Sinner

Kim Raeneul
Chapter #40

Sinner Empat Puluh - Ending

Setelah dari makam kedua orang tua Senna, Vindra mengajak gadis itu ke taman. Di taman itu banyak anak-anak yang sedang quality time bersama kedua orang tua mereka dan banyak pedagang. Mulai dari cilok, cuanki, siomay, dan jajanan lainnya di depan taman.

“Lo mau jajan?”

Senna menatap pemuda yang kini berjalan di sampingnya. “Lo gimana?”

“Gue sih mau aja. Gue lagi mau somay.”

Senna mengangguk. “Ayo kita beli.”

Vindra mengangguk, dia menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu menghampiri pedagang somay. Gadis itu harus mengantri dua orang yang berada di depannya. Tak lama, tibalah gilirannya untuk pesan.

“Bang, somaynya dua porsi. Dibungkus.” Senna menatap pemuda yang sudah berdiri di sampingnya. “Lo mau sama apa aja? Campur?”

“Iya. Campur aja.”

“Somaynya campur, Bang.”

“Siap, Neng.”

Abang penjual somay dengan sigap meracik dua porsi campur untuk kedua pelanggan barunya. Beberapa saat kemudian, pesanan keduanya sudah jadi. Abang penjual somay sudah menaruh dua porsi somay ke plastik hitam.

“Semuanya dua puluh ribu, Neng.”

Saat Senna hendak membayar, pemuda itu sudah lebih dulu memberikan satu lembar uang berwarna hijau kepada abangnya, yang langsung diambil.

“Hari ini gue yang bayar.”

Senna merengut. “Setiap hari lo selalu traktir gue. Sebagai gantinya gue bayarin minuman.”

Vindra hanya mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka berjalan ke penjual es tebu yang tidak jauh dari penjual somay.

Senna langsung memesan dua es tebu untuk dirinya dan Vindra. Antreannya tidak terlalu panjang, saat itu cuma ada satu orang yang mengantre. Dua es tebu udah siap dan gadis itu langsung membayar.

Vindra tidak mencegahnya, karena sebelumnya dia melarang gadis itu mentraktirnya, berujung Senna yang kembali menghindar. Saat ini mereka dalam proses pendekatan kembali, jadi dia tidak akan membuat gadis yang disayangi marah atau kecewa.

“Udah?” Dia melihat Senna hanya mengangguk. “Mau jajan lagi atau langsung masuk?”

“Masuk aja. Di sini nggak tempat duduk yang nyaman buat makan dan minum.”

Vindra mengangguk. Mereka masuk ke taman yang sebagian dipenuhi anak-anak bermain. Matanya menatap sebuah pohon besar dengan batangnya yang besar dan melintang.

“Senna, kita ke sana aja.”

Gadis itu mengernyit dan menatap arah yang ditunjuk oleh pemuda di sampingnya. “Kita makan di bawah pohon?”

Vindra menggeleng. Pemuda itu menaikkan alisnya. “Kita duduk di batang pohonnya sambil makan.”

Mata gadis itu membulat dan bibirnya tampak terbuka. “Vindra, yang bener aja. Emang bisa?”

“Kita nggak tau kalau nggak dicoba.”

Tangan pemuda itu menarik tangannya yang memegang kantung berisi es tebu dan somay. Dia hanya menghela napas pelan mengikuti langkah pemuda itu. Mereka melangkah ke bagian pinggir taman. Jalan yang mereka tempuh sedikit menanjak untuk mencapai pohon besar itu.

Di depan pohon besar itu, Vindra lebih dulu menaiki batang pohon besar yang posisinya melintang. Dia mengulurkan tangannya kearah Senna. Posisi batang itu tidak terlalu tinggi dengan permukaan tanah.

“Senna, bungkusan makanan sama minumnya kasih gue dulu.”

Gadis itu mengangguk lalu memberikan dua kantung berisi makanan dan minuman yang telah mereka beli kepada pemuda yang sudah duduk. Pemuda itu langsung menyangkutkan dua kantung makanan dan minuman itu ke ranting di sampingnya.

Senna yang memakai dress biru di bawah lutut memanjat batang pohon yang miring. Batang pohon miring itu menyambung dengan batang pohon melintang.

Vindra memajukan posisi duduknya dan membantu gadis itu duduk di sampingnya. Di sinilah mereka, duduk di batang pohon dengan pemandangan anak-anak bermain.

“Nggak terlalu tinggi, kan?”

Pemuda itu memberikan plastik berisi somay untuk Senna. Di tengah-tengah mereka sudah ada es tebu yang saling berdampingan.

Senna menatap dua es tebu yang ditaruh di batang pohon. “Kok bisa es tebunya nggak jatuh?”

“Bisa dong.” Vindra tertawa pelan saat melihat gadis di sampingnya memutar kedua mata malas. “Dimakan somaynya. Lo siap dengerin gue cerita?” Mata gadis di sampingnya berbinar dan mengangguk kuat. “Lo seneng banget.”

“Iya. Akhirnya rasa penasaran gue terjawab.”

“Baiklah. Gue cerita sambil makan, ya.”

Senna kembali mengangguk. Dia mendengarkan cerita pemuda itu dari mulai dia diterima di Universitas Erlangga, sampai alasan dia menenggelamkan dirinya sendiri.”

***

Vindra melangkah riang masuk halaman rumahnya. "Kak Rara, lihat aku lulus dengan nilai yang baik sesuai keinginan Kakak."

Senyuman manis yang hanya pemuda itu perlihatkan di depan Rara dan Melvin saja, terus terpatri di wajah tampannya. Adik satu-satunya yang berada di sampingnya hanya tersenyum. Pemuda itu melihat kebahagiaan kakak laki-lakinya.

Melvin sadar sifat kakaknya sudah berubah. Walaupun perubahan sifatnya hanya dia tunjukkan kepada orang lain saja, tetapi pemuda itu tau kakak keduanya lebih tertutup dibanding sebelumnya. Mata kedua adik Rara itu membulat saat mereka membuka pintu.

Rumah mereka terlihat sudah seperti kapal pecah. Kursi, meja, dan perabotan rumah sudah berantakan. Mereka mendengar teriakan kakak sulungnya dari arah kamar. Dengan langkah cepat mereka menghampiri kamar kakaknya.

Rara mencegah ayahnya mengambil semua tabungannya. "Ayah jangan! Itu uang untuk biaya kuliah Vindra dan Melvin!”

"Uang ini tidak cukup untuk membayar hutang-hutangku. Apa kamu tidak punya uang lagi?"

Rara menggeleng. Kedua tangannya berusaha mengambil uang dari tangan ayahnya. "Aku cuma punya segitu. Beberapa hari lalu aku sudah memberikan uang kepada Ayah."

Lihat selengkapnya