau ketemu sama gue? Terakhir kita ketemu, lo bilang, nggak mau ketemu sama gue lagi.”

Pertanyaan dari gadis di sampingnya membuat Vindra menoleh. “Lo emang harus marah sama gue, karena gue udah nyakitin lo berulang kali. Gue minta maaf dan gue mau selesaikan semua masalah kita.”

“Bukannya masalah kita udah selesai, waktu lo bilang gue harus jauhin lo?”

“Kalau lo anggap kayak gitu, nggak apa-apa.”

Vindra menepikan mobilnya. Dia memiringkan tubuhnya menghadap gadis di sampingnya, pemuda itu tersenyum.

“Jadwal kelas pertama jam berapa?”

Lihat selengkapnya