“Tirta… Sini lu!” James melambaikan tangan pada Corey yang baru aja selesai latihan core inti bareng coach Adi.
Corey masih keringetan dan sedikit ngos-ngosan. Dia mendekati James yang lagi pegang beberapa catatan sama pulpen. “Ada apa, Om?”
James ngulurin selembar kertas ke Corey. “Ini sponsor lu buat F4.” James mengetuk kertas yang Corey pegang.
Corey membaca kontrak sponsor itu. Dia langsung salah fokus sama perusahaan yang bakal mendukungnya. Vorstein Industries Group. Mata Corey berhenti di situ. Tangannya hampir meremas kertas. Dilihatnya James dengan tatapan curiga.
James diam sebentar sebelum akhirnya ngomong, “Iya… itu punya kakek lu.”
Corey mau merobek kertas itu tapi James keburu merebutnya. “Santai…,” kata James.
Corey mati-matian nahan napasnya biar ga memburu. Corey ga pernah tahu keluarga papanya. Yang Corey tahu, Reinhard Vorstein itu pembalap yang ga punya keluarga. Meskipun akhirnya dia tahu dari obrolan papa, mama dan keluarga besar Tirtabuana kalau kakeknya marah sama papa karena berhenti balapan. Dan sejak saat itu, mereka putus hubungan.
“Gue batal balapan,” ujar Corey kemudian balik badan pergi.
“Core… lu ga pengen hutan lu itu cepat tumbuh?” Sengaja James memanggilnya begitu.
Corey berhenti. Tangannya mengepal keras. Kalau dia ga balapan, rencana Rimbun Mandiri dan hutan kecilnya bakal terganggu.
“Seberapa jauh lu tahu tentang gue, James?” tanya Corey tanpa balik badan.
“Corey Tirtabuana… lu anak tunggal Reinhard Vorstein dan Septria Tirtabuana. Hampir bunuh diri tapi diselamatkan pacar lu—”
Corey langsung balik badan menatap tajam James. Ga ada yang tahu soal bunuh diri itu, bahkan Helen penyelamatnya pun belum pernah dia kasih tahu.
“Suka balap liar sejak SMP. Otak lu encer. Dari kecil udah dideketin sama alam, jadi sekolah di Sintas tuh cuma slice of life. Bisa tetap tenang walau nemu mayat dengan kondisi berantakan atau waktu sekarat abis jatuh dari jurang. Tapi bisa hilang fokus cuma gara-gara satu cewek, Helena Prameswari.”
“Lu siapa sebenarnya?” tanya Corey curiga.
James tersenyum. Alih-alih menjawab Corey, dia malah terus ngoceh. “Lu lanjutin NGO punya Septria dan mengganti namanya jadi Rimbun Mandiri. Lu juga tambahin misinya dengan bikin hutan mini di banyak tempat.”
“Mau lu apa, James?” Corey bergerak mendekati James.
“Lu tanda tangan kontrak ini,” James mengacungkan kertas ke udara. “Lu pikir Sintas udah berdiri berapa tahun?”
Corey cuma bisa memproses ucapan James di kepala dan mulai menebak-nebak.
“Gue alumni Sintas, Tir.”
Pupil mata coklat Corey melebar.
“Angkatan tahun 2000.”
Ga ada kata-kata yang mampu Corey ucapkan. Itu berita baru.
James akhirnya mulai cerita kalau masih kontekan dengan jaringan alumni Sintas. James masih suka galang dana dan ngajuin proposal untuk para donatur luar negeri.
Awalnya dia menghubungi Vorstein Industries cuma buat ngajuin proposal charity.