Rumah Tirtabuana selalu kelihatan sepi tapi berdiri kokoh dan angkuh. Beberapa jenis anggrek terlihat bermekaran menghias halaman rumah yang cukup besar untuk empat mobil parkir di dalamnya itu. Di pot-pot dekat pintu utama ditanami bunga mawar putih dan merah. Sebuah pohon mangga besar berdiri di pojok kiri sementara di pojok kanan pohon jambu air sedang berbunga. Halaman dihiasi oleh kembang jambu air yang berguguran.
Tante Molly sedang menikmati secangkir kopi hitam sambil membaca buku. Sesekali matanya melirik gerbang yang terbuka. Sudah pukul empat sore dan Corey belum pulang juga. Biasanya keponakannya yang yatim piatu itu sudah ada di rumah menyirami beberapa tanaman anggrek kesayangan mamanya.
Namun belakangan Tante Molly cuma melihat bi Yati yang menyiram anggrek. Dia tidak tahu Corey sibuk apa belakangan ini. Bukan sibuk mengurus RM (Rimbun Mandiri) yang jelas, karena jika itu urusan RM maka dia akan tahu sebagai salah satu pengurusnya juga.
“Bi Yati….”
Bi Yati yang sedang menyapu daun-daun melirik ke arah majikannya kemudian berteriak, “Apa, Mbak?”
“Corey kalau pulang biasanya jam berapa, sih?” tanya Tante Molly setengah teriak.
Bi Yati terdiam sejenak memeluk sapu lidinya. “Biasanya mas Corey pulang sebelum maghrib kalau weekend, Mbak,” jawab bi Yati, masih teriak.
“Kalo hari biasa?”
“Udah dua minggu ini hari biasa gak pulang, Mba.” Setelah memastikan majikannya tidak akan memberi pertanyaan apapun lagi, tangan bi Yati kembali mengayunkan sapu lidi.
Tante Molly mendesah panjang. Gak pulang? Dua minggu? Apa iya dia terlalu sibuk sampai gak sadar kalau Corey jarang pulang? Apa Corey mulai rajin naik gunung lagi?
Apapun jawabannya, dia ingin segera bertemu keponakannya itu. Sebuah surat yang datang pagi ini membuat hatinya gelisah. Matanya bergerak melirik kertas di meja dan kopi dalam cangkir.
Kemudian setelah menatap kertas itu lama, diambilnya kertas itu dan dibacanya lagi pelan. Itu adalah dokumen yang menyatakan perubahan nama dan kewarganegaraan Corey.
“Gak masuk akal! Kenapa anak itu ga bilang dulu, sih?” Tante Molly membanting kertas-kertas itu ke meja.
Saat itulah sebuah skuter putih memasuki gerbang. Corey memarkirkan motornya di garasi dan membuka helm. Wajahnya kelihatan capek banget. Sambil memegang helm, dia menghampiri tantenya untuk mencium tangan kanannya.
“Dari mana kamu?” tanya tante Molly sambil merhatiin Corey dari atas ke bawah.
“Dari… latihan, Tan,” jawab Corey. Dia berusaha tersenyum kecil meski badannya udah ingin segera rebahan di kasur.
“Duduk!”
Corey nurut. Dia duduk di hadapan tantenya yang jelas banget terlihat ga senang. Dipeluknya helm ke pangkuan.
“Kamu latihan apa?” tanya tante Molly. Nadanya santai tapi penuh penekanan.
Corey tahu pasti kalau tantenya sudah mulai curiga. Dan sepertinya memang ia sudah ga bisa menutupinya lebih lama lagi. Corey baru aja mau buka mulut tapi keduluan tantenya.
“Latihan apa yang sampai perlu ganti nama dan ganti kewarganegaraan?” cecar tante Molly sambil menuding kertas di meja.
Corey melirik kertas dan tahu benar apa itu. Dia menunduk dalam.
“Keputusan segede ini kamu ga bilang dulu sama tante?” suara tante Molly sedikit naik tapi sangat terlihat kalau wanita itu menahannya agar tidak lebih tinggi.
“Tan—”
“Core! Kamu mau tinggal sama keluarga papa kamu, tante gak akan ngelarang. Kamu mau pakai nama Vorstein juga tante gak akan ngelarang kamu. Itu hak kamu. Itu keluarga kamu juga. Tapi kenapa, sih, hal segede ini kamu bisa-bisanya gak melibatkan tante?” Kali ini suara tante Molly benar-benar lepas. Bi Yati yang lagi nyapu aja langsung kaget dan menoleh.
Corey menahan napas. Diberanikan dirinya untuk mengangkat muka melihat tantenya. Mata Corey jelas menangkap kekecewaan yang dalam di wajah tantenya.
“Maafin aku, Tan….” Cuma itu yang sanggup Corey katakan saat itu.
Seketika suasana hening. Cuma terdengar suara gesekan sapu lidi yang diseret-seret bi Yati.
Tante Molly memijat-mijat keningnya. Dia masih sangat muda ketika harus menjadi wali Corey. Usianya saat itu baru dua puluh tahun dan terpaksa harus mengasuh bocah empat belas tahun yang sekarang duduk di hadapannya.
Seluruh keluarga Tirtabuana sepakat memulangkan Corey ke keluarga papanya, kecuali Molly. Karena dia tahu kalau keluarga Vorstein tidak akan menerima keponakannya yang malang. Dan karena dia tahu kalau kakaknya ingin Corey masuk Sintas. Jadi, dengan nekat dia mengambil tanggung jawab yang tidak mau ditanggung oleh Tirtabuana.